JAMBI - Selama dua minggu terakhir, Provinsi Jambi telah mengalami peningkatan yang sangat signifikan dalam jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau.
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Suktan Thaha, Provinsi Jambi, pada bulan Oktober 2023, tercatat ada sebanyak 998 hotspot yang terpantau.
Angka ini mengalami kenaikan yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Peningkatan jumlah hotspot ini terutama terjadi dalam tiga hari terakhir, di mana mencapai angka 400 hotspot dalam periode tersebut.
Kondisi ini dipicu oleh kurangnya intensitas hujan, yang merupakan efek dari fenomena El Niño atau kemarau panjang.
Kabupaten Batanghari menjadi daerah yang paling banyak menyumbang titik panas selama bulan Oktober, diikuti oleh Kabupaten Sarolangun, Merangin, dan Tebo.
Keempat kabupaten ini menjadi fokus utama penyumbang titik panas yang dapat berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia.
Kurangnya curah hujan dan cuaca panas yang terus berlanjut telah menciptakan kondisi yang mendukung peningkatan hotspot.
Koordinator Informasi dan Data BMKG Stasiun Sultan Thaha Provinsi Jambi, Annisa Fauziah, menjelaskan bahwa situasi ini memerlukan perhatian serius.
Peningkatan jumlah hotspot dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, yang dapat menyebabkan dampak ekologis yang signifikan.
Selain itu, asap dan partikel berbahaya yang dihasilkan oleh kebakaran dapat merusak kualitas udara dan mengancam kesehatan manusia.
"Kemarau panjang dan cuaca panas yang berkelanjutan telah membuat titik-titik panas lebih mudah terpantau oleh BMKG Provinsi Jambi," katanya.
Oleh karena itu, para pihak terkait di Provinsi Jambi perlu meningkatkan kewaspadaan dan tindakan pencegahan yang lebih intensif untuk mengatasi potensi bencana yang disebabkan oleh peningkatan titik panas ini.
Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat, diharapkan potensi bencana akibat kebakaran dapat diminimalkan dan lingkungan serta kesehatan masyarakat dapat terlindungi