Ekonomi Mulai Terganggu, Warga Resah

Senin, 30 Maret 2020 - 10:09:55 WIB - Dibaca: 1852 kali

Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi, Komari.
Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi, Komari. (ist/Jambione.com)

Jambione.com, JAMBI-  Pandemi Corona Virus Deseas (Covid-19) mulai berdampak ke semua sektor di tengah masyarakat Provinsi Jambi. Terutama perekenomian warga. Hotel, Mall, dan warung warung mulai sepi. Para petani karet mengeluh. Selain harga yang anjlok (hanya Rp 5000/perkilo di tingkat petani),  perusahaan yang selama ini membeli karet juga mulai banyak tutup.

Informasi yang diperoleh Jambione, dalam beberapa hari ke depan, sejumlah Hotel di Jambi menghentikan operasional sementara. Begitu juga mall. Salah satunya adalah Mall WTC Batanghari. Minggu kemarin, surat pemberitahuan Mall WTC Batanghari akan tutup sementara beredar luas di media sosial maupun grup whatsapp.

Surat No:01/OPS/-R45/III/2020, perihal pemberitahuan yang tertanda tangan Store Manager, Jambi 27 Maret 2020 itu, isinya menjelaskan menindaklanjuti surat dari Management Mall WTC Batanghari Jambi dengan nomor surat : 027/Out-TR/WTC/III/2020 mengenai penutupan atau penundaan kegiatan usaha itu sesuai dengan instruksi Wali Kota Jambi.

"Maka bersama surat ini kami dari Ramayana Jambi (R45) memberikan informasi mengenai tidak beroperasional sementara mulai 30 Maret sampai dengan 06 April. Operasional kembali tanggal 7 April," begitu tertulis dalam surat tersebut.

Menanggapi surat yang beredar tersebut, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jambi, Johansyah mengatakan Dinas Nakertrans Provinsi Jambi sudah berkoordinasi dengan HRD Wiltop. Dari keterangannya diketahui, terjadi penurunan jumlah kunjungan yang sangat signifikan. 

"Tidak sampai 100 orang akhir-akhir ini. Dan itu merupakan langkah diambil kebijakan tutup sementara 7 hari. Karena biaya operasional yang besar tidak sesuai lagi. Jadinya," ungkapnya. 

Namun untuk swalayan yang menjual kebutuhan pokok di kompleks WTC ini, masih tetap buka. "Untuk penjualan kebutuhan pokok hypermat dan pusat jajanan buka. Jualan baju, sepatu dan lain-lain yang tutup," jelasnya. 

Sementara itu, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi, Komari saat dihubungi, Minggu (29/3) membantah informasi Mall WTC dan Ramayana akan tutup selama 1 minggu seperti surat pemberitahuan yang beredar luas, Minggu kemarin.  Menurut Komari, pihaknya

sudah melakukan pengecekan di Mall tersebut, Sabtu malam (23/3). ‘’Tidak tutup. Sudah saya cek kesana, tidak tutup," ujarnya. 

Komari menjelaskan memang ada beberapa toko yang berada di dalam mall tersebut tutup. Akan tetapi ada juga masih buka. "Memang pengunjung sekarang sepi. Jadi toko-toko kecil, seperti toko baju itu tutup. Tapi yang lain ada juga yang buka,"katanya.

Dia mengaku sudah konfirmasi ke pengelola. Menurut dia, Mall tersebut tetap buka. Hanya saja jadwal bukanya bergeser. Biasanya jam 9, sekarang jam 11 baru buka. Komari menegaskan, hingga kemarin belum ada instruksi mall, swalayan, pusat perbelanjaan, toserba dan lainnya untuk tutup. "Kalau tutup nanti masyarakat beli kebutuhan di mana," katanya. 

Komari mengatakan, masyarakat tetap bisa berbelanja, asalkan menghindari kerumunan. 

"Sudah kami cek kemarin malam (Sabtu, red) masih buka. Tidak ada tutup, hanya memang sekarang pengunjung sepi," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu Hotel berbintang di Jambi juga dikhabarkan akan menghentikan opersional sementara awal April mendatang. Penyebabnya juga dikarenakan sepinya pengunjung. Sementara biaya operasional cukup besar. 

Sementara itu, para petani Karet di Kecamatan Mestong, Muarojambi sudah pada mengeluh. Mereka mengaku mendapat informasi sudah banyak pabrik karet yang tutup. Akibatnya, para pengepul yang biasa membeli karet mereka juga sudah menghentikan sementara pembelian.

‘’ Sekarang lah saro nian bang. Mano hargo karet  lah jatuh nian. Rp 5000 sekilo. Pabrik banyak pulo yang lah tutup. Sekarang ni toke toke kecik yang biaso beli karet petanijugo lah banyak yang dak mau beli lagi,’’ kata Tomi, salah seorang petani Karet di Desa Pelempang, Kecamatan Mestong, Muarojambi. 

Menurut dia, kalau kondisi seperti ini terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, bakal banyak petani yang macet bayar kredit di bank bank maupun lesing. ‘’ Jangankan nak bayar bank atau lesing. Untuk makan bae sekarang ini lah susah nian,’’ katanya lagi.

Sementara ini, Tomi mengaku masih tertolong dengan kebun kelapa sawit. Selain punya kebun sendiri, dia juga bekerja sebagai pendodos (tukang panen) sawit. Jika pabhrik sawit pun ikut tutup nantinya. Tomi mengaku tidak tahu lagi apa yang dilakukan. ‘’ Jangan sampe pabruk (sawit) tutup jugo bang. Kalau tutup jugo kayak karet, entah macam mano lagi kito ni,’’ pungkasnya.

Apa yang diungkapkan Tomi ini mewakili kondisi reatusan bahkan ribuan petani di desa desa di Provinsi Jambi yang bergantung hidup dari karet dan kelapa sawit. Sementara ini, dampak Covid-19 ini baru dirasakan oleh petani karet. Jika wabah Covid-19 ini berlanjut hingga dua atau tiga bulan ke depan, diperkirakan bakal banyak para petani di pedesaaan yang macet membayar sejumlah cicilan kredit. (ali/kum)





BERITA BERIKUTNYA