Oleh : Mawardi, S.Pd

PERANG KEMERDEKAAN di SUNGAI BENGKAL

Selasa, 10 November 2020 - 21:33:57 WIB - Dibaca: 858 kali

()

JAMBIPRIMA.COM, TEBO - Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, di segenap pelosok tanah air, semua serentak menyambut dengan perasaan suka cita yang tidak dapat dilukiskan dengan kata- kata. Betapa tidak, sebagai pemuda, Indonesia yang tadinya bernama Hindia Belanda lalu berganti nama menjadi Indonesia. Yang tadinya berkibar bendera merah-putih-biru berganti menjadi merah-putih. Yang tadinya berbahasa Hollan Spreken lalu berganti menjadi Bahasa Indonesia.

Tahun 1939, Kami di sekolah diajarkan lagu Indonesia Raya, mendengar lagu dan syairnya membuat bulu roma berdiri, rasa harga diri bangkit. Ingatan kembali kepada cerita nenek moyang , perang Sultan Thaha, perang Raden Mattaher, Perang Raja Batu melawan Belanda dalam daerah jambi. Mereka menceritakan ketangkasan dan kesaktiannya menggunakan persenjataan keris, pedang dan tombak dalam melawan Belanda yang disebut kaum kafir. Siapa saja yang mati dalam perang melawan Belanda maka matinya mati syahid, begitulah keyakinan yang tertanam di kalangan pejuang.

Pada tanggal 22 Agustus 1945, oleh Bapak Yoyong Muara Tebo dibentuk Barisan Pemuda Republik Indonesia di Sungai Bengkal dengan susunan :

- Ketua : Mahyudin
- Wakil Ketua : M. Thaib Azis
- Sekretaris : Nur Suud
- Keamanan : 1. H. Zen bin H. Hasan (Kepala)

2. Panglima M. Yusuf Gelopok (Anggota)

3. Panglima Mael (Anggota)

4. Panglima Siamid ( Anggota )

- Pasukan :
1. Panglima M. Akel dengan anggota 30 orang pemuda.

2. Panglima Razali dengan anggota 30 orang pemuda.

3. Panglima Mat Nusi dengan anggota 30 orang pemuda

- Persenjataan: Keris, Pedang dan Tombak

- Pakaian : Peci tajam, tanda merah putih selebar 2 x 3 cm dan pada baju ada tanda merah putih selebar 2 x 5 cm di dada sebelah kiri

- Markas : Sebuah Toko di Pasar Sungai Bengkal

Untuk menjaga keamanan dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR) di tiap-tiap Provinsi. Pemerintah Provinsi Sumatera dikepalai oleh Gubernur Tengku M. Hasan yang berkedudukan di Bukit Tinggi. Pemuda-pemuda bekas Heiho, Kaigun dan pemuda2 yang berada di dusun- dusun masuk anggota BKR yang merupakan kekuatan bersenjata meskipun berupa keris, pedang dan tombak.

Pada waktu itu Tentara pendudukan Jepang masih berada di Jambi menjelang senjatanya dilucuti oleh tentara sekutu. Disamping itu Jepang juga harus berhadapan dengan rakyat Indonesia yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya. BKR dan badan perjuangan serta rakyat Indonesia bergerak untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang. Para pemuda yang pada masa pendudukan Jepang sudah terlatih untuk mempertahankan tanah air sehingga pada umumnya para pemuda kita sudah terlatih berperang.

Semua persenjataan pusaka dan sakti dikeluarkan oleh para pejuang untuk menjaga keamanan. Markas dijaga dengan senjata tombak, ronda kampung dilakukan dengan sangat ketat, semua orang yang masuk kampung dicurigai, begitulah keadaan pada waktu itu.

Pasukan dilatih oleh orang- orang yang pernah mengikuti latihan Heiho, Kaigun, dan organisasi bentukan Jepang lainnya. Semangat (Seising ) yang diajarkan Jepang betul- betul membuat kita bersuara seperti Harimau serentak menghunjamkan senjata kepada musuh, sungguh hebat.

Tidak lupa setiap anggota memiliki azimat perang yang dibekali oleh Nenek dan Datuk baik berupa ayat- ayat Al- Quran maupun kemenyan dari keramat Sayang Terbuang ditambah semangat Nenek Datuk yang pernah menyerang Belanda membuat hati bertambah panas, apalagi mengenang yang gugur dalam melawan Belanda.

Pasukan mengunjungi dusun- dusun memberi penerangan ke pemuka- pemuka rakyat setempat bahwa kita sudah merdeka, tegakkan bendera merah putih. Namun memang ada yang belum mengerti keadaan bahwa mereka masih bertanya- tanya “mana yang merdeka ??”dan “mana senjata??”. Malah ada penduduk yang memasang bendera Inggris, ada juga memasang bendera China yang disebabkan mereka belum tahu kita sudah merdeka.

Pasukan memerintahkan “Turunkan bendera asing itu!!, kalau tidak rumah kamu akan dibakar habis !!!”. Ada orang tua yang menggerutu “ Bagaimana mau merdeka, Jepang dan Belanda punya penyakit jauh” (maksudnya punya senjata yang membunuh dari jauh) sedangkan kita jarak 1 meter baru bisa membunuh. Kita tidak mengerti mengapa pemuda- pemuda begitu berani menghadapi senjata musuh. Hanya bersenjatakan semangat semboyan “Merdeka atau Mati”. Jika bertemu kawan selalu mengucapkan “merdeka!!” dan dijawab “merdeka” pula.

M. Thaib Azis- Wakil Ketua PR 1 adalah cucu Panglima Bahar Kutung yang tewas oleh Belanda pada 1916. Begitu juga H. Zen- Kepala Keamanan merupakan cucu Kedemang Bakar yang dibuang Belanda ke Nusa Kambangan yang menyerang Belanda pada tahun 1916. Tidak kurang 12 orang Panglima yang gugur dan 12 orang dibuang ke Nusa Kambangan, Ternate dan Digul. Itulah yang terjadi di wilayah keasisten demangan Tebo Ilir dalam perang Raja Batu th 1916 disamping banyak lagi dubalang- dubalang yang gugur tidak diketahui namanya.

Pada umumnya di daerah Jambi sejak Belanda berkuasa atas kesultanan Jambi, tidak ada organisasi politik yang masuk ke Jambi secara resmi. Namun demikian karena terdorong oleh perasaan benci kepada Belanda maka rakyat bersikap tidak mau bekerjasama dengan Belanda misalnya : rakyat tidak mau menyekolahkan anaknya ke Sekolah Desa ( Sekolah Belanda ) karena dianggap antek Belanda sehingga para orangtua menanamkan sikap kepada anaknya agar membenci Belanda, bahkan pakaian yang menyerupai Belandapun seperti Sepan panjang (celana panjang), rambut panjang, pakai topi pokoknya semua hal yang menyerupai Belanda tidak boleh ditiru walaupun sekedar bersiul saja. Begitu bencinya rakyat terhadap Belanda. Anak- anak hanya boleh sekolah di Madrasah saja (sekolah agama).

Pada akhir 1945 laskar Aceh datang ke Jambi untuk membantu mengusir Belanda yang masih ada di Bajubang. Sebelum berangkat dari Sungai Bengkal diadakan persiapan perbekalan makanan untuk sejumlah 60 orang laskar. Oleh Tuan Guru Zahrudin memberi arahan kepada rakyat untuk rela mengorbankan harta benda dan jiwa raga untuk melawan Belanda dan Jepang. Persenjataan pasukan kita sebagian diperoleh dari milik Jepang yang berhasil direbut.

Pemerintahan Republik yang berada di Jambi dikepalai oleh seorang Residen bernama Rd. Inu Kertapati (Cucu Sultan Thaha). Sementara di Sungai Bengkal untuk menghadapi segala kemungkinan, di Sungai Bengkal ditempatkan satu unit seksi III Kompi II Pasukan Tentara Republik Indonesia (TNI) yang dipimpin oleh Letnan Muda Syukur dengan anggota- anggota Sebagai berikut :
1. Bakri : Sersan
2. Ismail : Sersan
3. Ramli : Sersan
4. Chaidir Saad : Sersan
5. H. Muhammad : Sersan
6. M. Yasir : Kopral
7. Rahmad : Kopral
8. Ismail Hodeng : Kopral
9. Ismail Guru : Kopral
10. Ma’ruf : Kopral
11. Abdullah : Kopral
12. Pawiro : Prajurit
13. Umar : Prajurit
14. Bakri : Prajurit
15. Sani : Prajurit
16. Mahbuk : Prajurit
17. Bakar Mulya : Prajurit
18. Husin Rivai : Prajurit
19. Husin : Prajurit
20. Abdullah Kahar : Prajurit

Induk Pasukan ini berada di bawah Kompi II Garuda Putih bermarkas di Muara Tebo Pimpinan Letnan Satu Ramli Umar dari Kesatuan Sub Sektor 1001/STD. Perlu disampaikan bahwa Letnan Ramli Umar ini orangnya gagah, kalau ber uniform (berseragam tentara) persis seperti Opsir (perwira) Belanda, orangnya putih tidak kalah dengan opsir Belanda. Nah kalau Letnan Syukur orangnya sedikit pendek perawakannya bulat kekar seperti opsir Jepang apalagi saat masih menjadi opsir kaigun Jepang pakai pedang samurai yang panjang, wah mirip dengan opsir asli Jepang. Disampig itu dia berwibawa, tegas dan ramah dengan siapa saja, dia juga taat pada agama (terakhir menjadi Bupati Sarolangun Bangko). Beliau disegani anak buahnya. Pergaulan anggota pasukannya dengan rakyat sangat akrab. Kalau tiba masa menuai padi mereka ikut menuai padi. Kalau masa menanam padipun mereka ikut baselang nugal kecuali yang bertugas di Pos jaga dan Markas.Kalau baselang nugal ada hiburan joget (tari-tarian dan senandung Melayu). Anak buah Letnan Syukur semua hebat berjoget kecuali Kopral Ma’ruf (orang Betawi) dia bisa ala ronggeng. Lain lagi dengan Prajurit Bakar Mulya (orang Melayu) lebih suka lagu2 melayu. Kalau yg orang Bungo tidak ketinggalan Pisang Kayak dan tari tauh. Jangan dikira Letnan Syukur tidak bisa menumbuk padi, malah ikut menumbuk padi bersama para gadis2 dusun, orang bilang kalau pak Syukur menumbuk cepat ceruk (menjadi beras). Begitulah akrabnya TNI bersama rakyat.

Pada 1948 terjadilah aksi militer Belanda ke 2. Pasukan Seksi III Kompi II diganti dengan pasukan seksi II kompi II yang dipimpin Letnan Aziz S.T Larose yang dikenal dengan “Pasukan Sayang Terbuang” dengan anak buahnya :

1. Daud Hasan : Sersan
2. Harun : Sersan
3. Hamid : Sersan
4. A. Nasrun : Sersan
5. Majid : Sersan
6. Mansur : Sersan
7. Dolah Gilo : Kopral
8. Ahmad. K : Kopral
9. Yahya : Kopral
10. Ismail Tobing : Kopral
11. Mat Kuaci : Kopral
12. Mat Taam : Kopral
13. Munir : Kopral
14. Daud : Kopral
15. Musa : Prajurit
16. Syam : Prajurit
17. M. Nur : Prajurit
18. Suratman : Prajurit
19. Idrus : Prajurit
20. Abdullah kahar : Prajurit

Pimpinan Front Batanghari Area :
-Komandan : Letnan Satu Hasyim
-Staf : - Letnan Muda Marjono
- Sersan Mayor Idris
- Sersan Mayor Sumardi

-Dengan komandan Sub Sektor 1001/STD : Act. Letnan Muda Marjono
-Komando Keamanan Marga (KKM) : Sersan Mayor Muhtar Ishak
-Pelatih : Sersan Mat Jais

Dengan Surat Ketetapan Komandan Sub sektor 1001/STD tanggal 23-4-1949, dibentuk Pasukan Gerilya dengan pimpinan Ramli Ibrahim sebagai Kepala Pasukan dengan anggota 30 orang :

1. Yusuf Jani : Kepala Regu 1
2. Bakar Derani : Anggota
3. M. Siaji : Anggota
4. Saleh Maasik : Anggota
5. Umar Usman : Anggota
6. Yusuf Si Ali : Anggota
7. Awi Syukur : Anggota
8. Awi H. Husin : Anggota
9. Ahyat Saleh : Anggota
10. Saman Kasim : Anggota
11. Bujang Jurutulis : Anggota
12. Dolah Barudin : Anggota
13. Jalil Siaji : Anggota
14. Nur ST Mahmud : Anggota
15. Hasan Kasim : Kepala Regu 2
16. Ishak Tais : Anggota
17. Dolah Jayo : Anggota
18. Samad siamid : Anggota
19. Usman Derani : Anggota
20. Bujang Padang : Anggota
21. Saleh Jani : Anggota
22. Amat Jayo : Anggota
23. Ismail Syukur : Anggota
24. Hasan Hasim : Anggota
25. Ali Derani : Anggota
26. Sidik Saleh : Anggota
27. Jamaludin ahmad : Anggota
28. Juri Kafi : Anggota
29. Daud Nadli : Anggota

Tugas Pasukan gerilya :
1. Menghalangi pasukan musuh yang hendak bergerak dari segala sudut
2. Menghalangi segala hal yang menghubungkan dan menguntungkan musuh
3. Membatasi provokasi musuh dan mengawasi spion – spion (matamata) musuh
4. Mengadakan penjagaan kampung dengan serapi rapinya siang dan malam
5. Dilarang mengganggu hak milik rakyat atau bangsa asing dengan sewenang2.

Pada aksi Militer Belanda ke 2 ini Pemerintah Kecamatan masih tetap Raden Ateng sebagai camat perang dengan dibantu Nur Suud sebagai juru tulis, Wakil pasirah H. Ismail, Juru tulis pasirah Hasan Kasim dan beberapa Polisi Marga. Kepala dusun Sungai Bengkal Ngebi H. Husin dan Mangku Daud serta Penghulu Mudo M. Akel.

Hubungan Pemerintah Kecamatan Marga dan pasukan dengan rakyat cukup akrab sehingga segala masalah, hambatan dan rintangan dalam perjuangan dapat diatasi dengan permusyawaratan. Pada waktu itu pegawai pemerintah Kecamatan dan Marga, dusun dan pemimpin2 pasukan tidak mengenal gaji atau penghasilan, yang penting semua berjuang untuk bangsa dan negara. Sungai Bengkal adalah pusat tempat yang strategis dalam mengatur siasat gerilya dan menyusun kekuatan. Sungai Bengkal lintasan setiap pasukan TNI yang bergerilya. Sebagai tempat penghubung setiap pasukan yang berpisah dari induk pasukannya. Seperti Pasukan Selendang Merah dari Kuala Tungkal menuju Sungai Bengkal melalui jalan setapak tungkal ulu (Merlung ke Lubuk Kambing), lalu pasukan Letnan Lubis dari durian luncuk melalui jalan Tabir ke pintas menuju Sungai Bengkal. Begitu juga pasukan front perjuangan rakyat muara siau bangko dan Rantau Ikil Muara Bungo.

Suplai bahan makanan diperoleh dari bantuan rakyat setempat dimana pasukan tsb berada. Kesatuan rakyat dan pasukan TNI merupakan pertahanan yang tidak mudah untuk dirobohkan. Peristiwa yang tidak mudah dilupakan saat agresi militer Belanda ke 1, dimana sebuah pesawat Belanda menyusuri Sungai Batanghari melakukan penembakan ke beberapa tempat dari udara di sepanjang sungai Batanghari antara lain sebelah ilir Sungai Bengkal. Kapal Selendar mendapatkan tembakan mitraliur sehingga seorang anggota TNI Letnan Chatib gugur dan seorang pemuda Sungai Bengkal bernama Husin bin Seman luka parah karena peluru bersarang di punggungnya. Pesawat ini terbang sangat rendah sersan Daud dan Ramli Ibrahim yang berada di sungai Temontan (Kemantan) mencoba menembaki dengan senjata berat AAC tapi sia-sia. Akhirnya dapat kabar pesawat tsb jatuh di daerah merlung (tungkal).

Pada aksi militer Belanda ke 2, Belanda menyerang ibukota RI di Jogjakarta dan sepuluh hari kemudian menyerang Jambi dari udara dan laut sehingga serentak seluruh pejuang mengadakan perlawanan sengit yang menyebabkan gugurnya Mayor Marzuki, Kapten A. Bakarudin, Letnan Simatupang,Letnan Bahar Mahyudin, Letnan Bahrun, serta 10 orang prajurit. Oleh pemerintah militer dan sipil, diambil kebijakan Bumi hangus dan sabotase. Jadi walaupun Belanda dapat menduduki kota Jambi, namun pemerintahannya tidak dapat berjalan karena ada gangguan dari pejuang dari perang gerilya. Belanda hanya menduduki kota sedangkan daerah lainnya dikuasai para Pejuang Indonesia yang menjadikannya kantong2 gerilya.

Semua pasukan dibawah pimpinan Kolonel Abunjani melanjutkan perjuangan dari luar kota Jambi yaitu daerah Kuala Tungkal, Front Durian Luncuk, Front Batanghari Area Sungai Bengkal, Front Muara Siau, Sikancing Bangko, Front Rantau Ikil Muara Bungo. Seluruh pelosok bergerak mengadakan sabotase pemutusan hubungan lalu lintas darat.

Di Sungai Bengkal yang merupakan Front Batanghari Area, rakyat dan pejuang menghancurkan jembatan dan merobohkan kayu ke jalan untuk menghalangi jalur darat yang dilalui kendaraan musuh. Front Batanghari Area merupakan front terdepan di bawah pimpinan Letnan Satu Hasyim ysng menempatkan pasukan Sayang Terbuang yang dipimpin Letnan Azis ST Larose yang berhadapan langsung dengan pasukan Belanda. Seluruh pertahanan kita diperkuat dengan bantuan seluruh rakyat. Senjata yang kita miliki berasal dari Tentara KNIL yang pro Republik.

Beberapa kali pasukan Belanda mencoba menerobos front Sayang Terbuang, tapi Pasukan ini dapat bertahan. Pasukan Letnan Azis Larose mengadakan penyerangan di malam hari secara gerilya, selama terjadi bentrokan senjata dengan pasukan Belanda, hanya seorang Kopral Yahya yang gugur. Pasukan Belanda pernah mengatakan bahwa pasukan Sayang Terbuang sangat banyak sehingga mereka tida berani menerobos pasukan ini. Pernah terjadi suatu ketika malam gerilya Kopral dolah gilo kehabisan peluru dan disuruh mundur tapi malah berlindung dibalik pohon yang tumbang dalam kegelapan sedangkan pasukan Belanda hanya berjarak 10 meter saja, Namun Belandapun tidak berani mendekat. Lalu ada lagi Sersan Daud seorang penembak jitu yang selalu berani mengganggu patroli Belanda dimanapun bertemu, meski peluru hanya 10 butir. Memang pasukan Sayang Terbuang terkenal keberaniannya, seolah2 perang ini hanya permainan saja bagi mereka meski menantang maut. Mungkin karena Sikap komandan Letnan Azis yang murah senyum saat menghadapi kesulitan selalu tabah sehingga anak buahnya demikian juga. Biarpun 3 hari tidak makan tapi di front dia masih tetap tersenyum

Disamping peristiwa menegangkan ada juga lucunya,, suatu ketika Sersan harun dan Kopral Dolah gilo sudah beberapa hari tidak mandi, lalu pergi ke sungai dengan hanya pakaian dalam saja (kolor) namun senjata tetap di tangan, maklumlah rawan bertemu musuh. Tiba-tiba dari seberang sungai muncul serdadu Belanda. Untung saja Belanda tidak mengira yang mandi itu adalah Tentara RI. Lalu dengan gugup kedua pejuang ini cepat2 naik dengan merayap hanya dengan pakaian dalam saja...akhirnya ditertawakan para penduduk yang melihat mereka..Begitulah keadaan yang serba darurat namun perang gerilya berjalan terus hingga disepakati perjanjian Renville dan gencatan senjata.

Pada bulan Nopember 1949 Belanda melanggar perjanjian dengan memasuki wilayah Republik dengan 6 buah motor pompong dan sebuah kapal bernama “Juliana” berkekuatan 500 orang pasukan dengan maksud menjajah kembali Indonesia. Dengan taktik bumi hangus para pejuang melakukan pembakaran gudang makanan, kantor camat, kantor pasirah semua dibakar. Pasukan Belanda tidak berani mendekat, jam 17.00 barulah Belanda dapat mendarat dengan mengerahkan seluruh pasukannya tapi mereka tidak mendapatkan apa apa, karena pasukan kita sudah mundur ke Belakang dusun Sungai Bengkal kemudian Sialang Tenggeris, Sungai Aro kami menunggu di seberang sungai Batanghari. Belanda akhirnya pindah ke Muara Tebo selama 1 bulan. Sementara di Den Haag, Belanda tercapai lagi kesepakatan KMB (Konferensi Meja Bundar) bahwa Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Di Sungai Bengkal lalu diadakan pertemuan TNI dengan Misi Militer Belanda yang bertempat di muka rumah mandor Berahim Kemantan, Bendera merah- putih kemudian berkibar di tiap rumah, pinggir sungai dan jalan yang dilalui.

KEMERDEKAAN TETAP KITA MILIKI, SEMUA PASUKAN KEMBALI KE MARKAS MASING-MASING DARI DAERAH KANTONG GERILYA.

Catatan: Dengan beberapa perubahan judul, ejaan dan kosakata

Sumber : 

1. Naskah asli Datuk Ramli Ibrahim dan beberapa catatan anggota ex pasukan sayang terbuang.

2. Sejarah perjuangan jambi 1945-1949 





BERITA BERIKUTNYA
loading...