JAMBI - Hasil produksi batubara dalam di Provinsi Jambi hingga triwulan ketiga tahun 2019 telah mencapai 6,856 juta Metrik Ton (MT) dari target yang ditentukan sebesar 11,1 juta MT. Hasil ini lebih rendah dibanding triwulan ketiga tahun 2018 lalu, yang mencapai 9 juta MT.
Kabid Pertambangan, Mineral dan Batubara Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi Novaizal Varia Utama mengatakan, hasil produksi tersebut paling besar dari Kabupaten Sarolangun dengan jumlah 3,7 juta MT. Lalu di Tebo 889 ribu MT, Batanghari 1,3 juta MT, Muaro Jambi 85 ribu MT, Tanjung Jabung Barat 3,6 juta MT dan Bungo 753 ribu MT.
"Itu hasil sampai bulan September lalu. Kecuali di Bungo, hasilnya sampai Agustus. Karena masih ada beberapa perusahaan tambang di sana yang belum masukkan datanya. Kalau dari Kabupaten Bungo datanya sudah masuk semua, diperkirakan sekirat 7,1 juta MT pada triwulan ketiga ini," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (22/10).
Dari hasil Produksi 6,856 juta MT itu, Novaizal mengatakan tujuan penjualan domestik mencapai 5,3 juta MT. Sedangkan tujuan luar negeri 863 ribu MT. Menurutnya ada sisa stok sekitar 700 ribu MT lagi yang belum terjual. Stok tersebut masih tertahan di pelabuhan maupun di tambang. "Ekspornya masih ke negara China, India, Vietnam dan Malaysia," ujarnya.
Lebihlanjut, Novaizal mengatakan, sebenarnya target awal ditahun 2019 ini berjumlah 13,6 juta MT. Namun pihak pusat (Kementerian ESDM) meminta pengurangan 15 persen dari target. Hal itu dimaksudkan agar produksi batubara dapat dibatasi, sehingga menjadi 11,1 juta MT.
"Ini dilakukan menngingat faktor harga. Jika banyak batubara yang beredar maka harganya akan turun. Kemudian juga dari aspek konservasi. Sebab kitapun sedang membangun PLTU. Artinya kita harus hemat, supaya produksi batubara dapat berjangka panjang. Jangan nantinya PLTU sudah jadi, tapi batubaranya habis," jelasnya.
Apabila nanti diakhir tahun hasil yang diperoleh melebihi target, Novaizal menyebut tidak jadi masalah. Karena pihaknya telah berupaya untuk membatasi penjualan batubara tersebut.
"Prediksi saya tidak akan lebih dari target yang ditentukan. Karena ini memasuki musim penghujan. Nah kalau sudah musim hujan, produksinya akan susah. Mobilitas di pertambangan juga terhambat. Biasanya lepas triwulan tiga jarang produksinya tinggi," pungkasnya. (Nda)