Kisah Terjadinya Malam Seribu Bulan, Lailatul Qadar

Senin, 11 Mei 2020 - 01:45:06 WIB - Dibaca: 356 kali

Ustaz Prof. H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D., Datuk Seri Ulama Setia Negara atau lebih dikenal dengan Ustaz Abdul Somad
Ustaz Prof. H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D., Datuk Seri Ulama Setia Negara atau lebih dikenal dengan Ustaz Abdul Somad ()

JAMBIPRIMA.COM, JAKARTA- Tidak semua mengetahui asal- usul terjadinya malam Laitul Qadar, malam yang paling ditunggu- tunggu selama bulan Ramadhan.

Penceramah kondang Ustaz Abdul Somad mengatakan, Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan itu disebutnya lebih dari 80 tahun.

Ustaz yang dikenal dengan nama UAS ini bercerita awal mulanya adanya malam Lailatul Qadar. Menurutnya, Baginda Nabi Muhammad SAW bercerita, dahulu kala ada orang Bani Ismail, di zaman Nabi Musa. Mereka tidak pernah berbuat dosa selama 80 tahun.

"Nabi Muhammad bercerita, dulu ada orang Bani Ismail, zaman nabi Musa tidak pernah berbuat dosa selama 80 tahun. Siang jihad, malam qiyamul lail," ujar Ustaz Abdul Somad baru-baru ini.

Mendengar cerita Baginda Nabi Muhammad, sahabat-sahabat Nabi bersedih. Lalu turunlah ayat Al Qadr.

"Sahabat Nabi lesu mendengar itu. Lalu turun ayat. Inna anzalnaahu fii lailatul qadr. Lailatul qadri min al fisyahri," kata Ustaz Abdul Somad.

Dalam buku 'Mukjizat Lailatul Qadar: Menemukan Berkah pada Malam Seribu Bulan' karya Arif M Riswanto disebutkan, Lailatul Qadar terdiri dari dua kata, lailah dan Al Qadar. Secara bahasa lailah artinya malam.

Sementara, Al Qadar memiliki beberapa arti:

1. Ukuran

Dari arti ini diambil kata miqdaar. Seperti ayat, 'Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan serta kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (QS Al Ra'd ayat 8).

Allah telah mengukur Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

 

2. Penghormatan

Seperti ayat, Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan semestinya ketika mereka berkata, " Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia (QS Al An'am ayat 91).

Pada malam Lailatul Qadar Allah telah menurunkan kehormatan bagi orang yang bisa mendapatkan keutamannya.

 

3. Takdir atau Ketentuan

Makna ini diadopsi oleh bahasa Indonesia menjadi takdir.

Allah telah menurunkan penentu kebenaran bagi hidup umat manusia yaitu Al Quran. Al Quran adalah ketentuan, kekuatan, dan kesempurnaan, yang telah diturunkan oleh Allah untuk umat manusia.

 

4. Sempit

Seperti ayat, 'Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya di Maha Mengetahui dan Maha Melihat terhadap hamba-hambaNya." (QS Al Isra ayat 30).

Pada malam Lailatul Qadar penuh kesempitan karena banyak malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan oleh Allah SWT pada surat Al Qadr ayat 4: "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

Lailatul Qadar akan menjadi malam persiapan bagi orang-orang yang bisa meraihnya untuk menyongsong hidup pada kemudian hari dengan lebih baik.

 

5. Kekuatan atau Kemampuan (maqdarah)

 

6. Menyempurnakan

Seperti hadits riwayat Al-Bukhari, "Jika kalian melihatnya (hilal) shaumlah dan jika kalian melihatnya (hilal) berbukalah. Jika kalian samar (untuk melihatnya), sempurnakanlah (menjadi tiga puluh hari)."

 

7. Mempersiapkan atau Menaksir seperti ungkapan, 'Aku menentukan sesuatu' yang berarti mempersiapkan

Dengan demikian, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh ukuran, penghormatan, ketentuan, kesempitan, kekuatan, kesempurnaan, dan persiapan. Pada malam ini, juga merupakan turunnya Al Quran secara berangsur-angsur selama 23 tahun. (*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...