Bisnis Toko Baju Makin Sepi, Pengusaha Rimbo Bujang Soroti Perubahan Pola Belanja

Selasa, 15 September 2026 - 15:16:51 WIB - Dibaca: 44 kali

Ilustrasi toko pakaian yang menghadapi persaingan penjualan online. Foto: Subahan
Ilustrasi toko pakaian yang menghadapi persaingan penjualan online. Foto: Subahan ()

JAMBIPRIMA.COM, TEBO – Bisnis toko pakaian kini menghadapi tantangan seiring perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Kehadiran platform belanja online membuat konsumen semakin mudah membeli pakaian tanpa harus datang langsung ke toko.

Kondisi tersebut turut dirasakan Said, pengusaha pakaian asal Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. Ia menyebut aktivitas penjualan toko pakaian saat ini cenderung lebih sepi dibanding sebelumnya.

“Sekarang memang terasa sepi. Banyak orang sudah terbiasa belanja lewat online. Tinggal buka HP, pilih barang, lihat harga, kemudian barang diantar ke rumah,” kata Said, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha pakaian. Terlebih, pakaian bukan merupakan kebutuhan yang dibeli masyarakat setiap hari.

“Orang biasanya belanja baju pada waktu-waktu tertentu saja, seperti menjelang Lebaran, Natal, tahun baru atau ketika ada acara keluarga,” ujarnya.

Perubahan pola belanja itu membuat pemilik toko pakaian perlu beradaptasi. Penjualan secara offline tetap dapat dipertahankan, tetapi harus didukung strategi pemasaran melalui platform digital.

Media sosial seperti Instagram dan TikTok dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan koleksi baru, menampilkan cara memadukan pakaian hingga memberikan informasi produk kepada calon pembeli.

Selain harga, pelayanan dan kualitas produk juga menjadi faktor yang dapat membuat pelanggan kembali berbelanja. Karakter serta citra sebuah toko juga dinilai penting dalam mempertahankan pelanggan.

“Jangan hanya mengandalkan harga murah. Pelayanan, kualitas barang dan bagaimana kita membuat pelanggan nyaman juga penting,” kata Said.

Ia menilai menjaga pelanggan lama juga tidak kalah penting dibandingkan mencari pelanggan baru. Program member, voucher pembelian berikutnya maupun promo khusus pelanggan setia dapat menjadi strategi untuk mendorong pembelian ulang.

Pelaku usaha juga perlu membaca pola penjualan berdasarkan musim. Jika penjualan biasanya meningkat menjelang Lebaran, Natal atau momen tertentu, stok dan promosi harus dipersiapkan lebih awal.

“Yang penting kita harus bisa membaca kapan pasar ramai dan kapan sepi. Saat sepi, harus ada strategi supaya pelanggan tetap datang,” jelasnya.

Menurut Said, persaingan toko fisik dengan toko online tidak harus dilihat sebagai pertarungan yang saling mematikan. Keduanya justru dapat dikombinasikan untuk memperluas pasar.

Toko fisik tetap memiliki keunggulan karena pelanggan dapat melihat dan mencoba pakaian secara langsung. Sementara penjualan digital memungkinkan produk menjangkau konsumen di wilayah yang lebih luas.

“Sekarang zamannya memang harus mengikuti perubahan. Toko tetap ada, tapi pemasaran juga harus masuk ke online,” pungkas Said. (san)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA