Pembelajaran Bahasa Arab di Era Digital Tak Cukup Cuma Nahwu dan Sharaf

Rabu, 07 Oktober 2026 - 13:12:34 WIB - Dibaca: 60 kali

Webinar nasional membahas transformasi pembelajaran bahasa Arab di era digital yang digelar UIN STS Jambi. Foto: Rahim
Webinar nasional membahas transformasi pembelajaran bahasa Arab di era digital yang digelar UIN STS Jambi. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI - Pembelajaran bahasa Arab di era digital tak lagi cukup hanya mengandalkan penguasaan nahwu, sharaf, dan mufradat. Kemampuan komunikasi, berpikir kritis, hingga kecakapan menggunakan teknologi kini menjadi bagian penting yang perlu dikuasai mahasiswa.

Hal itu mengemuka dalam webinar nasional “Arah Baru dan Transformasi Pembelajaran Bahasa Arab di Era Digital” yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi bersama Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Selasa (6/10/2026).

Webinar tersebut menghadirkan tiga narasumber dari perguruan tinggi berbeda. Mereka yakni Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Islam Aceh Dr Dhiauddin, M.Pd.; Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Arab STAIN Mandailing Natal Fadlan Masykura Setiadi, M.Pd.I.; serta Sekretaris Prodi S2 PAI IAIN Langsa Dr Nur Balqis, M.Pd.I.

Diskusi yang dimoderatori Mustar dari Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN STS Jambi itu membahas berbagai tantangan pembelajaran bahasa Arab di tengah perkembangan teknologi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Nahwu dan Sharaf Bukan Tujuan Akhir

Dhiauddin mengatakan bahasa Arab memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar bahasa komunikasi. Dalam pendidikan Islam, bahasa Arab juga memiliki dimensi ibadah serta menjadi sarana untuk memperoleh dan menyampaikan ilmu pengetahuan.

Karena itu, pembelajaran bahasa Arab menurutnya perlu diarahkan pada kemampuan berbahasa yang lebih fungsional. Penguasaan nahwu, sharaf, dan mufradat tidak seharusnya berhenti sebagai teori.

“Nahwu, sharaf, dan mufrodat bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk membangun komunikasi,” ujar Dhiauddin.

Ia menjelaskan penguasaan tata bahasa dan kosakata semestinya menjadi fondasi untuk membangun kemampuan berkomunikasi, baik dalam berbicara maupun memahami informasi.

Dosen dan Mahasiswa Diminta Waspadai Halusinasi AI

Sementara itu, Fadlan Masykura Setiadi mengangkat persoalan penggunaan generative artificial intelligence (GenAI) dalam pembelajaran bahasa Arab.

Melalui materi “Uncovering AI Hallucinations in Arabic Language Learning”, Fadlan menjelaskan AI kini mampu menghasilkan teks bahasa Arab dengan cepat dan terlihat meyakinkan.

Namun, teks yang dihasilkan AI tidak selalu benar.

Ada risiko yang dikenal sebagai AI hallucination, yakni ketika sistem menghasilkan informasi yang keliru atau tidak memiliki dasar, tetapi disampaikan dengan bahasa yang seolah-olah benar.

Karena itu, Fadlan menilai mahasiswa dan pengajar bahasa Arab perlu memiliki kemampuan literasi digital dan berpikir kritis.

AI, kata dia, dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Namun, informasi yang dihasilkan tetap harus dicek dan diverifikasi sebelum digunakan.

Kebutuhan Belajar Bahasa Arab Makin Beragam

Narasumber lainnya, Nur Balqis, menekankan pentingnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Arab.

Menurutnya, kebutuhan pembelajar bahasa Arab tidak sama. Latar belakang serta tujuan belajar perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pendekatan pembelajaran.

Nur Balqis membagi pembelajar bahasa Arab ke dalam tiga kelompok.

Pertama, non-Arab dan non-Muslim yang mempelajari bahasa Arab untuk kebutuhan komunikasi umum.

Kedua, Muslim non-Arab yang belajar bahasa Arab untuk kepentingan keagamaan, seperti memahami Al-Qur'an dan berbagai teks keislaman.

Ketiga, Muslim Arab diaspora yang mempelajari bahasa Arab untuk mempertahankan identitas dan akar budaya.

Dari kondisi tersebut, terdapat sejumlah kebutuhan yang dinilai penting bagi mahasiswa dalam pembelajaran bahasa Arab saat ini.

Di antaranya penguasaan keterampilan komunikasi praktis atau maharah kalam, pemanfaatan teknologi dan media digital, pembelajaran berbasis tema atau Arabic for Specific Purposes (ASP), serta metode belajar yang interaktif dan menyenangkan.

Pembelajaran Bahasa Arab Harus Beradaptasi

Webinar tersebut menjadi ruang refleksi bagi pengembangan pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi, termasuk di lingkungan UIN STS Jambi.

Perkembangan teknologi dinilai tidak bisa dihindari dalam proses pendidikan. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan kemampuan kritis agar teknologi benar-benar mendukung proses pembelajaran.

Pembelajaran bahasa Arab pun diharapkan tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan teori. Model pembelajaran perlu bergerak menjadi lebih komunikatif, adaptif, kritis, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa di era digital. (rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA