Pengamat: Bisa Rebut Basis NU dan Muhammadiyah

Mau Menang, Kandidat harus Rangkul Ulama

Rabu, 19 Februari 2020 - 08:20:11 WIB - Dibaca: 1889 kali

Pengamat Politik Jambi, Dori Efendi.
Pengamat Politik Jambi, Dori Efendi. (ist/Jambione.com)

Jambione.com, JAMBI -  Menjelang tahap pendaftaran cagub-cawagub, para kandidat bakal calon gubernur (balongub) Jambi kian gencar sosialisiasi ke masyarakat. Namun, untuk memenangkan pertarungan 23 September nanti, mereka tidak cukup hanya turun ke masyarakat. Tapi juga harus bisa merangkul kalangan ulama.

Menurut kalangan pengamat politik Jambi, suara ulama masih sangat berpengaruh dan menjadi panutan sebagian masyarakat Jambi. Oleh sebab itu,  salah satu kunci untuk bisa memenangkan pertarungan, para kandidat harus bisa merangkul kalangan ulama.

Kebetulan dalam waktu dekat, Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Jambi akan menggelar konferwil. Ini bisa menjadi pintu masuk para kandidat untuk mendekati kalangan ulama. Khusunya dari NU.

Pengamat Politik Jambi, Dori Efendi mengatakan, di Indonesia ada dua organisasi besar yang memiliki pengaruh dalam politik. Pertama, Nadhlatul Ulama. Kenapa? NU memiliki basis masa yang mengakar dimulai dari pesantren hingga ke jenjang universitas. Di samping itu, NU juga memiliki masa yang loyal kepada kyai-kyai.

"Ini dapat kita lihat dalam Pilpres lalu. Dimana, basis massa NU berhasil mendudukkan Wakil Mereka sebagai Wapres. Begitupun di Jambi. Meski Konferwil, PWNU tentu memiliki peran penting dalam Pilgub ini. Para Kyai pasti akan didengar oleh golongan Nahdiyin siapa pemimpin yang akan direkomendasi untuk di pilih dalam Pilgub 2020," katanya.

Jika merejuk dari semua calon yang akan maju, menurut Dori, pilihan NU jatuh kemana, dapat dianalisis calon mana yang memiliki sejarah dan kedekatan dengan NU. "Biasanya nasap inilah yang menjadi panduan bagi golongan Nahdiyin untuk menentukan pemimpin ke depan," katanya lagi.

Selain itu, lanjut Dori, bisa juga dinilai dari partai. Jika partai PKB mengusung salah satu calon tentu ini akan membawa kader NU untuk memberikan dukungannya ke sana. "Karena, salah satu corong penting atau kendaraan politik NU ada di Partai tersebut. Jika partai mengusung tentunya rekomendasi sudah di dapat dari para kyai-kyai besar maupun kyai sepuh NU," jelasnya.

Pengamat politik lainnya, Bahren Nurdin mengatakan seyogyanya memang ulama itu adalah salah satu elemen penetralisir dalam urusan politik. Bukan berarti mereka tidak boleh berpolitik. Boleh saja, tetapi mereka jauh lebih penting dikondisikan sebagai penetralisir. Artinya memberikan kesejukan di tengah umat.

"Karena ulama memiliki massa. Artinya pengikut, santri. Sehingga Kalau mereka terpecah otomatis bukan hanya dirinya, tapi juga para pengikutnya," katanya. "Kita berharap sekali ulama menunjukkan netralitasnya di dalam berpolitik," sambungnya.

Menurutnya, mereka jauh lebih bermanfaat untuk umat ketimbang urusan politik. Karena, nanti akan menimbulkan mudhorat yang lebih besar. Namun jika mereka netral, maka mereka tetap bisa masuk ke semua kandidat.

"Khusus Jambi kita berharap para ulama mampu memberikan kesejukan. Karena bagaimana pun ada pilihan personal mereka. Secara organisasi boleh saja mereka berfaliasi dengan penguasa. Tapi secara pribadi mereka punya pilihan juga," ujarnya.

Disinggung bagaimana arah politik para ulama saat suksesi sebelumnya di Provinsi Jambi? Bahren mengatakan tidak temukan ulama yang pecah belah. Walaupun mereka memihak ke salah satu kandidat, tapi tidak menampakkan politik belah bambu. "Ulama di Jambi masih santun dalam berpolitik," katanya.

"Kita berharap, silahkan saja mempunyai hak politik. Akan tetapi jangan memecah belah umat," sebutnya.
Lalu bagaimana dengan kondisi Bacagub saat ini? "Nanti organisasi NU dan Muhammadiyah akan menjadi rebutan para kandidat. Saya rasa biarkan berkembang sebagaimana mestinya," tandasnya.(fey)





BERITA BERIKUTNYA