Aa Gym: Perbedaan Pendapat Itu Wajar, Jangan Disertai Amarah

Rabu, 15 April 2026 - 08:44:06 WIB - Dibaca: 129 kali

Tangkapan layar kajian Abdullah Gymnastiar bertajuk “Beda Pendapat Boleh, Marah Jangan” yang tayang di kanal YouTube Aagym Official.
Tangkapan layar kajian Abdullah Gymnastiar bertajuk “Beda Pendapat Boleh, Marah Jangan” yang tayang di kanal YouTube Aagym Official. (Saudi)

JAMBIPRIMA.COM, BANDUNG – Perbedaan pendapat dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Namun, menyikapi perbedaan tersebut dengan emosi dan amarah justru dapat merusak hubungan serta nilai-nilai kebersamaan.

Hal itu disampaikan dai kondang Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym dalam kajian bertajuk “Beda Pendapat Boleh, Marah Jangan” yang tayang di kanal YouTube Aagym Official.

Dalam kajian tersebut, Aa Gym menjelaskan bahwa perbedaan pendapat kerap terjadi karena latar belakang pengetahuan, pengalaman, hingga guru yang berbeda-beda. Oleh karena itu, menurutnya, setiap individu memiliki cara pandang masing-masing yang patut dihargai.

“Perbedaan itu sesuatu yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika kita menyikapinya dengan kemarahan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa sikap merasa paling benar menjadi salah satu pemicu utama munculnya konflik dalam perbedaan. Padahal, sikap tersebut dapat menutup ruang dialog yang sehat dan memperkeruh keadaan.

Lebih lanjut, Aa Gym mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan hati saat menyampaikan pendapat. Menurutnya, perkataan yang tidak terkontrol dapat melukai orang lain dan menimbulkan dampak yang berkepanjangan.

“Jangan sampai karena ingin mempertahankan pendapat, kita justru menyakiti orang lain. Itu merugikan, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan akhlak dalam setiap interaksi, termasuk saat terjadi perbedaan pandangan. Sikap sabar, rendah hati, dan saling menghormati dinilai menjadi kunci menjaga keharmonisan.

Melalui kajian ini, Aa Gym berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi perbedaan, serta menjadikan akhlak sebagai landasan utama dalam berkomunikasi.

Pesan tersebut dinilai relevan di tengah meningkatnya dinamika perbedaan opini, khususnya di era digital yang memungkinkan setiap orang dengan mudah menyampaikan pandangannya di ruang publik. (Sab)

 
 
 




BERITA BERIKUTNYA