Jambi Menuju Wisata Kelas Dunia

Selasa, 06 Desember 2022 - 10:45:21 WIB - Dibaca: 1461 kali

Kompleks Candi Muaro Jambi.
Kompleks Candi Muaro Jambi. (Foto: Jambi prima.com/Ahmad )

JAMBIPRIMA.COM,JAMBI- Provinsi Jambi memiliki potensi pariwisata yang cukup besar, seperti Geopark Nasional Merangin Jambi, Komplek percandian Muaro Jambi, Alam Kerinci, 4 (empat) Taman Nasional, Pantai Cemara di Pantai Timur yang merupakan tempat burung berimigrasi antar benua

dan lain-lain. Sektor pariwisata itu diharapkan memberikan kontribusi yang besar dalam pembangunan di Provinsi Jambi. 

Oleh karena itu, sektor ini perlu didorong lebih baik karena dapat memberikan dampak ikutan yang baik terhadap perkembangan industri kecil dan menengah yang ada di Provinsi Jambi terutama pasca pandemi Covid-19. Selain itu juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja. 

Dibawah kepemimpinan Gubernur Jambi, H Al Haris dan Wakil Gubernur Jambi, H Abdullah Sani, tengah gencar untuk meningkatkan peran sektor pariwisata serta industri kecil dan menengah pendukung pariwisata. Dengan mengusung visi "Terwujudnya Jambi Maju, Aman, Nyaman, Tertib, Amanah dan

Profesional dibawah Ridho Allah SWT" pengembangan sektor pariwisata Provinsi Jambi telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) 2021-2026. 

Strategi Pemerintah Provinsi Jambi dalam meningkatkan peran sektor pariwisata serta industri kecil dan menengah pendukung pariwisata yang tertuang dalam RPJMD 2021-2026 antara lain: Mensinergikan usaha BUMD dengan UMKM dalam hal produksi dan pemasaran; Penguatan kelembagaan koperasi dan pusat pemasaran produk-produk UMKM; Provinsi Jambi Dukungan fasilitas e-bisnis untuk usaha industri rumah tangga, pariwisata dan ekonomi kreatif; Pengembangan objek dan destinasi tujuan wisata berbasis masyarakat lokal; Membangun digitalisasi pemasaran produk-produk UMKM dan fasilitasi akses perbankan; Mendorong percepatan pengembangan kawasan pariwisata percandian Muaro Jambi dan geopark Merangin sebagai destinasi wisata dunia;

Fasilitasi penyelenggaraan event seni budaya berskala nasional/internasional dengan melibatkan kabupaten/kota; Revitalisasi dan fasilitasi objek wisata unggulan di kabupaten/kota dalam Provinsi Jambi; Membangun ekowisata berbasis jasa lingkungan dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung kawasan. 

Dalam rangka menumbuh kembangkan seni budaya khususnya budaya khas Melayu Jambi, maka Pemerintah Provinsi Jambi telah menggali keragaman budaya yang ada serta memfasilitasi agar karya

seni dan budaya Jambi mendapatkan pengakuan ataupun Hak Kekayaan Intelektual. Dalam rentang tahun 2016-2020 telah ditetapkan 37 warisan budaya tak benda dan 38 Hak kekayaan intelektual karya seni. 

Dengan pengembangan potensi wisata baik alam maupun non alam, Pemerintah Provinsi Jambi mentargetkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara sebesar 8,8 juta orang hingga 2026. Target itu bukanlah mustahil. Jika merujuk data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jambi yang tertuang dalam RPJMD Provinsi Jambi 2021-2026, jumlah kunjungan wisatawan nusantara tahun 2015-2019 ke Jambi mencapai 2 juta orang lebih per tahun. Sementara jumlah kunjungan wisatawan asing tahun 2015-2019 mencapai lebih dari 10 ribu orang per tahun. Hanya di tahun 2017 mengalami penurunan sekitar 5 ribu orang.

Letak Provinsi Jambi yang berada di tengah Pulau Sumatera menjadikan beberapa kabupaten/kota kerap menjadi titik persinggahan (rest area). Baik masyarakat yang melakukan mobilisasi ke Pulau Jawa maupun ke provinsi tetangga. 

Dengan didukung tiga bandar udara (Bandara), yaitu Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi, Bandara Depati Parbo Kerinci, dan Bandara Muara Bungo serta adanya tol Trans Sumatera sudah seharusnya jumlah kunjungan wisata ke Sepucuk Jambi Sembilan Lurah meningkat di masa mendatang. 

Wakil Gubernur Jambi, H Abdullah Sani mengatakan, pemerintah Provinsi Jambi saat ini terus mengembangkan potensi wisata unggulan, terutama Kompleks Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi.

“Pemerintah Provinsi Jambi terus mengembangkan Candi Muaro Jambi, banyak hal-hal warisan benda dan tak benda masih belum nampak. Itu akam digali dan diteliti. Insya Allah bukan untuk generasi yang akan datang, tapi juga sampai ke anak cucu kita nanti," kata Abdullah Sani saat melepas romobongan media gathering Diskominfo Provinsi Jambi ke Candi Muaro Jambi, Senin (5/12).

Kata dia, Candi Muaro Jambi merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang harus dilestarikan. 

"Sektor pariwisata akan membawa dampak besar bagi UMKM. Masyarakat di kawasan candi ada memyewakan tikar, sepeda, souvenir dan makanan. Ini jelas UMKM akan hidup," katanya.

Sani juga meminta dukungan dari pemerintah pusat untuk pengembangan Candi Muaro Jambi dan situs lain. Sebab, keberadaan Candi Muaro Jambi sudah dikenal baik lokal, nasional maupun internasional.

Pantauan Harian Pagi Jambi One saat media gathering di Kompleks Percandian Muaro Jambi, tampak beberapa kawasan sedang ada penataan. Khususnya pada akses jalan masuk dan jembatan. 

Menurut Asmiati, warga setempat yang setiap hari berjualan makanan dan minuman ringan di Candi Muaro Jambi mengatakan, jika pada hari libur (Sabtu dan Minggu) jumlah kunjungan wisata ramai. Namun saat hari kerja, jumlah kunjungan tidak terlalu ramai.

"Sehari kalau hari biasa dapatlah Rp80 ribu sampai Rp100 ribu. Tapi kalau hari libur kadang bisa sampai Rp500 ribu," kata Asmiati sambil melayani pembeli.

Kata dia, sejak pandemi Covid-19 lalu, pendapatannya mengalami penurunan karena candi ditutup total selama 4 bulan. Ia berharap, dengan adanya pembangunan akses jalan masuk dan jembatan menuju candi dapat mendongkrak jumlah kunjungan wisata ke tempat tersebut. 

"Sekarang alhamdulillah sudah dibuka, mudah-mudahan ramai. Biasanya ada juga yang melakukan ritual-ritual keagamaan di sini. Biasanya dari Senin-Jumat," jelasnya.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jambi, Fadli Sudria saat dimintai keterangan mengenai pengembangan pariwisata di Provinsi Jambi mengatakan, khusus untuk Candi Muaro Jambi itu sudah menjadi cagar budaya. 

"Itu tidak lagi menjadi kewenangan provinsi, tapi sudah nasional. Kemudian untuk wisata yang berada di kabupaten/kota, provinsi sifatnya hanya sebagai koordinator, dan pembinaan. Memang untuk pembangunan secara fisik tidak ada, karena itu kewenangan kabupaten/kota," katanya saat dihubungi Jambi One, Senin (5/12).

Sudria mengatakan, khusus untuk pengembangan wisata di Kerinci, jika penerbangan ke Bandara Depati Parbo tidak diperbaiki, maka pariwisata di sana tidak akan berkembang. 

"Provinsi sudah bantu pembebasan lahan untuk perluasan bandara senilai Rp2 miliar," ujarnya.

Menurut dia, jika pariwisata Jambi ingin berkembang, ada tiga hal yang harus dipedomani. Pertama Plus, pemerintah harus melihat jumlah dana (APBD) yang sudah dikucurkan, dan berapa keuntungan yang didapat oleh masyarakat setempat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kemudian kegemaran wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke wisata tersebut. 

"Kerinci ini potensinya besar, apalagi Kayu Aro. Orang belum dikatakan ke Kerinci kalau tidak berkunjung ke Kebun Teh Kayu Aro. Ini adalah potensi daerah yang sangat luar biasa dan harus dikembangkan oleh pemerintah daerah," tambah anggota DPRD Provinsi Jambi Dapil Kerinci-Sungai Penuh itu. 

Kedua adalah minus. Orang yang berkunjung ke Kerinci akan bercerita kepada sahabat, keluarga dan lainnya. 

"Apa yang dia tangkap saat berwisata itu akan diceritakan kepada orang lain. Misalnya jalannya jelek, kemudian macet, rawan longsor, masyarakat tidak ramah. Itu adalah minus. Artinya ini juga memberi dampak terhadap kunjungan wisata. Orang yang mengalami peristiwa tidak mengenakkan saat berwisata pasti mereka tidak akan kembali lagi,".

"Ketiga adalah zero (nol). Jadi yang wisata satu, kemudian pulang tetap satu. Dia tidak menceritakan peristiwa itu kepada orang lain, dia diam saja. Tentu poin yang harus kita kejar adalah yang pertama yaitu Plus. Bagaimana kita meramu pariwisata Provinsi Jambi ini nyaman, fasilitasnya bagus, sehingga orang berkesan ketika berkunjung. Orang berwisata inikan mau menghabiskan uang, kalau mereka dihadapkan dengan kondisi jalan yang macet akibat truk batubara, Siapa yang mau datang," tambahnya.

Kata Sudria, selain membenahi kondisi infrastruktur yang ada, pemerintah juga harus bekerja sama dengan provinsi lain seperti Sumatera Barat. Sebab banyak juga kunjungan wisatawan ke Kerinci yang melalui Sumatera Barat. 

"Kita juga minta penguatan posisi Bandara Muaro Bungo. Sebab orang mau ke Kerinci dari Jakarta cukup lewat Bandara Bungo. Kalau kita mengandalkan bandara yang ada (Depati Parbo) itu sangat kecil," pungkasnya. (Ahmad)





BERITA BERIKUTNYA