JAMBIONE.COM-Caleg DPR RI Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Dodi Sularso mengimbau masyarakat Jambi untuk tidak terpengaruh dengan hasil hitungan cepat (quick count) lembaga survei tentang perolehan suara pileg 2019 Partai politik (parpol) di Jambi. Menurut Dodi, hasil quick count Indo Barometer yang manyak dikutip media online di Jambi tidak bisa dijadikan patokan atau ukuran perolehan suara parpol di Jambi.
Sebab, menurut Dodi, data Indo Barometer itu merupakan quick count nasional yang di-breakdown per provinsi. ‘’ Perolehan suara partai dari hasil hitung cepat (Quick Qount) nasional di breakdown (dibagi-bagi) per provinsi adalah hal yang tidak tepat. Kenapa tidak tepat, karena kultur politik Jambi tidak sama dengan Jawa," kata Dodi.
‘’ Mana mungkin di Jambi misalnya 22 persen 450 ribu suara. Berarti kalau 100 persen hampir 2 juta penduduk yang nyoblos,’’ tambahnya. Dibandingkan dengan pemilu 2014 lalu, lanjut Dodi, DPT Provinsi Jambi hanya 1.690.000. Tidak sampai 1,7 juta. 2019 ini dia yakin di bawah itu.
Menurut Dodi, sejak pileg digabung dengan pemilihan presiden, pemilih kebanyakan nyoblos presiden. Lalu di kabupaten banyak yang tidak dicoblos DPR RI. Sehingga merosotlah suara sahnya di bawah 1,7 juta. ‘’Bagaimana mungkin satu partai bisa dapat 450 ribu suara. Sementara kalau dihitung 22 persen dikalikan 5 menjadi 100 persen hampir 2 juta. Mana mungkin, karena DPT yang mencoblos DPR RI lebih sedikit dari tahun 2014 lalu,’’ jelasnya.
Seperti diberitakan, hasil quick count lembaga survei Indo Barometer yang diberitakan sejumlah medeia online di Jambi menempatkan Partai Golkar untuk sementara menjadi peraih suara terbanyak di Provinsi Jambi, dengan persentase 22,92 persen. Disusul Partai Gerinda 15,82 persen, PAN 13,77 persen, PDIP 10,9 persen, PKS 7,44 persen, Nasdem 6,32 persen, PKB 5,51 persen, PPP 4,46 persen, dan Demokrat 4,07 persen.
Kemudian Berkarya 3,18 persen, Perindo 2,21 persen, PSI 1,47 persen, PBB 0,66 persen, Hanura 0,62 persen, Garuda 0,39 persen, dan PKPI 0,27 persen. Berdasarkan hasil quick count tersebut, parpol yang memiliki peluang besar untuk mendapatkan kursi DPR RI dari Dapil Provinsi Jambi adalah Golkar. Bahkan partai belambang pohon beringin ini berpeluang meraih dua kursi. Lalu disusul, Gerindra, PAN, PDIP, PKS, Nasdem, dan PKB.
Namun, jika dilihat dari margin of error, PPP dan Demokrat masih berpotensi untuk mendapatkan satu kursi DPR RI. Apalagi masih ada 7 persen suara yang belum masuk.
Menurut Dodi, hasil Survei seperti ini telah menyesatkan masyarakat. Dari hasil survei tersebut, ada beberapa partai yang ditemukan Dodi mengalami peningkatan hingga 100 persen. Dan hal ini menurut Dodi adalah hal yang mustahil.
Dodi mengungkapkan, dirinya bukan tidak percaya dengan hasil survei, namun apabila tidak sesuai seharusnya dilakukan evaluasi. Dia pun berharap kepada lembaga Survei untuk tidak menampilkan margin eror dengan jumlah yang banyak.
"Hasil ini seolah-olah dijumlahkan dengan merata secara nasional, baru dibagikan ke provinsi. Seharusnya hasil itu dirilis agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran," sambung Dodi.
Menurut Dodi, pihaknya juga memantau dan melihat hasil perolehan suara PPP di sejumlah TPS di kecamatan, kabupaten/kota se Provinsi Jambi. Kata dia, perolehan suara PPP mengalami peningkatan dan tidak terlalu jauh dari perolehan partai-partai besar lainnya. Makanya, Dodi berharap kepada lembaga survei untuk tidak serta merta menjastifikasi bahwa PPP tidak lolos ke senayan. "Belum tentu tidak lolos, makanya kita tunggu hasil resmi KPU)," tegasnya.
Selain itu, Dodi juga meyakini tidak ada satu partai pun yang bisa melolos hingga dua kursi. Karena menurutnya hal itu sangat sulit dilakukan. "Tidak gampang dapat dua kursi itu. Karena harus dapat suara 300 ribu ke atas. Jadi saya kira sulit," katanya.
Dodi optimis PPP meraih satu kursi untuk DPR RI. "Meski urutan 7 atau 8, kita sangat optimis bisa ke senayan," tegasnya lagi.
Dengan banyaknya pemberitaan di sejumlah media online, Dodi mengajak masyarakat untuk tidak gampang percaya dengan hasil quick qount yang ditampilkan. Dia mengajak masyarakat Jambi lebih percaya informasi dari KPU, karena hasil itu (quick count tidak rasional. (rey)