Hari Adat Melayu Jambi dan 1 Muharram: Menjaga Identitas di Tengah Arus Perubahan Zaman

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:51:41 WIB - Dibaca: 83 kali

Sejumlah tokoh adat dan pemangku kepentingan berfoto bersama mengenakan pakaian adat Melayu Jambi pada peringatan Hari Adat Melayu Jambi di Balairung Sari LAM Provinsi Jambi, Selasa (16/6/2026).
Sejumlah tokoh adat dan pemangku kepentingan berfoto bersama mengenakan pakaian adat Melayu Jambi pada peringatan Hari Adat Melayu Jambi di Balairung Sari LAM Provinsi Jambi, Selasa (16/6/2026). (Rahim)

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Peringatan Hari Adat Melayu Jambi yang tahun ini bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Di balik prosesi adat yang berlangsung khidmat di Balairung Sari Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi, Selasa (16/6/2026), tersimpan pesan besar tentang upaya menjaga identitas masyarakat Melayu Jambi di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Momentum yang mempertemukan unsur pemerintah, tokoh adat, ulama, akademisi, hingga masyarakat tersebut menjadi ruang refleksi bersama mengenai hubungan erat antara adat dan agama yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Jambi.

Salah satu momen yang menarik perhatian dalam peringatan tersebut adalah saat Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., memimpin pembacaan doa. Di hadapan Gubernur Jambi Al Haris, Ketua LAM Provinsi Jambi Hasan Basri Agus, Ketua MUI Provinsi Jambi KH M. Umar Yusuf, serta para tokoh adat dan pemangku kepentingan lainnya, doa yang dipanjatkan tidak hanya berisi harapan akan keberkahan dan persatuan, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang pentingnya mempertahankan jati diri Melayu.

Dalam doanya, Prof. Kasful mengingatkan kembali falsafah yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Melayu Jambi, yakni “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Falsafah tersebut menegaskan bahwa adat dan agama bukanlah dua hal yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam membentuk karakter masyarakat.

Pesan yang disampaikan menjadi relevan dengan kondisi saat ini. Di era digital, ketika batas-batas budaya semakin terbuka dan arus informasi bergerak begitu cepat, tantangan menjaga identitas lokal menjadi semakin besar. Generasi muda kini hidup dalam lingkungan yang memungkinkan mereka mengakses berbagai budaya global hanya melalui layar telepon genggam.

Karena itu, doa yang dipanjatkan Rektor UIN STS Jambi mengandung pesan strategis bagi masa depan daerah.

"Jadikanlah kami generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya, tidak tercerai dari nilai agamanya, dan tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya perubahan zaman," demikian salah satu penggalan doa yang disampaikan.

Adat dan Agama Sebagai Fondasi Masyarakat Jambi

Dalam sejarah masyarakat Melayu Jambi, adat dan agama merupakan dua unsur yang sulit dipisahkan. Sejak masuknya Islam ke wilayah Jambi berabad-abad lalu, nilai-nilai keagamaan berasimilasi dengan budaya lokal dan membentuk karakter sosial masyarakat.

Prinsip “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” menjadi pedoman yang tidak hanya mengatur hubungan sosial, tetapi juga menjadi dasar dalam penyelesaian persoalan masyarakat, kehidupan keluarga, hingga tata pemerintahan adat.

Karena itu, peringatan Hari Adat Melayu Jambi yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam dinilai memiliki makna simbolis yang kuat. Keduanya sama-sama mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kembali kepada nilai-nilai dasar yang menjadi identitas daerah.

Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa peringatan tersebut menjadi momentum memperkuat kebersamaan dan persatuan masyarakat.

Menurutnya, adat istiadat Melayu Jambi merupakan warisan yang harus terus dijaga agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman.

"Semangat kebersamaan, kekompakan, dan persatuan harus terus dipelihara melalui kecintaan terhadap adat istiadat Melayu Jambi," ujarnya.

Tantangan Pelestarian di Era Modern

Meski masih hidup di tengah masyarakat, pelestarian adat Melayu menghadapi berbagai tantangan. Urbanisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan pola hidup generasi muda menjadi faktor yang membuat nilai-nilai tradisional berpotensi mengalami pergeseran.

Tidak sedikit tradisi yang mulai jarang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sebagian generasi muda mengenal budaya luar lebih dekat dibandingkan warisan budaya daerahnya sendiri.

Dalam konteks itulah peran lembaga pendidikan, tokoh agama, dan lembaga adat menjadi sangat penting. Pelestarian adat tidak cukup dilakukan melalui festival atau peringatan tahunan semata, tetapi harus hadir dalam pendidikan, lingkungan keluarga, serta kebijakan publik.

Pandangan tersebut sejalan dengan harapan yang disampaikan Rektor UIN STS Jambi agar nilai-nilai adat tidak berhenti sebagai simbol atau tradisi seremonial, melainkan tetap hidup dalam perilaku masyarakat, sistem pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan.

Menjaga Warisan untuk Masa Depan

Ketua LAM Provinsi Jambi, Hasan Basri Agus, menegaskan bahwa Hari Adat Melayu Jambi merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat Jambi.

Di tengah perubahan global yang terus berlangsung, identitas budaya menjadi salah satu modal penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter dan berdaya saing. Kemajuan teknologi dan pembangunan tidak harus menghilangkan akar budaya, melainkan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai lokal yang telah diwariskan para leluhur.

Karena itu, komitmen untuk menjadikan peringatan Hari Adat Melayu Jambi sebagai agenda tahunan memiliki makna lebih dari sekadar pelestarian tradisi. Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga ruh kebudayaan yang menjadi identitas masyarakat.

Peringatan Hari Adat Melayu Jambi tahun ini akhirnya menghadirkan pesan yang jelas: di tengah dunia yang terus berubah, masyarakat Jambi diharapkan tetap berpijak pada nilai adat dan agama sebagai kompas moral dalam menghadapi masa depan. Dengan begitu, generasi mendatang tidak hanya mewarisi kemajuan, tetapi juga mewarisi jati diri yang kuat sebagai masyarakat Melayu Jambi. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA