ISPU Jambi Tembus 389, Kabut Asap Mulai Menekan Warga yang Tetap Bekerja

Rabu, 07 Oktober 2026 - 12:05:55 WIB - Dibaca: 131 kali

Pengendara motor melintas di tengah pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi. Foto: Rahim
Pengendara motor melintas di tengah pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Kualitas udara di Kota Jambi memburuk drastis. Pada Senin (5/10/2026) pagi, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai angka 389, level yang masuk kategori berbahaya bagi kesehatan.

Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi polutan di udara. Kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan jarak pandang atau langit yang tertutup kabut asap, tetapi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Bagi warga yang bekerja di ruang terbuka, pilihan untuk menghindari paparan asap menjadi persoalan yang tidak sederhana. Mereka tetap harus keluar rumah untuk bekerja meski risiko gangguan kesehatan semakin nyata.

Sejumlah warga mengaku mulai mengalami keluhan seperti mata perih, sesak napas hingga gangguan pernapasan. Keluhan tersebut muncul ketika kabut asap semakin pekat dan aktivitas di luar ruangan tetap harus dilakukan.

Alex, seorang pengemudi ojek pangkalan di kawasan Kantor Wali Kota Jambi, menjadi salah satu warga yang merasakan langsung dampak buruk kondisi udara tersebut.

Aktivitasnya sebagai pengemudi membuat Alex harus berhadapan dengan udara tercemar sepanjang hari. Kondisi itu bahkan mulai mengganggu penglihatannya ketika mengendarai sepeda motor.

"Mata perih sekali, susah untuk bawak motor," katanya saat ditemui, Senin (5/10/2026).

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika gangguan kesehatan berhadapan dengan kebutuhan ekonomi. Bagi Alex, tetap bekerja bukan semata-mata pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan keluarganya tetap bisa makan.

Ia mengaku mulai mengalami gangguan pernapasan. Namun, keinginan untuk beristirahat di rumah harus berhadapan dengan kebutuhan mencari nafkah.

Kondisi ekonomi juga membuatnya belum memeriksakan keluhan kesehatan yang dialami ke fasilitas pelayanan kesehatan. Ia mengaku tidak memiliki BPJS dan terkendala biaya untuk berobat.

Situasi serupa dialami Aldi, warga yang masih harus bekerja di lapangan meski kualitas udara memburuk. Ia bahkan telah menggunakan masker standar KN95 sebagai upaya mengurangi paparan polutan.

Namun, perlindungan tersebut belum sepenuhnya membuatnya terbebas dari dampak kabut asap. Aldi tetap mengeluhkan sesak di bagian dada ketika beraktivitas.

"Saya sudah pakai masker yang direkomendasikan, tapi tetap aja sesak napas," katanya.

Persoalan pencemaran udara juga mulai memasuki ruang yang selama ini dianggap lebih aman, yakni rumah. Kabut asap yang semakin pekat membuat sebagian warga tetap merasakan dampaknya meski lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan.

Rizal, warga setempat, mengaku mengalami sesak napas meski telah berusaha menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan kelompok masyarakat yang bekerja di jalan atau ruang terbuka. Ketika kualitas udara berada pada level yang sangat buruk, paparan polutan dapat menjadi persoalan bagi masyarakat secara lebih luas.

Di tengah kondisi itu, warga menghadapi dilema antara menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan hidup. Pekerja lapangan tidak memiliki banyak pilihan untuk menghentikan aktivitas, sementara warga di dalam rumah pun belum sepenuhnya terbebas dari paparan udara tercemar.

Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika kualitas udara mencapai level berbahaya, dampaknya merembet menjadi persoalan kesehatan dan ekonomi masyarakat.

Rizal menggambarkan keresahan warga terhadap kondisi udara yang semakin memburuk. Ia mengaku tetap menggunakan masker dan berada di dalam rumah, namun gangguan pernapasan masih dirasakan.

"Saya katakan asap sudah terlalu parah ni, padahal selalu pakai masker dan di dalam rumah tapi masih sesak napas," tuturnya. (rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA