UIN STS Jambi Jadi Tuan Rumah KST PTKI II 2026, Dorong Inovasi Berbasis Kearifan Lokal

Rabu, 06 Mei 2026 - 04:51:52 WIB - Dibaca: 174 kali

Suasana Kick Off KST PTKI II 2026 via Zoom Meeting, Rabu (5/5/2026).
Suasana Kick Off KST PTKI II 2026 via Zoom Meeting, Rabu (5/5/2026). (Syafitri Handayani)

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI — Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Kompetisi Sains dan Teknologi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam II (KST PTKI II) Tahun 2026. Penetapan ini menandai peran strategis UIN STS Jambi dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia.

Momentum tersebut dikukuhkan melalui kegiatan Kick Off yang digelar secara daring via Zoom Meeting pada Rabu (5/5/2026). Acara ini diikuti oleh pimpinan fakultas, dosen, hingga mahasiswa dari 21 Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN se-Indonesia, serta dihadiri oleh Ketua Forum Dekan (Fordek) FST PTKIN beserta jajaran pengurus.

Rektor UIN STS Jambi, Prof. Kasful Anwar, dalam sambutannya menegaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga ruang kolaborasi nasional bagi mahasiswa untuk menjawab tantangan zaman melalui pendekatan sains dan teknologi yang kontekstual.

“Ke depan, inovasi tidak bisa dilepaskan dari akar budaya dan nilai lokal. Kearifan lokal harus menjadi fondasi dalam membangun solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa KST PTKI II diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap dinamika sosial serta memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan masyarakat.

Mendorong Integrasi Sains, Teknologi, dan Nilai Lokal

Mengusung tema “Inovasi Berkelanjutan dan Kearifan Lokal untuk Masa Depan Indonesia”, KST PTKI II 2026 dirancang sebagai wadah integratif antara pengembangan teknologi dan pelestarian nilai-nilai lokal serta keislaman.

Tema ini dinilai relevan di tengah tantangan global seperti transformasi digital, perubahan iklim, hingga ketimpangan pembangunan. Dalam konteks tersebut, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menciptakan inovasi berbasis teknologi modern, tetapi juga menggali potensi lokal sebagai solusi alternatif yang berkelanjutan.

Pendekatan ini sekaligus menjadi ciri khas PTKIN, yang menggabungkan keilmuan sains dengan nilai-nilai spiritual dan sosial.

Tujuh Cabang Lomba, Adaptif dengan Tren Digital

KST PTKI II Tahun 2026 akan diselenggarakan sepenuhnya secara daring, mencerminkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan efisiensi partisipasi nasional. Kompetisi ini menghadirkan tujuh cabang lomba yang variatif dan relevan dengan kebutuhan era digital, yaitu:

  • Pemetaan Tematik menggunakan Google My Maps
  • Batik Digital Nusantara
  • Esai
  • Short Video Competition
  • Poster Ilmiah
  • The Entrepreneurial Creator
  • Videografis

Ragam kategori tersebut menunjukkan perluasan spektrum kompetisi, dari yang berbasis analisis ilmiah hingga kreativitas digital dan kewirausahaan.

Tahapan Kompetisi dan Partisipasi Nasional

Kompetisi ini terbuka bagi seluruh mahasiswa aktif FST PTKI di Indonesia. Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak April 2026 melalui tahap registrasi yang akan berlangsung hingga Mei 2026.

Selanjutnya, peserta akan melalui proses seleksi sebelum memasuki babak final yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026.

Dengan format nasional dan sistem daring, kompetisi ini diperkirakan akan menjangkau partisipasi yang lebih luas dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Peran Strategis UIN STS Jambi

Penunjukan UIN STS Jambi sebagai tuan rumah menjadi indikator meningkatnya kepercayaan terhadap kapasitas institusi tersebut dalam mengelola kegiatan akademik berskala nasional.

Selain itu, momentum ini juga membuka peluang bagi UIN STS Jambi untuk memperkuat jejaring kolaborasi antar-PTKIN, sekaligus mempromosikan potensi daerah Jambi sebagai bagian dari pengembangan kearifan lokal dalam inovasi.

Harapan ke Depan

Melalui KST PTKI II 2026, diharapkan lahir karya-karya inovatif yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat.

Lebih jauh, kompetisi ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang mampu menjembatani antara kemajuan teknologi dengan nilai-nilai lokal dan keislaman—sebuah kombinasi yang dinilai penting dalam membangun masa depan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA