Sampah ke TPA Talang Gulo Masih 400 Ton per Hari, Pemilahan dari Rumah Jadi Tantangan

Rabu, 07 Oktober 2026 - 12:21:21 WIB - Dibaca: 52 kali

Kepala TPA Talang Gulo Kota Jambi, Tri Suyono, saat memberikan penjelasan terkait volume sampah yang masuk ke TPA. Foto: Rahim
Kepala TPA Talang Gulo Kota Jambi, Tri Suyono, saat memberikan penjelasan terkait volume sampah yang masuk ke TPA. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Talang Gulo, Kota Jambi, masih mencapai 387 hingga 400 ton per hari. Di tengah pelaksanaan program Operasional Pengangkutan Berbasis Masyarakat (OPBM), upaya menekan jumlah sampah yang berakhir di TPA masih menghadapi tantangan, terutama karena sampah yang diangkut masih banyak dalam kondisi tercampur.

Data tersebut disampaikan pada Selasa (6/10/2026). Tingginya volume sampah yang masuk setiap hari menjadi gambaran bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan dan pemrosesan di TPA. Peran masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah menjadi bagian penting yang perlu diperkuat.

Kepala TPA Talang Gulo Kota Jambi, Tri Suyono, menjelaskan bahwa hingga kini sampah yang masuk ke lokasi tersebut masih didominasi sampah yang belum dipilah berdasarkan jenisnya. Kondisi ini membuat proses pengolahan membutuhkan penanganan lebih, meskipun fasilitas TPA telah menjalankan proses pemilahan dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.

"Sampah yang masuk masih banyak yang tercampur. Karena itu, edukasi dan pemilahan dari sumber sangat penting agar sampah yang dibawa ke TPA bisa berkurang," tutur Tri Suyono.

OPBM Didorong untuk Mengubah Kebiasaan Masyarakat

Program Operasional Pengangkutan Berbasis Masyarakat atau OPBM menjadi salah satu upaya yang dijalankan untuk mendorong keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah. Melalui program ini, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penghasil sampah, tetapi juga ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari.

Pemilahan dari sumber berarti memisahkan sampah sejak awal, misalnya sampah organik berupa sisa makanan dan dedaunan dari sampah anorganik seperti plastik, kertas, serta kemasan lainnya. Langkah sederhana tersebut dapat membantu proses pengolahan sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Namun, perubahan kebiasaan tidak dapat terjadi hanya melalui penyediaan sistem pengangkutan. Edukasi yang berkelanjutan, pemahaman mengenai jenis sampah, serta konsistensi warga dalam memilah menjadi faktor penting agar program pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif.

Apabila sampah sudah tercampur sejak dari rumah, proses pemisahan harus dilakukan kembali pada tahap berikutnya. Hal ini menambah kebutuhan penanganan dan berpotensi menyulitkan pemanfaatan material yang sebenarnya masih bisa didaur ulang atau diolah.

Pengolahan di TPA Bukan Satu-satunya Solusi

TPA Talang Gulo telah melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Meski demikian, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pengurangan sampah dari sumbernya agar beban yang masuk ke lokasi pemrosesan akhir dapat ditekan.

Dengan volume sampah mencapai 387 hingga 400 ton per hari, pengurangan sampah dalam jumlah kecil dari setiap rumah tangga sekalipun berpotensi memberikan dampak apabila dilakukan secara konsisten oleh banyak warga.

Sampah organik yang dipisahkan sejak awal, misalnya, dapat diarahkan untuk pengolahan menjadi kompos. Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah untuk digunakan kembali atau disalurkan melalui mekanisme daur ulang yang tersedia.

Sebaliknya, apabila seluruh jenis sampah terus tercampur, proses penanganan di TPA akan tetap membutuhkan tahapan tambahan. Karena itu, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fasilitas pemrosesan akhir, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat sebelum sampah diangkut.

Perubahan Dimulai dari Rumah Tangga

Edukasi pemilahan sampah menjadi salah satu aspek yang terus didorong dalam pelaksanaan OPBM. Masyarakat diharapkan mulai membiasakan diri memisahkan sampah sesuai jenisnya sebelum diserahkan kepada petugas pengangkut.

Langkah tersebut bukan sekadar bertujuan mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, melainkan juga membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Rumah tangga, petugas pengangkut, pengelola fasilitas pengolahan, dan pemerintah memiliki peran yang saling berkaitan dalam rantai pengelolaan sampah.

Di sisi masyarakat, kebiasaan memilah sampah perlu diterapkan secara konsisten. Sementara itu, edukasi harus disertai pemahaman yang jelas mengenai cara pemilahan dan pengelolaan sampah setelah dikumpulkan, sehingga upaya warga tidak berhenti pada pemisahan semata.

Besarnya volume sampah yang masuk ke TPA Talang Gulo menunjukkan bahwa tantangan pengelolaan sampah tidak selesai ketika sampah diangkut dari permukiman. Pengurangan dari sumber, pemilahan yang benar, dan pengolahan sesuai jenisnya merupakan rangkaian yang perlu berjalan bersama.

OPBM diharapkan dapat memperkuat keterlibatan masyarakat dalam proses tersebut. Dengan membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah, beban pengolahan di TPA berpeluang berkurang dan pemanfaatan sampah yang masih bernilai dapat ditingkatkan.

Pada akhirnya, persoalan sampah di Kota Jambi bukan hanya tentang berapa banyak sampah yang dapat diangkut setiap hari, tetapi juga bagaimana sampah itu dikelola sebelum mencapai tempat pemrosesan akhir. Perubahan kebiasaan dari rumah tangga menjadi salah satu langkah awal untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berkelanjutan. (rhm)





BERITA BERIKUTNYA