Penulis: Meliana Damayanti dan Dr. Ervan Johan Wicaksana., S.Pd., M.Pd., M.Pd.I

AKU BUKAN SAMPAH DIDESA MAJELIS HIDAYAH

Kamis, 19 Agustus 2021 - 15:24:47 WIB - Dibaca: 306 kali

()

JAMBIPRIMA.COM - Kehidupan, bumi beserta penghuninya serta manusia sedang merasa paling sempurna, beretika, berlogika, berkeyakinan serta berp-engetahuan namun berprilaku buruk kepada alam. Lalu bagaimana kehidupan generasi berikutnya, uang hanyalah materi perantara yang mungkin di anggap Tuhan, udara dengan oksigennya, air tanah dengan mineralnya di cemari seenaknya hanya dengan dalih mempertahankan hidup.

Keberlangsungan hidup bergantung pada sumber daya alam. Manusia mampu menciptakan apa yang ia butuhkan namun ia lupa bahwa semua yang diciptakan berasal dari sumber daya alam. Sandang, pangan, dan papan merupakan kebutuhan dasar manusia maka tak dapat di pungkiri bahwa dari masing-masing kebutuhan tersebut memiliki dampak bagi alam contohnya adalah penggunaan plastic. Semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat, maka akan semakin bertambah pula sampah plastik yang dihasilkan.

Seiring keberlangsungan zaman, manusia berkembang dengan ide-ide gemerlang, menggunakan plastik dengan dalih agar lebih praktis tanpa tau apa yang terjadi pada kehidupan berikutnya. Plastik bukan solusi untuk kepraktisan, plastic akan menjadi pandemic karena di perkirakan  membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna, Lalu apa yang akan terjadi di kehidupan mendatang? Sebelum kita mewarisi sampah plastic dengan mentah-mentah ke anak cucu kita hendaknya memulai untuk sadar akan bahaya ssampah plastic dengan memikirkan ide dan solusi untuk mengolah sampah plastic menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan sehingga kita mampu untuk hidup berdampingan. Di awali dengan kesadaran diri melalui tekad dan niat, kita pastinya mampu untuk mengurangi penggunaan plastic, dalam hal ini penulis mencoba menawarkan solusi untuk pemanfaatan sampah plastic menjadi suatu kerajinan yang berguna.

Solusi serta ide ini di terapkan dan di praktekkan langsung oleh penulis Meliana Damayanti mahasiswa dari Universitas Jambi sebagai peserta KKN Kebangsaan yang ada di desa Majelis Hidayah dengan di dukung oleh mahasiswa ISI Denpasar yang sekaligus merupakan aktivis lingkungan yaitu I Dewa Gede Bayu Agastya.

Majelis Hidayah merupakan sebuah desa yang terletak dalam (daerah) kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Indonesia. Masyarakat di Desa ini yang mayoritas pekerjaanya adalah sebagai nelayan, oleh karena itu keberlangsungan pokok dari kehidupan masyrakatnya bergantung pada sumber daya laut. Sampah menjadi pandemic di desa ini karena wilayah desanya terletak di pesisir muara. Air yang setiap harinya mengalami fenomena pasang dan surut menjadikan desa ini di penuhi oleh sampah kiriman dari  daerah lain yang di dominasi oleh sampah plastic. Karena hal tersebut penulis mencoba menawarkan solusi untuk pengolahan kembali sampah plastic dengan menjadikan sampah tersebut menjadi kerajinan yaitu sebagai instalasi dari tanaman hidroponik dengan menggunakan sampah botol plastic sebagai medianya.

Proses pengolahan kembali sampah botol plastic ini tergolong sangat singkat karena bahan-bahan yang di gunakan berasal dari sampah yang ada di desa ini. Di bantu masyrakat tahapan pembuatan instalasi untuk tanaman hidroponik ini di awali dengan membersihkan botol plastic bekas yang di lanjutkan dengan pembuatan dua lubang pada bagian tengah botol yang nantinya akan di isi dengan gelas plastic minuman bekas dan membuat lubang pada bagian bawah botol yang gunanya sebagai sarana untuk menyalurkan air dari botol ke botol lainnya. Tahapan selanjutnya adalah menyambung dan merangkai botol plastic menjadi satu bagian yang utuh dengan struktur memanjang. Berdasarkan hasil praktek lapangan, hasil dari tanamam hidroponik yang di tanam di media botol plastik tidak jauh berbeda dengan yang penanamnnya menggunakan instalasi dari pipa. Demi menjaga agar botol plastik tidak di tumbuhi lumut, hendaknya botol harus di cat serta terhindar dari sinar matahari secara langsung. 

Kesadaran akan bahayanya sampah plastik merupakan landasan awal kita untuk menggali lebih dalam kegunaan kembali dari sampah plastik sehingga berguna bagi keberlangsungan hidup. Dengan melalui solusi sederhana yang di paparkan di atas hendaknya menyadarkan pengguna plastik untuk memanfaatkan limbah plastik sehingga tidak merusak alam beserta ekosistemmnya. “Aku Bukan Sampah” merupakan cerminan bahwasanya sampah memiliki kegunaan dan nilai untuk keberlangsungan hidup. (*)

 

Penulis merupakan Peserta KKN Kebangsaan 2021 dan dosen pembimbing lapangan.

 





BERITA BERIKUTNYA