Persiapan Setahun Kalah oleh Persiapan Sehari

Minggu, 12 April 2020 - 15:43:09 WIB - Dibaca: 6411 kali

()

Jambione.com, MINGGU pagi yang indah. Cuaca benar-benar cerah. Sungguh hari yang sempurna untuk menggelar acara pernikahan yang sudah direncanakan sejak satu setengah tahun lalu.

Urut-urutan acara untuk hari Minggu lalu (5/4) itu pun telah disusun matang. Dimulai dengan akad di pagi hari, dilanjut dengan garden party pada sore menjelang malam. Semua persiapan sudah klir. Saya sudah membayangkan menjadi princess sehari.

Tapi, semua angan-angan itu ambyar seketika. Princess kehilangan kereta kuda dan gaunnya bahkan sebelum pukul 12 malam…

Kalau ada yang bilang manten perempuan bisa kena bridezilla beberapa pekan sebelum hari pernikahan, saya tidak merasakan itu. Rasanya lebih dari bridezilla karena benar-benar gila! H-2 pekan saya dibuat ngenes karena pandemi Covid-19 di Indonesia ternyata makin menjadi-jadi.

Terlebih setelah Polri merilis larangan untuk mengadakan resepsi selama pandemi. Saya galau. Rasa sedih akibat diselingkuhi atau diputusin sepihak enggak ada apa-apanya dibanding ini. Serius.

Mau dibatalin kok rugi, tapi mau lanjut nanti digerebek Pak Polisi. Rasanya kok gini banget. Sempat berpikir, ”Masak iya sih saya disuruh Tuhan pikir-pikir lagi buat nikah?” Hehehe.

Setelah melewati tangis dan drama, akhirnya kami memutuskan untuk menunda resepsi. Kemudian, menggantinya dengan akad saja di masjid terdekat. Saya langsung menghubungi wedding organizer (WO).

Beruntung, semua vendor mau mengerti. Sementara saya gercep menghubungi masjid perumahan terdekat. Tidak lupa makeup artist, vendor dokumentasi, dekorasi, dan KUA (kantor urusan agama).

’’Bodo amat lah walau cuma akad aja. Yang penting sah dan dokumentasinya bagus buat kenang-kenangan seumur hidup,’’ pikir saya waktu itu. Semua beres dalam waktu sekitar H-1 pekan.

Saat itu masjid mengizinkan maksimal 50 orang yang boleh hadir asal pihak kami mau menyediakan masker, hand sanitizer, dan menjaga jarak. Saya ingat betul sehari sebelum pernikahan.

Pagi itu saya mendapat kabar bahwa akad nikah tidak boleh dilakukan di luar KUA. Saya dan calon suami shock. Saya langsung minta nomor ponsel penghulu dari pihak KUA. Saya ngomel. Penghulu bilang dia repot dan bingung. Kalau Pak Penghulu membaca tulisan ini, saya mau sekalian minta maaf…

Saya tidak menyalahkan keputusan itu. Tapi, saya kecewa dengan pemberitahuan yang sangat mendadak. Saya cek Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor P-003/DJ.III/HK.00.7/04/2020 tentang Protokol Penanganan Covid-19 pada Area Publik dan Protokol Penanganan Jenazah dirilis pada 2 April. Sedangkan saya baru diberi tahu kurang dari 24 jam sebelum akad berlangsung.

Singkat cerita, kami mau melangsungkan akad di KUA. Tapi, kami tetap menyiapkan dekorasi di masjid karena sudah telanjur lunas. Rencananya, setelah akad bisa langsung ke sana untuk mendengarkan ceramah pernikahan, pengajian, dan tukar cincin saja.

Tapi, ternyata ”badai” belum selesai, Pemirsa. Sabtu malam (4/4), sekitar pukul 20.00, saat saya lagi asyik siap-siap, tiba-tiba ada chat dari takmir masjid. Intinya, menyampaikan bahwa mereka khawatir dengan adanya keramaian di masjid. Sebab, masjid sudah ditutup untuk kegiatan salat berjamaah sejak sekitar sepekan sebelumnya.

Saya yang kaget langsung datang ke masjid bersama ayah saya. Naik motor berdua sambil gerimis. Sampai di sana vendor dekor yang saya pesan sudah datang.

Mereka memang mau menata dekorasi H-1 malam hari. Saya minta mereka menunggu sembari saya bernegosiasi dengan pengurus masjid. Akhirnya diputuskan bahwa kegiatan di masjid batal. Vendor dekor juga dibatalkan.

Ya, sudahlah. Saya berusaha legawa untuk kali kesekian. Memang sudah takdirnya melakukan pernikahan sesederhana mungkin. Malam itu semua urusan baru selesai dini hari, pukul 01.00.

Pukul 03.00 saya sudah harus bangun untuk make-up. Pukul 08.00 tepat saya tiba di KUA. Sudah siap dengan kebaya putih yang dipadukan dengan kain songket dan veil putih. Sedangkan calon suami siap dengan jas hitam dan peci.

Rupanya di sana sudah ada calon pengantin yang melangsungkan akad terlebih dulu. Kami menunggu sebentar sebelum akhirnya masuk ke ruangan kantor yang cukup kecil.

Hanya sepuluh orang yang boleh masuk. Termasuk penghulu, orang tua, dan fotografer. Semuanya wajib memakai masker dan sarung tangan karet. Tidak sampai setengah jam kemudian saya resmi menjadi istri orang.

Rasanya gimana? Pengin terharu, tapi kok enggak bisa. Mungkin otak saya sudah sedikit error dan air mata sudah habis akibat drama sebelumnya. Enggak apa-apa, yang penting ”Sah!”.

Cerita ini tidak dialami saya sendiri. Ada banyak sekali teman saya yang juga melangsungkan pernikahan di bulan ini. Semuanya juga punya keribetan masing-masing.

Nanti bisa jadi cerita ke anak-anak kami. ’’Nak, dulu mama papa mau nikah di tengah pandemi, ribet banget. Semoga nanti giliran kamu Bumi sudah sembuh dan semua kembali normal.’’ (*/c10/ttg)

Sumber: JawaPos.com




BERITA BERIKUTNYA