Kemarau Jadi Momentum Belajar Jaga Lingkungan dan Perkuat Ketahanan Pangan

Jumat, 18 September 2026 - 13:13:03 WIB - Dibaca: 67 kali

Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi, Sutan Adil Hendra (SAH), usai melaksanakan salat Subuh. Foto: Firdaus
Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi, Sutan Adil Hendra (SAH), usai melaksanakan salat Subuh. Foto: Firdaus ()

JAMBIPRUMA.COM, JAMBI – Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH), menyebut musim kemarau harus menjadi momentum untuk mengevaluasi pengelolaan lingkungan dan memperkuat ketahanan pangan. Menurutnya, kemarau juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim.

Hal itu disampaikan SAH saat dikonfirmasi pada kamis (17/9/2026). Dia mengatakan perubahan kondisi alam perlu menjadi bahan evaluasi bersama, baik bagi masyarakat maupun pemerintah.

"Dari kemarau kita belajar bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga. Ketika ketersediaannya berkurang, dampaknya bukan hanya terhadap kebutuhan rumah tangga, tetapi juga pertanian, peternakan dan aktivitas ekonomi masyarakat," ujar SAH.

Tokoh yang dikenal sebagai bapak beasiswa Jambi itu menilai kemarau juga memberikan pelajaran mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pembangunan, kata dia, tidak boleh hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi harus tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan.

SAH yang juga dikenal sebagai pejuang sektor pertanian mengatakan ketahanan pangan memiliki kaitan erat dengan ketersediaan air. Karena itu, pembangunan infrastruktur pertanian, pengelolaan irigasi, konservasi sumber air hingga peningkatan kapasitas petani perlu dilakukan secara berkelanjutan.

"Ketahanan pangan tidak berdiri sendiri. Ada air, lahan, petani, teknologi dan kebijakan yang saling berkaitan. Kemarau mengingatkan kita bahwa semua komponen itu harus dipersiapkan dengan baik," katanya.

Selain penguatan sektor pertanian, SAH mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan selama menghadapi musim kemarau. Penghematan air, menjaga kebersihan sumber air, penghijauan dan tidak melakukan pembakaran lahan disebut sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Menurutnya, persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk meminimalkan dampak kemarau sekaligus memperkuat ketahanan daerah menghadapi perubahan iklim.

"Setiap musim membawa pelajaran. Kemarau mengajarkan kita tentang kesabaran, efisiensi dan pentingnya persiapan. Jangan sampai ketika air berlimpah kita lupa menjaganya, lalu ketika kemarau datang kita baru menyadari betapa berharganya air," tutur SAH.

Dia menambahkan, pelajaran terbesar dari kemarau adalah pentingnya membangun kebiasaan dan kebijakan yang berorientasi jangka panjang.

"Menjaga alam hari ini merupakan investasi bagi keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan generasi mendatang," pungkasnya. (rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA