JAMBIPRIMA.COM, TEBO — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali mengalami penurunan pada periode 2-8 Oktober 2026. Penurunan harga tersebut turut menekan pendapatan petani sawit, terutama pekebun mitra plasma.
Berdasarkan hasil rapat Dinas Perkebunan Provinsi Jambi bersama tim penetapan harga pada 1 Oktober 2026, harga TBS kelapa sawit untuk tanaman produktif usia 10-20 tahun pada kelompok pekebun mitra plasma ditetapkan sebesar Rp3.758,31 per kilogram.
Harga tersebut turun dari periode sebelumnya yang berada di level Rp3.908,44 per kilogram. Artinya, terjadi penurunan sekitar Rp150,13 per kilogram.
Penurunan harga TBS tersebut sejalan dengan perubahan sejumlah komponen pembentuk harga. Pada periode ini, harga rata-rata crude palm oil (CPO) ditetapkan sebesar Rp14.842,16 per kilogram, sedangkan harga inti sawit mencapai Rp12.638,94 per kilogram.
Sementara itu, indeks K berada pada level 93,64 persen dan harga cangkang ditetapkan sebesar Rp22,11 per kilogram.
Koreksi harga terjadi hampir pada seluruh kelompok umur tanaman sawit mitra plasma. Untuk tanaman usia tiga tahun, misalnya, harga TBS turun dari Rp3.242,37 menjadi Rp3.117,03 per kilogram.
Tanaman usia empat tahun juga turun dari Rp3.425,63 menjadi Rp3.293,49 per kilogram. Selanjutnya, harga TBS tanaman usia lima tahun turun dari Rp3.505,09 menjadi Rp3.370,19 per kilogram.
Untuk tanaman usia enam tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.462,02 per kilogram.
Penurunan berlanjut pada tanaman usia tujuh hingga sembilan tahun. Harga TBS usia tujuh tahun menjadi Rp3.541,81 per kilogram, usia delapan tahun Rp3.595,66 per kilogram, dan usia sembilan tahun Rp3.678,11 per kilogram.
Pada kelompok tanaman tua, harga TBS usia 21 tahun turun dari Rp3.847,20 menjadi Rp3.699,38 per kilogram. Sementara tanaman usia 22 tahun turun menjadi Rp3.613,00 per kilogram.
Amir, salah satu petani sawit di Rimbo Bujang, saat ditemui media pada Jumat (2/10/2026), mengatakan penurunan harga TBS langsung terasa terhadap pendapatan petani.
“Kalau harga turun seperti ini, pendapatan kami tentu ikut berkurang. Biaya perawatan kebun dan kebutuhan produksi tetap berjalan, sementara harga jual TBS turun,” kata Amir.
Menurut dia, perubahan harga TBS menjadi perhatian petani karena pendapatan dari hasil panen menjadi salah satu sumber utama penghasilan keluarga.
Penurunan harga pada awal Oktober ini membuat perkembangan harga CPO, harga inti sawit, serta komponen lain dalam penetapan harga TBS berikutnya menjadi perhatian petani sawit di Jambi.
Amir berharap harga TBS kembali membaik pada periode penetapan berikutnya. Menurutnya, kestabilan harga sangat penting bagi petani untuk menjaga pendapatan sekaligus memenuhi biaya perawatan kebun.
“Kami berharap harga TBS bisa kembali naik atau setidaknya stabil. Petani juga butuh kepastian karena biaya untuk merawat kebun tetap harus dikeluarkan setiap bulan,” ujarnya. (san)
Empat Terduga Pencuri Brondolan Sawit Kabur, Tiga Motor Diamankan di PT TAL
Hari Kesaktian Pancasila, Ketua Fraksi Golkar DPRD Tebo Ajak Jaga Keutuhan NKRI
Warga Desa Giri Winangun Kompak Gotong Royong, Babinsa Ikut Bersama
Inspektorat Pastikan Ada Temuan dalam Pemeriksaan DD Sungai Rambai, Nilainya Tunggu Laporan
APBD Terbatas, Bupati Tebo Jemput Bola ke Pusat: Dukungan Pendidikan Tembus Rp1 Triliun!
Hotspot Muncul di Tiga Kecamatan, BPBD Tebo Perpanjang Siaga Karhutla hingga Oktober
Harga Cabai di Bungo Tembus Rp85 Ribu/Kg, Pedagang Sebut Pasokan Menipis