Kabut Asap Jambi Tekan Pariwisata, Pedagang di Kawasan Wisata Mulai Tutup Gerai

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:28:39 WIB - Dibaca: 153 kali

Objek wisata danau sipin di Provinsi Jambi yang terdampak penurunan kunjungan wisatawan akibat kabut asap. Foto: Tania
Objek wisata danau sipin di Provinsi Jambi yang terdampak penurunan kunjungan wisatawan akibat kabut asap. Foto: Tania ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Kabut asap yang menyelimuti Provinsi Jambi selama dua bulan terakhir mulai berdampak pada sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi, terutama wisata alam yang mengandalkan aktivitas luar ruangan, dilaporkan menurun. Kondisi ini turut memengaruhi pendapatan pengelola wisata hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi wisata.

Penurunan kunjungan terjadi di tengah memburuknya kualitas udara dan imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Situasi tersebut membuat masyarakat lebih membatasi kegiatan wisata, sementara sebagian pedagang terpaksa menutup gerainya karena kondisi lingkungan yang dinilai tidak memungkinkan untuk berjualan.

Dampak kabut asap terhadap pariwisata ini menjadi perhatian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi. Pasalnya, aktivitas wisata alam sangat bergantung pada kenyamanan lingkungan dan keamanan pengunjung saat beraktivitas di luar ruangan.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Novita Erlinda, mengatakan penurunan kunjungan diketahui berdasarkan pemantauan serta komunikasi dengan sejumlah pengelola destinasi wisata.

“Berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan sejumlah pengelola destinasi, rata-rata objek wisata alam mengalami penurunan kunjungan. Namun, hingga saat ini belum tersedia data persentase penurunan secara keseluruhan,” kata Novita, Selasa (13/10/2026).

Belum Ada Data Pasti Penurunan Kunjungan

Meski penurunan kunjungan telah terpantau di sejumlah destinasi, pemerintah daerah belum memiliki angka yang menggambarkan besaran dampaknya terhadap sektor pariwisata secara keseluruhan.

Belum tersedianya data persentase penurunan tersebut disebabkan belum dilakukannya survei khusus terhadap seluruh destinasi wisata di Provinsi Jambi.

Kondisi ini membuat dampak kabut asap terhadap sektor pariwisata belum dapat diukur secara menyeluruh, termasuk besaran potensi pendapatan yang hilang akibat berkurangnya jumlah pengunjung.

Padahal, penurunan kunjungan tidak hanya berpengaruh terhadap pengelola objek wisata. Aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar destinasi juga berpotensi ikut melemah, terutama bagi pedagang makanan dan minuman serta pelaku UMKM yang mengandalkan wisatawan sebagai konsumen utama.

Ketika jumlah pengunjung berkurang, peluang transaksi ikut menyusut. Bagi pedagang kecil yang bergantung pada keramaian kawasan wisata, berkurangnya aktivitas pengunjung dapat langsung memengaruhi pemasukan harian.

Namun, besaran kerugian ekonomi yang dialami pengelola dan pelaku UMKM di kawasan wisata Jambi belum diketahui secara pasti.

Pengelola Diminta Transparan soal Kualitas Udara

Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi terus berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memantau perkembangan di lapangan.

Novita mengatakan, pengelola destinasi wisata juga diimbau menyampaikan informasi secara akurat dan transparan mengenai kondisi kualitas udara di lokasi masing-masing.

Informasi tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat mempertimbangkan faktor kesehatan dan keselamatan sebelum memutuskan berkunjung.

“Pengelola destinasi wisata juga diimbau menyampaikan informasi secara akurat dan transparan mengenai kondisi kualitas udara di lokasi wisata. Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat mempertimbangkan faktor kesehatan dan keselamatan sebelum memutuskan untuk berkunjung,” tuturnya.

Imbauan tersebut menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memberikan informasi kepada calon pengunjung di tengah kondisi udara yang belum membaik. Dengan informasi yang jelas, masyarakat dapat menyesuaikan rencana perjalanan berdasarkan kondisi aktual di lokasi wisata.

Belum Ada Destinasi yang Ditutup Resmi

Hingga Selasa (13/10/2026), belum ada penutupan resmi destinasi wisata di Provinsi Jambi akibat kabut asap.

Meski demikian, tidak adanya penutupan resmi bukan berarti aktivitas pariwisata berjalan tanpa hambatan. Penurunan kunjungan dan berkurangnya aktivitas pedagang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan telah memberikan tekanan terhadap kegiatan ekonomi di kawasan wisata.

Apabila kualitas udara belum membaik, aktivitas wisata luar ruangan berpotensi terus terganggu. Situasi ini juga menjadi tantangan bagi pengelola destinasi dan pelaku UMKM yang mengandalkan kunjungan wisatawan untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Di sisi lain, upaya memulihkan kunjungan wisata tidak bisa hanya bertumpu pada promosi destinasi. Kondisi lingkungan yang aman dan nyaman menjadi faktor penting agar masyarakat kembali tertarik melakukan perjalanan wisata.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi berharap kualitas udara segera membaik melalui dukungan seluruh pihak, termasuk pengelola destinasi dan masyarakat.

Perbaikan kualitas udara diharapkan dapat mendorong pulihnya kunjungan wisatawan, menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di sekitar destinasi, serta membantu memulihkan pendapatan para pelaku usaha yang terdampak.

Bagi sektor pariwisata Jambi, pemulihan lingkungan menjadi salah satu faktor penting untuk mengembalikan aktivitas wisata sekaligus menjaga perputaran ekonomi masyarakat di kawasan destinasi. (tdr)





BERITA BERIKUTNYA