Oleh: Novpriadi, S.Pd.I

Tradisi Mandi Ka Aek Kelurahan Sungai Bengkal, Tebo

Jumat, 09 Oktober 2020 - 00:30:25 WIB - Dibaca: 393 kali

()

JAMBIPRIMA.COM, TEBO - Tradisi Mandi ka Aek dilakukan pada saat usia bayi 7 hari atau setelah lepasnya tali pusat sang Bayi.

Tradisi ini juga dikenal dengan istilah nyebur.

Perilaku ini telah ada turun temurun dilakukan Masyarakat Kelurahan Sungai Bengkal, Kecamatan Tebo Ilir dari Zaman dahulu.

Bayi di gendong oleh seorang Dukun yang telah membantu proses kelahiran sang bayi.
Dengan menggunakan Kain Panjang bayi Digendong menuju sungai Batanghari lengkap dengan arak dan iringnya didampingi keluarga besar dari pihak ayah dan ibu.

Mengawali perjalanan bayi dan sang dukun pada barisan terdepan dibawa Tunam sesuatu yang dibungkus oleh kain hitam yang berisi Sabut tebenam,ijuk tebenam, mancung kelapo dan tulang tebenam serta kemenyan.
Tunam ini dibakar agar mengepul asapnya sebagai pembuka jalan.

Sesampainya di sungai juga telah disiapkan Baskom yang berisi air dengan campuran kembang 7 Rupa, paku, besi, batu, sirih masak, kencur, jeringau dan Bunglai.

Sebelum bayi diturunkan ke air sungai Batanghari maka sang Dukun membaca mantra mudik Aek Ilir Aek
Ambek Aek pepat an Batang
Beranjak kau antu Aek
Aku nan Mandian anak cucu Adam

Secara berurutan dimandikan dengan air sungai, lalu air Kembang terakhir ditiupkan kencur jeringau.

Lalu bayi dipakaikan handuk dan berpakaian hingga kembali dibawa kedalam Rumah untuk selanjutnya diayun kain panjang tiga lembar dibentangkan pada ujung kiri dan kanan dipegang oleh perwakilan keluarga selanjutnya bayi diayun dan dikelilingi asap Tunam dibacakan salawat nabi dan doa doa keselamatan bagi bayi
Terakhir arang hitam tunam digosokkan ke dahi bayi. (*)

Sumber: Nyai Aminah




BERITA BERIKUTNYA
loading...