Jaringan Listrik Berjarak 2,5 Km, 40 KK di Tanjabtim Masih Gelap-gelapan

Sabtu, 19 September 2026 - 12:19:23 WIB - Dibaca: 84 kali

Ilustrasi warga di daerah yang masih mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari. Foto: Rahim
Ilustrasi warga di daerah yang masih mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, TANJABTIM - Puluhan keluarga di Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, hingga kini belum menikmati aliran listrik PLN. Sekitar 40 kepala keluarga di Dusun Suka Jaya RT 017 dan Dusun Geragai RT 08 masih mengandalkan mesin diesel dan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.

Kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Padahal, permukiman warga disebut hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari jaringan listrik yang sudah tersedia.

Kepala Dusun Suka Jaya, Samsiah, S.Pd., mengatakan warga telah beberapa kali mengajukan permohonan agar jaringan listrik diperluas hingga ke wilayah mereka. Usulan pertama disampaikan pada 2020 dan kembali diajukan pada 2025.

"Pada Februari 2026 kami kembali menyampaikan usulan. Pihak PLN juga sudah pernah turun melakukan survei ke lokasi," kata Samsiah.

Namun, hingga kini survei tersebut belum berlanjut menjadi pembangunan jaringan listrik. Warga pun masih harus menggunakan genset dengan waktu operasional terbatas karena biaya bahan bakar.

Biasanya, genset dinyalakan pada sore hingga malam hari. Warga menyebut mesin hanya digunakan sekitar pukul 18.00 hingga 21.00 WIB untuk menghemat bahan bakar yang harganya dinilai cukup membebani.

"Biasanya mulai jam 6 sore dan mati sekitar jam 9 malam. Bahan bakarnya sekarang sulit didapat, selain mahal juga langka," ujar warga bernama Samsul.

Keterbatasan penerangan turut dirasakan anak-anak yang masih bersekolah. Ketika genset tidak dapat dihidupkan, mereka harus belajar menggunakan senter atau lilin.

Warga lainnya, Sirajuddin, mengatakan kebutuhan listrik saat ini bukan hanya untuk penerangan, tetapi juga menunjang aktivitas pendidikan dan komunikasi.

"Di era digital seperti sekarang, anak sekolah membutuhkan ponsel dan energi listrik. Tetapi untuk mendapatkan penerangan saja kami masih kesulitan," keluhnya.

Warga berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat, PLN, serta pihak PetroChina yang memiliki wilayah operasional di sekitar kawasan tersebut dapat memperhatikan kondisi mereka.

"Harapan besar kami, mudah-mudahan pihak PLN dan pemerintah bisa masuk ke sini dan melihat masih ada warga yang belum mendapatkan penerangan," kata Samsiah. (rhm)





BERITA BERIKUTNYA