Evaluator UNESCO Tuntaskan Penilaian Geopark Merangin-Jambi, 6 Lokasi Disambangi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:11:59 WIB - Dibaca: 42 kali

Tim evaluator UNESCO Global Geopark bersama pendamping berfoto di dekat Air Terjun Sigerincing, Desa Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Merangin, saat peninjauan revalidasi Geopark Merangin-Jambi. Foto: Rahim
Tim evaluator UNESCO Global Geopark bersama pendamping berfoto di dekat Air Terjun Sigerincing, Desa Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Merangin, saat peninjauan revalidasi Geopark Merangin-Jambi. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, MERANGIN – Dua evaluator UNESCO Global Geopark (UGGp) menuntaskan rangkaian penilaian lapangan di Kabupaten Merangin, Jambi. Enam lokasi strategis disambangi dalam hari terakhir proses revalidasi status UGGp Merangin-Jambi, Kamis (13/8/2026).

Kedua evaluator tersebut yakni Prof. Dr. Yongmun Jeon dari Jeju Island UGG, Korea Selatan, dan Mr. Nicolas Klee dari Monts D’Ardèche UGG, Prancis.

Selama peninjauan, mereka didampingi General Manager Geopark Merangin-Jambi Agus Zainudin serta perwakilan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Danau Pauh di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Jangkat. Evaluator diajak menyusuri danau dengan perahu sembari mengamati pohon pauh yang menjadi asal penamaan kawasan tersebut.

Tak hanya melihat potensi alam, evaluator juga menggali informasi dari masyarakat. Mereka berdialog dengan warga untuk mengetahui dampak pengembangan geosite terhadap perekonomian lokal, mulai dari pariwisata, penginapan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Perjalanan berlanjut ke Desa Rantau Kermas. Di lokasi ini, evaluator melihat Tugu Kalpataru yang menjadi penanda keberhasilan Kelompok Pengelola Hutan Adat (KPHA) Depati Kara Jayo Tuo dalam menjaga hutan adat.

Kelompok tersebut mendapat penghargaan dari Kementerian LHK pada 2019 setelah dinilai berhasil mempertahankan kelestarian hutan adat seluas 130 hektare secara turun-temurun.

Masih di kawasan yang sama, evaluator meninjau PLTMH Rantau Kermas. Pembangkit berkapasitas 37-41 kW itu telah beroperasi sejak 2018 dengan memanfaatkan aliran Sungai Batang Langkup.

Keberadaan PLTMH menjadi salah satu contoh pemanfaatan sumber daya alam yang berjalan beriringan dengan upaya konservasi hutan adat.

Dari sisi budaya, evaluator juga diperkenalkan dengan Rumah Tuo, rumah panggung tradisional masyarakat Desa Rantau Kermas. Mereka turut melihat hasil perkebunan masyarakat berupa kulit manis dan kopi.

Potensi ekonomi berbasis konservasi kemudian diperlihatkan melalui kunjungan ke rumah produksi Kopi Lembah Mentenang (LM) di Desa Muara Madras, Kecamatan Jangkat.

Kopi tersebut tumbuh di kawasan yang tanahnya subur akibat material letusan gunung purba Gunung Masurai. Produk kopi ini menjadi salah satu geoproduk unggulan sekaligus UMKM binaan Geopark Merangin-Jambi.

Memasuki Kecamatan Lembah Masurai, evaluator mengunjungi Basecamp Mount Masurai di Desa Sungai Lalang. Pemetaan jalur pendakian dan potensi keanekaragaman hayati Gunung Masurai menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut.

Dari sektor pariwisata dan konservasi, penilaian berlanjut ke aspek mitigasi bencana. Evaluator melihat alat pendeteksi gempa BMKG yang berada di Desa Tuo.

Peralatan yang dibangun pada 2025 itu berfungsi memantau getaran gempa dan mendukung sistem peringatan dini bagi masyarakat di sekitar kawasan.

Titik terakhir yang dikunjungi adalah Air Terjun Sigerincing, Desa Tuo. Air terjun ini merupakan geosite yang berkaitan dengan aktivitas letusan purba Gunung Masurai pada fase pre-caldera.

Penerjemah dari Balai Bahasa Jambi, Lukman, mengatakan proses peninjauan lapangan berlangsung lancar. Para evaluator, kata dia, telah mencatat berbagai temuan yang akan menjadi bahan dalam proses revalidasi.

"Pada dasarnya para evaluator telah melihat langsung seluruh potensi yang ada dan sudah memiliki catatan untuk penilaian revalidasi. Hasil peninjauan ini nantinya akan disampaikan secara resmi dalam progress report di kantor BP Geopark Merangin Jambi," ujarnya. (Rhm)





BERITA BERIKUTNYA