Sektor Manufaktur, Perdagangan, Transportasi dan Akomodasi, Hingga Petani sudah Terdampak

Ngeri-ngeri Sedap, Corona Mulai Goyang Ekonomi Jambi

Selasa, 07 April 2020 - 07:56:32 WIB - Dibaca: 8090 kali

()

JAMBIONE.COM, JAMBI- Penyebaran virus corona tak hanya membahayakan kesehatan masyarakat. Tapi juga ekonomi dunia dan dalam negeri Indonesia. Dampak mewabahnya Covid-19 ini kian terasa merasuki segala lini. Berbagai sektor ikut terpukul, terutama dari sisi dunia usaha. Aktifitas sektor manufaktur, perdagangan, transportasi, dan akomodasi, seperti restoran dan perhotelan paling rentan.

Di Jambi sendiri, dampak covid 19 ini sudah terasa. Harga komuditas karet sudah anjlok. Aktifitas bisnis mulai menurunkan kinerja, pemutusan hubungan kerja, dan bahkan mengalami ancaman kebangkrutan.  Di Pasar Jambi misalnya. Rumah toko (ruko) penjual pakaian sudah banyak yang tutup karena penjualan sepi.

‘’ Sudah hampir sebulan terakhir penjualan sepi dan terus menurun. Makanya banyak yang tutup, karena tak mampu menutup biaya operasional. Sewa nya mahal, sementara penjualan lesu. Kadang nombok, karena gaji karyawan juga harus dibayar tiap hari," kata Agus, salah seorang pedagang di Pasar Jambi.

Dari Muara Sabak, Tanjab Timur dilaporkan omset para pedagang makanan anjlok hingga 75 persen. "Sebelum ada virus Corona omset saya rata-rata berkisar Rp 300 ribu hinga Rp 350 ribu per hari. Tapi sekarang untuk mendapatkan Rp 100 ribu saja sulit," kata Rizal, salah seorang pedagang bakso bakar yang kerap mangkal di taman rakyat Komplek Perkantoran Muarasabak.

Jika kondisi ini tidak membaik, Rizal mengaku tidak tahu apa yang akan terjadi. Karena sehari hari dia menghidupi keluarganya dari berjualan bakso bakar. "Mudah-mudahan bulan puasa nanti virus corona sudah tidak ada. Kalau tidak, saya bisa kesulitan memenuhi kebutuhan lebaran," ujarnya.

Hal senada juga dirasakan pemilik cafe di Kecamatan Muarasabak Barat. Apalagi belum lama ini pemerintah mengeluarkan kebijakan agar masyararakat menghindari keramaian untuk sementara waktu.

"Ya, kita sama-sama berdoa saja, semoga virus corona ini cepat menghilang. Karena dampaknya memang sangat besar bagi para pelaku usaha. Terlebih usaha kuliner seperti saya ini," ujarnya, yang enggan identitasnya tidak dipublikasikan.

Sektor otomatif pun mulai terkena dampak. Pengusaha otomotif terbesar di Jambi, Roni Attan, mengatakan pada bulan Maret lalu, penjualan sepeda motor turun 50 persen. Menurut dia, covid-19 ini sudah berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat. Dia dan pelaku industri lainnya terpaksa melakukan efisiensi.

‘’ Penjualan sepeda motor pada Januari lalu sedikit aman. Padahal, saat itu wabah virus corona belum masuk ke Indonesia.  Pada Maret ini kalkulasi angka yang cukup fantastis mencapai 50 persen daya beli masyarakat menurun," sebut owner PT Sinar Sentosa (Sinsen) Jambi ini, kepada Jambi One, Senin (6/4) sore.

Menurut Roni, meski penjualan terus anjlok, pihaknya belum memiliki strategi tertentu untuk meningkatkan penjualan. Karena, upaya apapun yang dibuat, menawarkan berbagai promo sama dengan percuma. dengan tidak ada penyerapan apapun. Sebab, daya beli masyarakat turun. Tidak ada lagi yang mau membeli motor.

Sementara ini, Roni mengaku masih menunggu langkah pemerintah menanggulangi virus asal Wuhan, China ini. ‘’ Sekarang ini, jangankan yang maju beli.  Pengunjung pun turun. Memang daya beli masyarakat yang jauh menurun. Makanya saat ini kita wait and see (menunggu dan melihat) langkah pemerintah menanggulangi virus tersebut,’’ katanya.

Terpisah, salah seorang karyawan diler mobil ternama di Jambi mengatakan dalam sebulan terakhir penjualan mobil juga anjlok. Bahkan menurut dia, sebulan terakhir pihak diler sudah tidak metetapkan target penjualan lagi. Selaku marketing pun, dia mengaku tidak mendapat tekanan harus bisa menjual produk. 

‘’ Tidak ada lagi target penjualan. Biasanya jelang lebaran ini merupakan masa panennya diler. Karena banyak yang membeli mobil. Tapi, sejak mewabahnya covid-19 ini, tidak ada lagi target penjualan,’’ katanya.  

Selain otomotif, sektor perhotelan termasuk yang sudah mulai compang cambing di buat corona. General Manager Hotel Luminor Jambi, Dedi Warja, mengakui saat ini kondisi tingkat hunian hotel menurun drastis mencapai 10 persen. Angka ini sangat menyakitkan sekali bagi para pengusaha hotel yang ada di Jambi.

"Biasanya dari hari-hari sebelum wabah ini ada, tingkat hunian hotel diangka 80 hingga 90 persen. Karena wabah ini, jadi turun 10 persen," katanya kepada Jambi One.

Menurut dia, secara nasional hotel-hotel sudah ada melakukan penutupan aktifitas. Jumlahnya mencapai 1.181 hotel. Kalau di Jambi ada beberapa yang sudah melakukan penutupan di daerah.   " Kalau Hotel yang berada di Kota Jambi saya kira belum ada yang tutup,"ujarnya.

Luminor Hotel sendiri, lanjut Dedi belum melakukan penutupan. Mereka hanya melakukan efisiensi operasional. Mulai dari setting energi listrik dengan melakukan pengurangan pengoperasionalan AC (Air Conditioner). Kemudian, mengurangi operasional lift.         "Memang ada beberapa yang kita setting untuk tidak beroperasi. Seperti AC dan lift tamu," ujarnya.

Menurut Dedi, saat ini hotel hanya mengandalkan pendapatkan dari hunian kamar. Sebab, semua restoran hotel ditutup, sesuai dengan instruksi Walikota Jambi. Sementara, masyarakat yang datang untuk menginap sudah menurun.

"Kalau kondisi normal. Selain dari hunian kamar, income kita juga dari restoran. Sekarang restoran sudah ditutup. Tentu kita berharap dari pemerintah dan PHRI ada solusi yang ditawarkan. Paling tidak ada keringanan yang diberikan kepada pengusaha hotel di Jambi,"katanya.

Tidak hanya pelaku usaha, covid-19 juga sudah mulai menggerogoti perekonomian para petani karet dan sawit. Di desa desa, para petani sudah mulai menjerit karena anjloknya harga karet. Dari pantauan Jambi One, saat ini harga karet anjlok ke tingkat paling bawah. Di tingkat petani, 1 kilo karet hanya dihargai Rp 3.500 – Rp 5000.

Begitu juga dengan petani kelapa sawit. Meski harganya masih rada stabil. Namun saat ini kelapa sawit masuhk fase trek. Akibatnya sangat kompleks. Saat ini sudah banyak para petani yang tidak sanggup lagi membayar cicilan kredit.

‘’ Jangankan bayar kredit, untuk beli beras bae lah dak cukup. Dulu kito motong (nyadap karet) sehari, hasilnya biso untuk belanjo minimal duo hari. Kalau sekarang, motong duo hari baru biso untuk nutupi belanjo sehari,’’ kata Tomi salah seorang petani Karet di Kecamatan Mestong, Muarojambi.

Kondisi ini diamini Asisten II Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Setda Provinsi Jambi, Agus Sunaryo. Menurut Agus, covid 19 juga berdampak besar pada harga jual produksi perkebunan sawit dan karet.  Agus menyebebutkan, berdasarkan dari laporan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, dua perushaan karet di Jambi harus tutup sementara dan tidak menerima produksi karena tidak bisa ekspor. 

Kemudian, delapan perusahaan juga telah menerapkan pembatasan pembelian. Sehari hanya 80 ton. Ini mempengaruhi harga karet.  “Dinas Perkebunan telah melakukan inventarisasi. Sementara ini sawit tidak terlalu berpengaruh dan masih tetap berjalan,” katanya.

Dari pantauan di lapangan, saat ini pelaku usaha dan para petani di Jambi masih berusaha bertahan dan sabar. Meski sudah mulai ‘babak belur’ mereka masih menganggap ini suatu cobaan. Sambil menahan diri, mereka berharap pemerintah bisa dengan cepat menangani covid-19 ini. Harapan itu sangat besar.

Jika penanganan wabah ini tidak cepat tuntas, maka kita tidak tahu apa yang bakal terjadi ke depannya. Yang namanya sabar tentu ada batasnya. Sebab, perut harus diisi. Kebutuhan harus dipenuhi. Apalagi sebentar lagi memasuki bulan ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran.  Kebutuhan masyarat (muslim) tentu akan meningkat. Nah.. dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika kondisi ekonomi makin terpuruk. ‘Ngeri ngeri sedap’ lah membayangkannya. Mudah mudahan tidak terjadi hal hal yang tuidak diinginkan. (ali/dre/zal/bin/kum)





BERITA BERIKUTNYA