Isu Palestina Mengemuka di IGIC 2026, Rektor UIN Jambi Bicara Peran Kampus

Sabtu, 26 September 2026 - 14:45:03 WIB - Dibaca: 383 kali

Rektor UIN STS Jambi Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd. foto bersama dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto: Syafitri
Rektor UIN STS Jambi Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd. foto bersama dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto: Syafitri ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina kembali mengemuka dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Forum tersebut mempertemukan para imam besar dan pemimpin keagamaan dari berbagai negara. Salah satu agenda pentingnya adalah pertemuan Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, dengan Mufti Agung Al-Quds sekaligus Imam Masjid Al-Aqsa Palestina, Syekh Muhammad Hussein, serta Penasihat Presiden Otoritas Palestina untuk Urusan Agama yang juga Hakim Syariah Tertinggi, Mahmoud Al-Habbash.

IGIC 2026 mengusung tema “Mosque Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace”. Forum ini membahas sejumlah isu, mulai dari harmoni masjid, diplomasi keagamaan, kemanusiaan hingga perdamaian dunia dan dijadwalkan berlangsung hingga 28 September 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Menag Nasaruddin Umar menegaskan dukungan Indonesia terhadap Palestina. Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen kemanusiaan dan amanat konstitusi.

“Indonesia akan selalu dan selamanya berdiri bersama Palestina. Kemerdekaan Palestina adalah harga mati, dan kami di Kementerian Agama berkomitmen untuk menerjemahkan dukungan tersebut ke dalam langkah-langkah nyata yang berdampak langsung bagi masa depan generasi muda Palestina,” tegas Nasaruddin, Jumat (25/9/2026).

Menanggapi pelaksanaan IGIC 2026, Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., mengatakan forum tersebut memperlihatkan pentingnya peran pemimpin agama dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan global.

Menurutnya, pertemuan para pemimpin keagamaan dari berbagai negara dapat menjadi ruang untuk membangun dialog dan memperkuat pesan perdamaian di tengah keberagaman dunia.

Ia menilai pendekatan keagamaan juga dapat berjalan beriringan dengan upaya diplomasi dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perdamaian. Gagasan tersebut sejalan dengan konsep spiritual diplomacy yang menjadi salah satu perhatian dalam IGIC 2026.

Selain itu, momentum tersebut dinilai memiliki relevansi bagi perguruan tinggi Islam. Kampus tidak hanya memiliki peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap persoalan kemanusiaan melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kerja sama internasional.

Isu Palestina menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian IGIC 2026. Pada Jumat (25/9/2026), Syekh Muhammad Hussein menyampaikan pesan mengenai Palestina dan perdamaian dunia di Masjid Istiqlal. Para imam besar yang hadir juga mengikuti doa bersama untuk persatuan umat dan Masjid Al-Aqsa.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan komitmen untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa Palestina melalui program beasiswa di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN).

Bagi UIN STS Jambi, isu kemanusiaan dan perdamaian tersebut menjadi bagian yang dapat diperkuat melalui kontribusi akademik. Perguruan tinggi memiliki ruang untuk mengembangkan penelitian, pendidikan, pengabdian serta jejaring kerja sama internasional yang berkaitan dengan persoalan global.

Selain isu Palestina, IGIC 2026 turut menyoroti penguatan fungsi masjid. Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki potensi sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kegiatan sosial, dialog dan penguatan solidaritas.

Gagasan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki keragaman agama, budaya dan tradisi. Dalam konteks perguruan tinggi Islam, diplomasi keagamaan juga dapat diperkuat melalui diplomasi akademik.

UIN STS Jambi menyatakan akan terus mendorong kerja sama akademik dan internasionalisasi perguruan tinggi dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal.

“Kita ingin melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, kuat secara moral, memiliki kepedulian sosial dan mampu berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Semangat perdamaian yang digaungkan dari Istiqlal harus menjadi energi bersama untuk membangun dunia yang lebih manusiawi,” pungkas Prof. Kasful Anwar. (rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA