Tak Indahkan Surat 2X24 Jam, Fery: Kita Tutup TPA RKE

Jumat, 07 Januari 2022 - 12:19:33 WIB - Dibaca: 98 kali

Foto: istimewa
Foto: istimewa ()

JAMBIPRIMA.COM, SUNGAIPENUH - Polemik Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah sementara di RKE, tampaknya akan terus meruncing. Pemkot Sungaipenuh diwarning 2 kali 24 jam, untuk menghentikan aktivitas pembuangan sampah di lahan produksi RKE tersebut. 

Hal itu sesuai dengan surat pemberitahuan yang diserahkan tokoh masyarakat Kumun Debai kepada Ketua DPRD Sungaipenuh, Selasa (4/1) kemarin. Bahkan, jika pemkot tidak mengindahkan dan tidak menghentikan aktivitas, maka masyarakat yang akan turun tangan menghentikan dan memblokir akses menuju TPA sampah di RKE.

"Benar, berdasarkan surat pemberitahuan itu, kita minta dalam waktu 2 kali 24 jam, jika tidak kita yang akan menghentikan secara paksa," ungkap Ferry Siswadhi, saat dikonfirmasi wartawan.

Penghentian itu bukan tidak punya alasan yang cukup mendasar. Karena sampah samakin menggunung di TPA RKE, hingga hari ini jumlah sampah di RKE mencapai 200 ribu ton lebih sejak 2015 lalu.

"Sudah 200 ribu ton lebih sampah di RKE. Ini bukan jumlah yang sedikit. Tiap hari 60 ton sampah di buang ke sana, dengan 9 armada sampah," ungkapnya.

Dia juga membandingkan produksi sampah yang dibuang ke RKE, pada era AJB produksi sampah hanya 52 ton per hari, sedangkan saat ini mencapai 60 ton per hari.

"Di lokasi TPA RKE, sampah juga sudah menggunung, tidak lagi pakai gali timbun, hanya buang saja. Dulu dijanjikan akan diolah, tidak ada lalat, tidak bau, tapi kenyataannya sangat memprihatinkan," ungkapnya.

Yang lebih membahayakan lagi, lanjut dia, sampah juga sudah masuk ke sungai, dan menyebabkan air berubah warna menjadi hitam. Kondisi ini sangat beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

"Imbas dari pembuangan sampah di RKE tidak hanya berdampak terhadap masyarakat Kumun, tapi Kecamatan Danau Kerinci Barat seperti Tanjung Pauh, juga terkena dampak. Bahkan tokoh masyarakat dan kepala desa di Danau Kerinci Barat dan Keliling Danau juga menolak, ada suratnya dengan saya," ungkapnya.

Ditambahkannya, lahan tempat pembuangan sampah di RKE juga semakin meluas. Semula pada tahun 2015 kurang dari 1 hektar, tapi sekarang sudah mencapai 4 hektar. 

"Lokasi itu berstatus kontrak, dan tahun 2022 diperpanjang. Padahal lokasi tersebut tidak memiliki Amdal," katanya.

Oleh sebab itu, masyarakat mendesak agar aktivitas TPA RKE segera dihentikan, agar gunung sampah tidak semakin meninggi. 

"Sekarang sampah sudah menggunung, kalau dipindahkan, tentu sampahnya ridak ikut pindah dan tetap disana. Pemkot pergi meninggalkan penyakit. Dari pada berkepanjangan, lebih baik sekarang dihentikan,"pungkasnya.

Untuk diketahui, terkait persoalan ini Ferry Siswadhi dan tokoh masyarakat Kumun Debai sudah menghadap Ketua DPRD Sungaipenuh pada Selasa (4/1) kemarin, menyerahkan surat pemberitahuan agar aktivitas pembuangan sampah dihentikan. Terhadap surat tersebut, Ketua DPRD Sungaipenuh, Fajran, juga sudah menghubungi pemkot melalui Sekda, meminta agar segera ditindak lanjuti. (Bdu)





BERITA BERIKUTNYA