JAMBIPRIMA.COM, BUNGO – Di saat sebagian besar petani berlomba menanam komoditas bernilai besar seperti kelapa sawit, langkah berbeda justru dipilih Fahmi, warga Dusun Pematang Panjang, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo. Dari lahan kecil yang awalnya hanya dianggap ruang kosong di sela tanaman utama, ia berhasil membangun sumber penghasilan harian lewat budidaya lengkuas.
Pilihan Fahmi menanam rempah dapur itu bermula dari persoalan sederhana yang kerap dialami petani, yakni lahan kosong yang dipenuhi rumput liar. Namun di tangan Fahmi, ruang yang semula tidak produktif justru berubah menjadi lahan bernilai ekonomi tinggi.
“Awalnya hanya memanfaatkan ruang kosong daripada ditumbuhi rumput liar. Terlintas di pikiran untuk menanam lengkuas buat kebutuhan dapur sehari-hari,” ujar Fahmi, Jumat (15/5/2026).
Keputusan tersebut awalnya tidak banyak menarik perhatian. Lengkuas selama ini lebih dikenal sebagai bumbu pelengkap masakan ketimbang komoditas utama perkebunan. Namun kondisi pasar berbicara lain. Tingginya kebutuhan rempah untuk rumah makan, pedagang bumbu hingga industri kuliner membuat permintaan lengkuas terus stabil.
Berbekal ketelatenan merawat tanaman selama sekitar satu tahun, Fahmi mulai menikmati hasil panen pertamanya. Dari waktu ke waktu, permintaan datang semakin banyak, bahkan tidak hanya dari wilayah sekitar Kabupaten Bungo.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tanaman lengkuas memiliki keunggulan tersendiri dibanding sebagian komoditas lain. Selain perawatannya relatif sederhana, tanaman ini juga mampu tumbuh di sela kebun tanpa membutuhkan lahan luas. Kondisi tersebut membuat biaya produksi lebih ringan, namun tetap memberikan nilai jual yang menjanjikan.
Kini, usaha sederhana itu berkembang menjadi sumber pendapatan utama bagi Fahmi. Dari hasil panen lengkuas, ia mengaku mampu memperoleh penghasilan hingga Rp700 ribu per hari. Nilai tersebut terbilang besar untuk tanaman rempah yang sebelumnya hanya dianggap tanaman pelengkap dapur.
“Alhamdulillah permintaan yang datang cukup banyak. Tapi saat ini kami masih terkendala kapasitas produksi, karena permintaan pasar jauh lebih besar dibanding hasil panen yang tersedia,” ungkapnya.
Permintaan pasar yang terus meningkat menjadi sinyal bahwa komoditas rempah lokal masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Apalagi di tengah kondisi ekonomi masyarakat pedesaan yang membutuhkan alternatif usaha dengan modal terjangkau namun berpotensi menghasilkan keuntungan stabil.
Kisah Fahmi juga menjadi gambaran bagaimana sektor pertanian tidak selalu identik dengan investasi besar. Kreativitas memanfaatkan lahan sempit, ditambah keberanian mencoba tanaman yang jarang dilirik, justru membuka peluang ekonomi baru.
Di tengah dominasi perkebunan skala besar, langkah Fahmi menghadirkan pesan sederhana bahwa keberhasilan kadang lahir dari tanaman yang selama ini dipandang biasa. Dari sela kebun yang nyaris terlupakan, lengkuas kini menjadi “ladang emas” baru bagi petani desa. (Sab)
Pemilihan BPD Dusun Suka Jaya Berlangsung Lancar, Polisi Lakukan Pengamanan
Tim Hadroh MTsN 4 Bungo Siap Meriahkan Pelepasan Siswa Kelas IX
Ratusan Rumah di Desa Bedaro Terendam Banjir, Babinsa Sigap Bantu Warga
Dishub Bungo Tertibkan Parkir dan PKL di Pasar SPA Kuamang Kuning
Sosok Guru Senior Penjaga Pembinaan Keagamaan di MTsN 4 Bungo