Gregor Kobel Jadi Tembok Kokoh Swiss, Bawa Timnya Singkirkan Kolombia dan Tantang Argentina

Rabu, 08 Juli 2026 - 11:00:50 WIB - Dibaca: 140 kali

Kiper Swiss Gregor Kobel melakukan penyelamatan penting sepanjang pertandingan sebelum menjadi pahlawan dalam adu penalti yang membawa Swiss menyingkirkan Kolombia dan lolos ke perempat final Piala Dunia 2026.
Kiper Swiss Gregor Kobel melakukan penyelamatan penting sepanjang pertandingan sebelum menjadi pahlawan dalam adu penalti yang membawa Swiss menyingkirkan Kolombia dan lolos ke perempat final Piala Dunia 2026. (FIFA/Getty Images.)

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Gregor Kobel tampil sebagai pahlawan kemenangan Timnas Swiss pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Penjaga gawang berusia 28 tahun itu menjadi sosok yang paling menentukan saat Swiss menyingkirkan Kolombia lewat drama adu penalti 4-3 setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.

Dari hasil pengamatanJambiprima.com melalui siaran langsung pertandingan, duel yang berlangsung di BC Place, Vancouver, Kanada, Rabu (8/7/2026) WIB, berlangsung sengit dan minim peluang. Kolombia lebih banyak menguasai permainan, tetapi berkali-kali gagal menaklukkan ketangguhan Kobel di bawah mistar gawang Swiss.

Sejak babak pertama, Kobel sudah menunjukkan kualitasnya. Ia melakukan penyelamatan gemilang saat menepis tendangan melengkung Gustavo Puerta dari luar kotak penalti yang mengarah ke sudut gawang.

Memasuki babak kedua, tekanan Kolombia semakin meningkat. Namun, kiper Borussia Dortmund itu tetap tampil tenang mengawal lini pertahanan Swiss yang harus bermain tanpa bintang muda Johan Manzambi akibat cedera lutut sebelum pertandingan.

Drama berlanjut hingga babak tambahan waktu. Kobel kembali menjadi penyelamat saat Kolombia terus menggempur pertahanan Swiss. Beruntung bagi tim asuhan Murat Yakin, sundulan Jhon Lucumi hanya membentur mistar gawang sehingga skor tetap bertahan 0-0.

Pada babak adu penalti, Gregor Kobel kembali menunjukkan kelasnya. Setelah Davinson Sanchez gagal karena tendangannya membentur mistar, Kobel menggagalkan eksekusi Cucho Hernandez dengan penyelamatan gemilang yang membuat Swiss berada di atas angin.

Ruben Vargas kemudian menyempurnakan kemenangan Swiss melalui tendangan penalti terakhir yang memastikan skor 4-3 sekaligus mengantarkan negaranya melaju ke babak perempat final untuk menghadapi Argentina.

Penampilan luar biasa Kobel sepanjang pertandingan membuat FIFA menganugerahinya penghargaan Michelob Ultra Superior Player of the Match. Gelar tersebut dinilai pantas setelah ia menjadi faktor utama keberhasilan Swiss mencatat clean sheet selama 120 menit dan tampil sebagai penentu kemenangan pada babak adu penalti.

Keberhasilan ini juga menjadi sejarah bagi Swiss. Untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1954, mereka berhasil menembus babak perempat final. Selain itu, Swiss juga memperpanjang catatan impresif dengan hanya sekali menelan kekalahan dalam 19 pertandingan internasional terakhir.

Dalam rilis resmi FIFA, Ruben Vargas mengaku masih sulit mempercayai keberhasilan timnya mencetak sejarah.

"Saya rasa sampai sekarang saya belum sepenuhnya menyadarinya. Saya bersyukur kepada Tuhan atas momen ini. Saya bahkan sempat ragu apakah bisa bermain. Tim bekerja sangat keras selama lebih dari 120 menit. Kini kami berhasil mencetak sejarah dan rasanya luar biasa," ujar Vargas.

Sementara itu, kapten Swiss Granit Xhaka menilai generasi pemain yang dimiliki negaranya saat ini merupakan kelompok yang istimewa. Menurutnya, perpaduan pemain senior dan muda menjadi kunci keberhasilan Swiss menorehkan sejarah di Piala Dunia 2026.

"Saya rasa generasi yang kami miliki saat ini adalah generasi yang istimewa. Semoga suatu hari nanti kami bisa melihat generasi seperti ini lagi, karena kami sudah lama menantikannya. Kami, para pemain yang lebih berpengalaman, terus didorong oleh pemain-pemain muda, dan pada saat yang sama kami harus memberi teladan di setiap hari dan setiap pertandingan. Kami berusaha membagikan pengalaman, tetapi yang terpenting adalah mentalitas bahwa meski kami berasal dari negara kecil, apa pun bisa terjadi di level tertinggi sepak bola. Mulai dari staf pelatih hingga pemain terakhir, kami semua pantas bangga dengan apa yang telah kami capai," katanya. (Sab)

 





BERITA BERIKUTNYA