Pertarungan Sengit Menuju Senayan; Integritas dan Kekuatan Finansial Sangat Menentukan

Senin, 25 Maret 2019 - 16:03:23 WIB - Dibaca: 2241 kali

()

 

 jambione.com, Pertarungan menuju senayan dari Jambi berlangsung ketat. Delapan jatah kursi DPR RI untuk Jambi akan diperebutkan oleh 110 caleg dari 19 partai. Selain enam petahana, ratusan caleg tersebut berasal berbagai kalangan. Mulai dari politisi (senior), pengusaha, juga ada para politisi junior yang sudah punya nama ikut mengadu peruntungan. Strategi, Integritas/kridibelitas dan kekuatan finansial sangat menentukan.

  Pileg 2019, 17 April mendatang tinggal sebulan lagi. Para calag terlihat makin gencar melakukan sosialisasi. Termasuk Caleg DPR RI Dapil Jambi. Berbagai strategi kampanye dilakukan. Turun langsung ke tengah masyarakat. Tandem dengan caleg DPRD Provinsi dan kabupaten Kota. Pengerahan pemasangan baliho. Dan adu kekuatan finansial pun dilakukan dengan harapan dicoblos pada 17 April nanti.

Melihat nama nama caleg yang maju dan pergerakannya melakukan sosialisasi, enam petahana tidak bisa  dengan mudah melenggang. Mereka harus bekerja keras meyakinkan dan menjaga basis massanya yang jelas bakal diserang oleh para penantang. K eneam caleh petahana itu  yakni, Sutan Adil Hendra (Gerinda), Saniatul Lativa (Golkar), H Bakri (PAN), Ihsan Yunus (PDIP), Zulfikar Achmad (Demokrat) dan Handayani (PKB).

Jika tidak bisa menjaga basis massanya, alih alir terpilih. Mereka bisa bisa malah tersingkir. Pasalnya, lawan lawan yang dihadapi cukup berat. Diantaranya, politisi senior yang sudah populer dan punya massa, Hasan Basri Agus (HBA). Meski sudah populer, Mantan Gubernur Jambi terlihat terus melakukan sosialisasi secara masif ke daearah daerah. HBA yang maju lewat partai Golkar diyakini bisa merebut satu dari delapan kursi di sanayan.

Kemudian, ada nama Murady Dharmasyah yang maju lewat Partai Gerindra. Selain punya basis massa militan, dia juga sudah perpengalaman. Sebelumnya, Murady sudah pernah duduk di DPR RI dapil Jambi dari partai Hanura. Belum lagi kekuatan finasialnya. Tidak perlu diragukan lagi.

Lalu, sejumlah politisi muda yang sudah punya nama, seperti Dipo Ilham Djalil dari PAN, Agus  Roni dari Nasden, Sofyan Ali dan PKB, Dodi Sularso dari PPP dan Paut Sakarin dari Demokrat juga menjadi ancaman bagi para petahanan. Apalagi Dipo Ilham dan Dodi sudah berpengalaman. Pada pileg 2014 lalu, keduanya juga maju sebagai caleg DPR RI.

Belajar dari pengalaman lima tahun lalu, kini keduanya diyakini punya strategi khusus untuk mendulang suara. Apalagi keduanya punyak kekuatan finasial yang tidak cukup kuat.
            Agus Roni dan Sofyan Ali juga punya kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng. Sebagai pendukung capres nomor urut 01, suara keduanya diprediksi akan terkerek dengan sendirinya. Apalagi Agus Roni adalah Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Capres 01 di Provinsi Jambi.  Sementara Sofyan Ali, juga punya jaringan Pendamping Desa yang tersebar di seluruh desa di Provinsi Jambi.

Sedangkan Paut Sakarin adalah pengusaha ternama di Jambi. Meski namanya baru muncul, Paut diyakini punyak kekuatan finansial yang mungkin lebih dari caleg lain. Sayangnya nama Paut terseret dalam kasus hukum yang menimpa mantan Gubernur Jambi

Zumi Zola.

Pengamat Politik dari UIN Jambi, Bahren Nurdin menyatakan situasi politik pada Pileg 2019 ini sedikit berbeda dengan tahun politik sebelumnya. Jumlah caleg yang maju semakin banyak. Begitu juga dengan jumlah partai politik (Parpol) seperta pemilu. Melihat penomena ini, menurut Bahren semua caleg memiliki peluang yang sama. Kuncinya mereka harus bekerja keras merebut simpatik masyarakat. Ini berlaku untuk semua caleg. Termasuk petahana.

Menurut penilaian Bahren, sekarang ini para pemilih (masyarakat) sudah cerdas. Mereka tidak lagi memandang apakah itu caleg petahanan (incumbent), politisi senior atau tokoh muda  alias politisi junior. Yang akan dinilai adalah integritas dan kredibelitas caleg.

‘’ Jadi jaman sekarang ini, senior, junior, tokoh muda atau incumbent orang tidak pandang lagi. Pemilih lebih melihat kepada integritas dan kredibelitas caleg. Apa yang sudah dan akan mereka lakukan. Masuk akan tidak. Itu yang penting,’’ jelasnya. 

Menurut pandangan Bahren, saat ini citra para politisi muda sudah tercoreng. Karena banyak yang tersangkut kasus hukum. Korupsi. Termasuk di Jambi. Kondisi ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap para politisi muda menurun. “ Banyak masyarakat sekarang itu berfikir bahwa politisi muda belum mampu diberikan jabatan atau amanah. Karena banyak politisi muda yang korupsi,” katanya. 

Begitu juga dengan yang senior. Apalagi dengan adanya kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK di Jambi terkait pengesahan RAPBD Provinsi Jambi 2017-2018. Kejadian itu

Membuka mata masyarakat secara terang benderang bagaimana kelakukan politisi. Ini jelas merusak citra politisi dimata masyarakat. Masyarakat berpandangan, tua muda sama saja. 

Apakah politisi muda bisa menjadi ancaman bagi yang senior menuju senayan pada Pileg 2019. Atau malah sebaliknya? Menurut Bahren tidak ada ancaman. Dia malah mengatakan, apabila ada yang merasa terancam, bisa dipastikan caleg tersebut tidak memiliki kredibilitas.

“ Kalau caleg itu tidak memiliki integritas dan kredibilitas. Kemampuan dan track record yang baik, pasti mereka akan merasa terancam. Sebaliknya kalau caleg yang kredibel, memiliki kemampuan, karir bagus dan prestasi bagus, tentu ini bukanlah persoalan berat bagi mereka. Contohya Hasan Basri Agus,” kata Bahren.

Yang menjadi persoalan, lanjut Bahren adalah caleg yang lima tahun sekali baru memperlihatkan batang hidungnya ke publik. Tidak memiliki prestasi, tidak memiliki track record bagus, tiba-tiba balehonya tersebar. Begitu juga para caleg gagal yang terus mencoba keberuntungan, meski sudah berulang kali tidak terpilih. Bahkan setiap pileg berganti partai.

“Caleg yang seperti itu seharusnya melakukan evaluasi diri. Merebut simpatik dan kepercayaan masyarakat bukanlah hal mudah. Masyarakat menginginkan adanya kontribusi kinerja yang dihasilkan. Itu tidak cukup sekali lima tahun baru nongol,” katanya lagi.

Sementara itu, pengamat politik dari Idea Institue, yakni  Ja’far Ahmad berpendapat tidak ada korelasi untuk memilih caleg muda dengan caleg yang sudah senior ataupun incumbent. Korelasi itu muncul dari kemampuan para caleg dalam memobilisir jaringan yang mereka punya.

            Untuk melakukan itu, tentu membutuhkan sumber daya yang kuat. Salah satunya adalah kemapuan finansial yang dimiliki para caleg. Menurut Jafar, selain strategi, integritas dan kridibelitas, kekuatan finansial juga sangat menentukan untuk mendulang suara. ‘’ Jika punya tiga kekuatan itu si caleg berpeluang besar bisa meraih kursi di senayan,’’ katanya.

Optimis Raih Satu Kursi

 Meski tergolong politisi muda, bukan berarti tidak mampu. Pengalaman Pileg 2014 lalu menjadi pelajaran baginya untuk meraih kursi DPR RI pada Pileg 2019 ini.  Salah seorang politisi muda, Dodi Sularso optimis dia maumpu maraih satu dari delapan kursi DPR RI Dapil Jambi pada 17 April nanti.

            Menurut Dodi, antara dirinya dengan para caleg incumbent dan politisi senior tidak jauh berbeda. Para incumbent dan caleg senior punya basis masa, dirinya juga juga telah memiliki basis masa sendiri. Dodi menyebut basis massa dirinya adalah orang Jawa. Terutama yang berada di Kabupaten Muarojambi, Kota Jambi, dan Batanghari. Dari basis tersebut dia menargetkan  80 ribu suara.

“ Pada Pileg 2014 lalu, perolehan suara saya sendiri tembus 60 ribu. Kalau sekarang sudah dibantu banyak tandem-tandem. Alhamdulillah itu jalan semua. Baleho kita sampai ke ujung desa pun ada,” kata caleg DPR RI yang maju melalui PPP ini.

Dengan berbagai strategi dan upaya yang sudah dilakukan, Dodi oprimis target tersebut bisa dicapai. Dia pun berkomitmen untuk menjadi contoh bagi masyarakat Jambi.  “Kami sudah mempunyai penghidupan sendiri. Kami tidak mencari makan di DPR RI. Apabila saya diamanahkan rakyat Jambi menjadi wakilnya di pusat, maka saya akan mkonsen memperjuangkan aspirasi msayarakat Jambi di pusat,’’ janjinya.

‘’ Saya akan memperjuangkan dana-dana APBN untuk masyarakat Jambi. Kalau saya jadi, maka saya akan bekerja maksimal selama lima tahun dengan membawa oleh-oleh dana pusat untuk rakyat Jambi,” tambahnya.

Dodi menyatakan PPP adalah partai yang tepat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat Jambi. Karena PPP sudah memiliki banyak basis massa dan militan. Dengan modal tersebut, Dodi menyakini PPP memiliki peluang besar untuk membawanya duduk di senayan.

“Satu kursi saya yakin bisa kita raih. Karena dulu kita rangking ke tujuh dengan jumlah suara 104.000. Sekarang kita tidak menargetkan PPP bisa berada di posisi paling atas. Tapi kami menargetkan PPP harus bisa merebut satu kursi di DPR RI,” jelasnya.

Khusus di Jambi, lanjut Dodi, PPP menargetkan 150.000 suara. Semua caleg PPP terus melakukan pergerakan. Bagi dia, persaingan caleg DPR RI antara politisi senior dengan politisi junior, bukanlah ancaman yang serius.

Karena, lanjut dia,  para politisi senior, apalagi yang Incumbent telah memiliki pola gerakan dan strategi tersendiri. Begitu juga dengan dirinya. Namun Dodi menyadari untuk meraih dua kursi di senayan bukanlah pekerjaan mudah. Sebab jumlah partai dan caleg bertambah banyak dari pileg sebelumnya.

“Kami dari caleg PPP memikirkan bagaimana caranya agar diantara kami bisa lolos dan mendulang suara 130 ribu ke atas,” pungkasnya.

            Sementara itu, seorang aktifis muda yang juga advokat dan pemerhati politik di Jambi, 

Ryan Afrianto,SH, mengatakan kontestasi Politik tahun 2019 memiliki atmosfer dan tensi sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Pasalnya kompetisi antara petahana dan para politisi baru yang saling adu ide, gagasan maupun strategi politik. Serta kemungkinan ada beberapa wajah baru di Senayan yang mewakili Provinsi Jambi.

            Dilansir dari SinarJambiBaru.com, Ryan memprediksi, dari ratusan caleg DPR RI Dapil Jambi, ada delapan orang yang berpeluang besar merebut 8 kursi jatah Jambi. Kedelapan Caleg itu yakni Hasan Basri Agus (HBA), Ihsan Yunus (PDIP), Sofyan Ali (PKB), Agus Roni (NasDem), H Bakri (PAN), Ir Tigor Sinaga (PSI), Murady (Gerindra), dan Zulfikar Ahmad (Demokrat).

            “Predisksi ini karena ada beberapa Caleg DPR RI yang sedang tersangkut beberapa masalah. Baik masalah hukum terkait kasus suap ketok palu R-APBD Jambi. Juga ada Caleg DPR RI terkena kasus pelanggaran kampanye sedang diproses di Bawaslu maupun Gakkumdu Provinsi Jambi,” kata Ryan.(rey)

 

 

 

 

 





BERITA BERIKUTNYA