Jambione.com, – Lin Ayunda Sari dibekuk anggota Satresnarkoba Polrestabes Surabaya karena membawa sabu-sabu (SS) dari Johor Bahru, Malaysia. Caranya tidak lazim. Yaitu, menyembunyikannya di dalam kemaluan dan dubur sekaligus.
Perempuan yang bekerja sebagai terapis spa itu ditangkap di sebuah hotel di Jalan MERR. Barang bukti yang disita dari warga Batam itu sabu-sabu seberat 212 gram. ’’Modus lama, tetapi jarang dilakukan karena memang berbahaya,’’ kata Wakasatresnarkoba Kompol Heru Dwi Purnomo kemarin (10/2).
Dalam penyidikan, Lin mengaku sebagai kurir. Dia bekerja di bawah kendali bandar berinisial RT yang masih menjadi buron. Janda satu anak tersebut berdalih tidak pernah bertemu dengannya. Warga Batam itu menyebut kenal bandar dari teman. ’’Mereka selama ini hanya berkomunikasi lewat telepon,’’ ucap polisi dengan satu melati di pundak tersebut.
Heru menuturkan, narkoba berbentuk serbuk kristal tersebut berasal dari Malaysia. Lin mengambilnya di Johor Bahru. Dia lantas membawanya ke Batam lewat jalur laut dengan menumpang kapal feri. Untuk mengakali pemeriksaan petugas, perempuan 28 tahun itu menyembunyikan narkoba di dalam dubur dan kemaluan.
Lin membaginya dua bagian. Narkoba itu dibungkus dengan selotip. Dibentuk seperti lontong. Lalu dimasukkan ke dubur dan vagina. Untuk meminimalkan rasa sakit, dia melumuri bagian luar selotip dengan gel. ’’Di pelabuhan lolos dari pemeriksaan,’’ ujar Heru. Lin lantas mengeluarkan narkoba tersebut di dalam toilet.
Dari Batam, tersangka membawanya ke Surabaya. Bedanya, jalur yang dipakai adalah udara. Modus untuk mengakali petugas di bandara sama. Dia memasukkannya ke dubur dan kemaluan agar bisa lolos seperti ketika melewati pelabuhan.
Lin yang lolos pemeriksaan di bandara lantas membawa narkoba itu ke sebuah hotel. Dia menyewa kamar sesuai dengan instruksi bandarnya. ’’Narkoba mau diranjau di dekat hotel tersebut,’’ tutur Heru. Namun, rencana itu urung dilakukan. Lin yang masuk pantauan petugas lebih dulu ditangkap. ’’Pemesannya sendiri masih buron,’’ sambungnya.
Mantan KBO Satreskrim Polresta Balerang itu menyatakan, pihaknya masih menelusuri jaringan tersangka. Dia menjelaskan bahwa perburuan dibagi menjadi dua. ’’Mencari pemesan dan bandar yang mengendalikan tersangka,’’ terangnya.
Di tempat yang sama, Lin mengaku penyelundupan tersebut bukan yang pertama. Dia pernah mengirim narkoba dengan modus yang sama akhir tahun lalu. ’’Beratnya saat itu 150 gram,’’ ungkapnya. Dia mengaku diberi upah oleh bandar Rp 15 juta.
Mulus di aksi pertama, dia mengulangi perbuatannya. Lin bahkan tidak canggung membawa narkoba lebih banyak. ’’Upahnya juga lebih dari yang pertama,’’ ucapnya. Menurut dia, bandar pengendalinya menjanjikan bayaran Rp 20 juta.
Hanya, upah itu tidak diterima langsung. Lin menjelaskan, bandar hanya memberinya uang akomodasi perjalanan sebelum paket diterima pemesan.
Hingga kemarin, identitas pemesan narkoba yang dibawa tersangka masih gelap. Wakasatresnarkoba Polrestabes Surabaya Kompol Heru Purnomo butuh waktu untuk memastikannya. ’’Belum terdeteksi sejauh ini,” ungkapnya.
Heru menjelaskan, pengembangan penyelidikan jaringan tersangka masih dilakukan. Salah satunya, mengirim ponsel tersangka ke laboratorium forensik (labfor). ”Ditelusuri dengan siapa saja tersangka selama ini berkomunikasi,” ujarnya.
Diduga, pemesan berasal dari Madura. Dasarnya adalah analisis terhadap penggagalan penyelundupan narkoba sebelumnya. Heru mencontohkan penangkapan kakak beradik Zainab dan Indah Pratiwi akhir tahun lalu. Mereka sama dengan tersangka. Berasal dari Batam. Begitu pula asal narkoba yang dibawa. SS yang disita diketahui dari negeri jiran.
Lokasi penangkapan kurir, lanjut Heru, juga di sebuah hotel. Mereka menyewa kamar untuk bertransaksi dengan pembeli. ”Ada beberapa kemiripan. Hanya, modus penyelundupannya beda,” tuturnya. Kakak beradik yang ditangkap saat itu menyimpan SS di koper. Mereka memilih jalur darat karena pemeriksaannya tidak terlalu ketat.
Heru menambahkan, saat itu pemesannya berasal dari Madura. M. Edi yang jadi pengambil barang haram tersebut hendak membawanya ke Pamekasan. ”Disimpan di sana, kemudian diedarkan,” papar Heru. Wilayah peredarannya di Surabaya dan sekitarnya.(sumber:jawapos.com)