JAMBIPRIMA.COM, JAMBI- Pedagang Pasar Induk Paal 10 mengeluhkan kondisi Terminal Barang yang setiap malam dilanda macet. Hal itu dipengaruhi oleh penarikan retribusi truk batubara yang sudah beroperasi.
"Tiap malam macet, minimal dua jam nunggu. Setiap malam seperti itu, kita mau dagang, mau masuk pasar susah," kata salah satu pedagang yang minta namanya tak ditulis.
Ia berharap kepada pemerintah, terutama Dinas Perhubungan Kota Jambi untuk menata kendaraan batubara tersebut. Terutama pada sistem pembayaran retribusi yang seharusnya dievaluasi.
"Kalau bisa pintu masuknya dibedakan. Antara pedagang, dengan mobil angkutan. Kemudian jalan masuk terminal yang rusak parah, itu juga harus diperbaiki," katanya.
Menanggapi hal ini, Wali Kota Jambi, Syarif Fasha mengatakan dirinya tak punya kuasa penuh terhadap angkutan batubara. Sebab, berada di jalan nasional.
"Jadi kewenangan Pemkot Jambi sangat terbatas. Tapi kalau dari Paal 10 masuk ke kantor Camat Alam Barajo, itu urusan saya," kata Fasha.
Dia mengatakan, sudah menawarkan solusi kepada para transportir untuk membayar retribusi dengan sistem Barcode (Qris). Akan tetapi, menurutnya masih banyak transportir yang tidak mau.
"Saat ini masih pakai kupon retribusi, terkadang petugas kesulitan untuk mencari uang kembalian. Jadi sebenarnya memang lebih bagus pakai barcode, jadi mengurangi Pungli juga. Kita bilang sudah bener, ya mungkin ada bocor juga disana. Jadi paling bagus itu memang pakai barcode, tinggal masalahnya pada transportir," kata Fasha. (Ahmad)