Jambione.com, MUARASABAK – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Sadu, Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) makin parah. Akibat minimnya ketersedian air untuk memadamkan api, kebakaran yang sudah berlangsung sejak 10 hari lalu belum juga berhasil dipadamkan. Lahan yang terbakarpun makin luas.
Kepala Desa Remau Baku Tuo, Kecamatan Sadu, Ambo Tuo mengatakan, sekitar 2.500 hektar lahan masyarakat di desanya habis terbakar. Bahkan api juga membakar 8 rumah warga di dua lokasi berbeda. Parahnya lagi, api saat ini terus merambat ke kawasan Taman Nasional Berbak (TNB) dan telah menghanguskan sekitar 1.500 hektar kawasan TNB.
Menurut Ambo Tuo, kebakaran yang terjadi di wilayah desanya merupakan rembetan dari kebakaran di Desa Air Hitam Laut. Karena api tak kunjung berhasil dipadamkan, api terus menjalar ke beberapa desa. Yakni Desa Sungai Sayang dan Desa Remau Baku Tuo.
“ Luas lahan yang terbakar di Desa Remau Baku Tuo saja saat ini mencapai sekitar 2.500 hektar. Seluruhnya merupakan lahan perkebunan masyarakat, yang terdiri dari kelapa, sawit dan pinang. 2.000 hektar diantaranya lahan kebun yang sudah menghasilkan. Sedangkan 500 hektar lagi perkebunan yang masih berumur sekitar dua hingga tiga tahun,” ungkap Ambo Tuo.
Sementara itu, delapan rumah warga yang terbakar, menurut Ambo Tuo terjadi di dua desa. Enam unit di Dusun Sungai Remau sekitar tiga hari lalu dan dua unit rumah lagi di Dusun Baku Tuo yang terjadi pada Selasa (10/9) lalu. “Warga disini hanya bisa pasrah melihat kebun dan rumah mereka ludes terbakar. Karena secanggih apapun alat yang dimiliki tidak ada gunanya. Karena sumber air tidak ada,” jelasnya.
Lebih Lanjut Ambo Tuo mengatakan, kebakaran di TNBT juga cukup parah. Namun, dia menyayangkan tak ada satupun aparat TNB yang berada di lokasi kebakaran. “Ini sebenarnya yang kami sayangkan. Ketika warga mencoba mengambil kayu yang telah mati untuk dijadikan kayu bakar, peralatan warga seperti mesin gergaji dirampas begitu saja. Seakan mereka ingin memperlihatkan, bahwa mereka tegas menjaga kawasan TNB. Tapi ketika kawasan itu terbakar, tak satu pun dari mereka yang berada di lokasi,” katanya.
Disinggung soal kepekatan asap, menurut Ambo Tuo, di lokasi kebakaran jarak pandang hanya sekitar 50 meter. Sementara di Permukiman, kabut asap tidak begitu pekat, karena terbantu dengan tiupan angin yang cukup kencang.
Di bagian lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batanghari mengkalim Karhutla dalam wilayah Kabupaten Batanghari telah mencapai hampir 400 hektar.
"Jumlah itu diperoleh selama Januari-September. Khusus September hampir 60 hektar lahan yang terbakar," kata Syamral Lubis, Sekretaris BPBD Kabupaten Batanghari, Rabu (11/9).
Menurut Syamral, selama September 2019 kebakaran lahan terjadi di empat kecamatan. Yaitu Bajubang, Pemayung, Batin XXIV dan Kecamatan Muara Bulian. Lahan yang terbakar berupa kebun dan lahan kosong. ‘’ Dua hari lalu masih proses pemadaman di Batin XXIV. Lokasi perusahaan membeli lahan semak belukar. Menurut saya, itu bukan terbakar, tapi sengaja di bakar," katanya lagi.
Oleh sebab itu, lanjut Syamral, BPBD Batanghari minta kepada Polsek Batin XXIV untuk mengamankan pelaku pembakaran di perusahaan atau masyarakat. Sebab kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan. Apalagi kondisi asap sudah kelihatan pekat pagi dan sore hari.
"Kalau untuk sekarang, disamping juga kiriman, asap dari Karhutla kita juga berdampak. Pertengahan Agustus kemarin memang kiriman, hotspot kita juga masih sedikit. Kuas lahan yang terbakar juga sedikit dan dibantu hujan. Namun asap masih tebal," ucapnya.
Petugas BPBD Kabupaten Batanghari hingga saat ini masih terus patroli dan melakukan pemadaman di berbagai tempat. Ia berujar musibah Karhutla dominan di bakar. Sebab dengan kondisi suhu udara begini, belum berpotensi terbakar sendiri. "Apakah ada unsur sengaja atau tidak, itu lain hal ya. Ini pasti di bakar," pungkasnya.
Sementara itu, Satuan tugas gabungan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgasgab Karhutla) Provinsi Jambi mendesak perusahaan ikut serta melakukan pemadaman api di luar wilayah konsesi perusahaan yang terdampak. Dansatgasgab Karhutla Provinsi Jambi Jambi, Kolonel Arh Elphis Rudy melalui Kapenrem 042 Gapu Mayor Inf Firdaus mengatakan pihaknya saat ini telah menambah personil ke lokasi kebakaran.
Dia juga meminta agar perusahaan tidak hanya fokus di kawasan konsesinya. "Kalau lahan konsesinya tidak terbakar turunkan tim pemadam milik perusahaan ke kawasan yang terbakar di luar konsesi,"katanya, Rabu (11/9).
Dia menyebutkan tidak hanya perusahaan. Namun diharapkan pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi juga menerjunkan personilnya, seperti satpol PP ke lapangan. "Pemkab dan pemprov diharapkan turut serta,"ujarnya.
Menurut Firdaus, saat ini tim terus melakukan pemadaman secara intensif di lokasi terparah yakni di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Muarojambi. "Daerah lain juga, tapi dua daerah ini parah sehingga kita butuhkan sinergisitas semua pihak. Tidak hanya TNI- Polri, BPBD, Manggala Agni, maupun Masyarakat Peduli Api, tapi semua elemen di kabupaten tersebut,"tegasnya.
Firdaus mengimbau kepada semua pihak untuk tidak membakar sampah, membakar lahan dan membuang puntung rokok sembarangan. "Kita minta semua membantu agar tidak terjadi karhutla,,"pungkasnya.
Informasi yang diperoleh dari dalam internal BMKG Jambi, saat ini titik panas di Jambi masih tergolong banyak. Berdasarkan pantauan Sensor Modis (Satelit Terra & Aqua) dan Suomi NPP dengan tingkat kepercayaan di atas 50 persen, tanggal 11 September 2019 pukul 07.00 WIB s/d jam 16.00 WIB di Wilayah Provinsi Jambi terdapat 185 titik panas (hotspot). Titik panas itu menyebar di Kabupaten Muarojambi 54 titik, Tebo 8 titik, Tanjung Jabung Timur 28 titik, Tanjung Jabung Barat 2 titik, Batanghari 23 titik, Sarolangun 51 titik, Merangin 14 titik, dan Bungo 5 titik. (zal/fai/isw)