ISMI Jambi: Intelektual, Budaya, dan Tantangan Relevansi dalam Pembangunan Daerah

Senin, 22 Juni 2026 - 12:17:03 WIB - Dibaca: 178 kali

Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi.
Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi. (Diskominfo Provinsi Jambi)

Oleh: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP
Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi periode 2026–2030 tidak sekadar menjadi agenda organisasi. Momentum ini sekaligus membuka kembali pertanyaan klasik mengenai posisi kaum intelektual dalam arsitektur pembangunan daerah: sejauh mana gagasan dan pengetahuan mampu bertransformasi menjadi daya dorong kebijakan serta perubahan sosial yang nyata.

Pembangunan Jambi saat ini bergerak dalam dua wajah sekaligus. Di satu sisi, berbagai indikator menunjukkan kemajuan, baik dari pertumbuhan ekonomi maupun peningkatan kualitas hidup masyarakat. Namun di sisi lain, masih terdapat sejumlah pekerjaan struktural yang membutuhkan kontribusi pemikiran yang lebih mendalam, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan manfaat pembangunan, penguatan daya saing ekonomi, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, kehadiran kalangan intelektual bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi bagian penting dari kebutuhan pembangunan itu sendiri.

ISMI hadir dalam ruang tersebut sebagai simpul intelektual yang berakar pada tradisi keilmuan dan kebudayaan Melayu. Kehadirannya tidak semata bersifat simbolik, tetapi berpotensi menjadi kanal produksi gagasan yang mampu masuk ke ruang kebijakan dan menjawab berbagai persoalan publik.

Tema “Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban” menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan nilai, karakter, dan pengetahuan. Ilmu, budaya, serta pengabdian berada dalam satu garis yang saling menguatkan. Dalam sejarah sosial, peran intelektual selalu ditandai oleh dua fungsi utama, yakni memproduksi pengetahuan dan mengawal arah perubahan. Kedua fungsi tersebut menempatkan intelektual bukan sebagai penonton, melainkan sebagai aktor yang turut membentuk cara berpikir publik dan arah kebijakan.

Namun demikian, tidak sedikit organisasi intelektual yang akhirnya terjebak dalam siklus seremonial. Forum, seminar, dan diskusi sering kali berhenti pada tataran wacana tanpa berlanjut menjadi intervensi nyata dalam kebijakan maupun praktik pembangunan. Pada titik inilah tantangan utama ISMI sesungguhnya bukan terletak pada eksistensi organisasi, melainkan pada relevansinya.

Relevansi organisasi intelektual ditentukan oleh kemampuannya membaca persoalan publik secara tepat dan menerjemahkannya menjadi solusi yang dapat diterapkan. Tanpa kemampuan tersebut, organisasi hanya akan menjadi ruang diskusi yang berulang tanpa dampak yang jelas. Padahal, ISMI memiliki modal institusional yang cukup besar. Keragaman latar belakang keilmuan para anggotanya memungkinkan lahirnya berbagai kontribusi dalam bentuk kajian kebijakan, riset terapan, literasi publik, pendampingan UMKM, hingga penguatan kapasitas masyarakat.

Posisi ini menempatkan ISMI sebagai mitra strategis dalam ekosistem pembangunan daerah, bukan dalam hubungan yang kompetitif, melainkan kolaboratif, berbasis pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.

Dimensi kebudayaan semakin memperkuat signifikansi peran tersebut. Jambi tumbuh di atas akar peradaban Melayu yang panjang dan kaya nilai. Dengan jumlah penduduk yang mendekati 3,7 juta jiwa serta dinamika sosial yang terus berkembang akibat urbanisasi dan mobilitas ekonomi, keberagaman masyarakat menjadi modal sekaligus tantangan bagi pembangunan daerah.

Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai Melayu seperti musyawarah, gotong royong, dan kesantunan tetap relevan sebagai mekanisme sosial yang menjaga kohesi masyarakat di tengah perubahan zaman. Nilai budaya tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi berfungsi sebagai sistem etika sosial yang menopang kehidupan modern. Dengan demikian, budaya bukan sekadar identitas, melainkan instrumen sosial yang memperkuat pembangunan.

Di sisi lain, pembangunan manusia tetap menjadi isu sentral. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jambi yang terus menunjukkan peningkatan merupakan capaian yang patut diapresiasi. Namun, tantangan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat masih membutuhkan perhatian berkelanjutan. Demikian pula persoalan stunting yang masih memerlukan intervensi lintas sektor secara konsisten.

Dalam konteks tersebut, ruang kontribusi ISMI sesungguhnya sangat luas. Mulai dari penguatan literasi publik, pembinaan generasi muda, pengembangan kewirausahaan, pendampingan UMKM, hingga penguatan budaya riset. Kontribusi semacam ini memang tidak menghasilkan dampak instan, tetapi menjadi investasi sosial yang menentukan kualitas pembangunan jangka panjang.

Pembangunan daerah pada dasarnya tidak pernah berjalan sendiri. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal merupakan bagian dari satu ekosistem yang saling melengkapi. ISMI bergerak di dalam ruang tersebut sebagai bagian dari jaringan pengetahuan yang mendukung pembangunan.

Pertumbuhan ekonomi Jambi yang terus bergerak positif menunjukkan ketahanan ekonomi daerah yang cukup baik. Namun, pertumbuhan ekonomi tanpa kedalaman sosial berpotensi melahirkan ketimpangan baru yang lebih halus dan sistemik. Karena itu, gagasan yang lahir dari proses keilmuan menjadi instrumen koreksi yang sangat penting agar pembangunan tidak hanya menghasilkan angka, tetapi juga keadilan dan kesejahteraan yang merata.

Pelantikan Pengurus Wilayah ISMI Jambi periode 2026–2030 pada akhirnya menjadi awal dari pengujian relevansi organisasi ini dalam ruang pembangunan daerah. Momentum tersebut tidak boleh berhenti pada pembentukan struktur kepengurusan, melainkan harus diterjemahkan menjadi kerja-kerja nyata yang menghadirkan dampak terukur bagi masyarakat.

ISMI Jambi kini memasuki ruang ekspektasi publik. Eksistensinya akan dinilai bukan dari kuatnya legitimasi kelembagaan, melainkan dari kemampuan menghadirkan kontribusi intelektual yang nyata. Sebab, ukuran keberhasilan organisasi intelektual tidak ditentukan oleh banyaknya wacana yang diproduksi, melainkan oleh jejak perubahan yang dapat ditelusuri dalam cara masyarakat berpikir, bekerja, dan berkembang.

Semoga semangat pengabdian yang dibawa ISMI Jambi terus tumbuh dan menguat dalam kerja-kerja konkret ke depan, sehingga ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pembangunan benar-benar bertemu dalam satu tujuan besar: menghadirkan kemajuan yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi masyarakat Jambi.





BERITA BERIKUTNYA