JAMBIPRIMA.COM, JAMBI — Perubahan pola belanja masyarakat mulai terlihat seiring meningkatnya tekanan harga dan ketidakpastian pendapatan. Konsumen kini cenderung lebih rasional dalam menentukan pilihan, dengan mempertimbangkan harga dan manfaat produk dibanding loyalitas terhadap merek.
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jambi sekaligus pengamat ekonomi dan kebijakan publik, Noviardi Ferzi, menilai perubahan tersebut merupakan bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Menurutnya, masyarakat tidak berhenti berbelanja. Namun, pilihan konsumen bergeser dari produk premium ke barang yang lebih terjangkau.
“Fenomena ini bukan hanya soal daya beli yang melemah, tetapi juga perubahan perilaku konsumen dalam menghadapi tekanan harga dan ketidakpastian pendapatan,” ujar Noviardi dalam analisisnya.
Ia mencontohkan perubahan pilihan konsumen terhadap produk kebutuhan sehari-hari. Jika sebelumnya sebagian masyarakat cenderung mempertahankan merek tertentu, kini harga menjadi salah satu pertimbangan utama.
Kondisi tersebut, kata Noviardi, menunjukkan meningkatnya sensitivitas konsumen terhadap harga. Masyarakat tetap membeli barang yang dibutuhkan, tetapi semakin selektif dalam menentukan produk.
Data makroekonomi juga menunjukkan adanya tekanan tersebut. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026 menjadi 3,19 persen pada Agustus 2026. Sementara inflasi inti tercatat 2,92 persen secara tahunan.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2026 masih tumbuh 5,06 persen secara tahunan. Angka itu berada sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.
“Artinya, konsumsi masyarakat tidak sedang kolaps. Yang berubah adalah cara dan kualitas belanjanya,” kata Noviardi.
Perubahan pola konsumsi juga terlihat dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai 116,8 pada Juli 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa masyarakat semakin berhati-hati dalam mengalokasikan pengeluaran.
Noviardi menyebut fenomena itu sebagai downtrading, yakni kecenderungan konsumen berpindah dari produk yang lebih mahal ke alternatif dengan harga lebih rendah.
Bentuknya beragam, mulai dari memilih kemasan lebih kecil, membeli produk dengan merek yang lebih murah, memanfaatkan promosi, mengurangi makan di luar hingga mempertimbangkan barang bekas.
Menurut dia, perubahan perilaku tersebut juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha. Strategi bisnis tidak lagi cukup mengandalkan kekuatan merek, tetapi harus mampu menawarkan manfaat yang sebanding dengan harga yang dibayar konsumen.
“Produsen dan peritel perlu memperkuat produk dengan harga terjangkau, menyediakan ukuran yang lebih kecil, serta menawarkan promosi tanpa mengabaikan kualitas,” ujarnya.
Di Jambi, perubahan pola belanja itu juga dinilai berpotensi menjadi peluang bagi pelaku UMKM. Produk lokal maupun merek lapis kedua yang mampu menawarkan fungsi serupa dengan harga lebih murah berpeluang mengambil pasar dari produk premium.
Noviardi menilai pemerintah daerah juga perlu menjaga harga komoditas yang paling berpengaruh terhadap pengeluaran masyarakat, terutama pangan, energi dan biaya transportasi.
“Menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok akan lebih langsung dirasakan masyarakat dibanding hanya mengandalkan stimulus yang dampaknya belum tentu merata,” katanya. (rhm)
Rp68 Miliar IJD Masuk Tebo, Ketua Komisi III: Terima Kasih Mas Edi!
Wartawan Bidik Indonesia News Tebo Moncer di UKW, M. Halik Raih Nilai Tertinggi Kedua
Hilirisasi Sawit Tak Sekadar Bangun PKS, Akademisi UIN Jambi Ungkap Alasannya
Aklamasi! Ismail AB dan Mus Mulyadi Kembali Nahkodai Golkar VII Koto Ilir dan VII Koto
Pemkot Jambi Perkuat Sinergi BNN Tangani Kawasan Rawan Narkotika
Al Haris Minta Bank Jambi Jadi Mitra UMKM, Bukan Sekadar Penyalur Kredit