Para Pengamat Prediksi Tiga Paslon Bertarung di Pilgub, Semua Nomor Satu dari Golkar

CE-Fasha Bisa ‘Adu Kambing’

Rabu, 04 Maret 2020 - 07:39:51 WIB - Dibaca: 5913 kali

(ist/Jambione.com)

Jambione.com, JAMBI – Pasca Musyawarah Daerah (Musda) Golkar,  siapa saja kandidat yang bakal bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi sudah mulai terbaca. Sejumlah pengamat politik dan praktisi memprediksi maksimal hanya ada tiga pasangan calon (Paslon) yang dipastikan bakal bertarung merebut kursi empuk BH 1, 23 September mendatang.

Menariknya, dari tiga pasangan tersebut, posisi nomor satu (cagub) semuanya diprediksi dari kader Golkar. Yaitu Bupati Sarolangun Cek Endra (CE) yang hampir dipastikan akan diusung Golkar. Lalu, Bupati Merangin Al Haris dan Walikota Jambi Sy Fasha. Memang saat ini, ketiganya paling getol bergerak dan memantapkan mesin pemenangannya menuju hajatan paling bergengsi di Provinsi Jambi itu.

Meski demikian, mencermati pergerakan politik saat ini, prediksi tersebut bisa saja meleset. Bisa kemungkinan empat calon, , jika PDIP mengusung Safrial atau PAN merelakan sang ketua DPW H. Bakri maju sebagai wakil Fachrori Umar. Bahkan muncul prediksi yang paling ekstrem, dua calon. CE ‘beradu kambing’ dengan Fasha.

Dari hitungan pembagian kursi, empat paslon memungkinkan. Namun dari jumlah parpol tentunya peluang tersebut sangat kecil. Mengingat 55 kursi di DPRD Provinsi Jambi dimiliki oleh 11 parpol. Dengan rincian PDIP 9 kursi, Demokrat, Gerindra, Golkar dan PAN sama-sama meraih 7 kursi. Lalu, PKS dan PKB yang sama-sama meraih 5 kursi. NasDem 4 kursi, PPP 3 kursi, Hanura 2 kursi, dan terakhir partai Berkarya hanya 1 kursi di parlemen.

Pengamat politik dari Unja Mochammad Farisi mengatakan, paling realistis hanya akan ada tiga paslon yang bakal bertarung di Pilgub Jambi 23 September mendatang. Menurut dia, jika fix CE-Sukandar, maka mereka hanya butuh 4 kursi lagi untuk mencukupi syarat minimal 11 kursi di parlemen untuk mengusung calon. "Kalau jadi berpasangan CE – Sukandar, berarti ada satu parpol hanya ikut saja. Karena keduanya sama-sama dari Golkar. Atau bisa saja ada deal lain," katanya.

Sementara di PDIP, kata dia, ada Abdullah Sani dan Safrial. Kalau Safrial sepertinya ngotot nomor satu. Sedangkan Abdullah Sani sejauh ini masih ke Haris. "Artinya Golkar cari parpol kecil lah," sebutnya.

Kemudian, lanjut dia, , PDIP akan ada satu calon lagi, namun bukanlah ke Fasha. Kemungkinan ke Safrial atau Abdullah Sani dengan Haris. "Haris di ‘PDIP kan’, karena ada Abdullah Sani," jelas dosen Fisipol Unja ini.

Dan satu paslon lagi yakni Walikota Jambi Sy Fasha yang sudah mengantongi dukungan PPP. Hanya saja tinggal mencari 8 kursi lagi untuk mencukupi syarat dukungan 11 kursi. Kabarnya, Fasha juga hampir pasti diuusung oleh PKS dan Hanura. "Masih terbuka untuk tiga paslon," sebutnya.

Lalu bagaimana dengan Ketua DPW PAN Provinsi Jambi, H. Bakri yang 'pede' dengan modal 7 kursi PAN? Farisi belum yakin Bakri serius maju. Karena belum menghidupkan tim pemenangannya. Seharusnya, sebagai anggota DPR RI, Bakri memiliki tim yang tersebar di Provinsi Jambi.

Namun, kata dia, misalkan NasDem berkoalisi dengan PAN, kalau Bakri mau menjadi wakil Fachrori Umar, maka berpeluang bertambah paslon yang bakal bertarung di Pilgub nantinya.
Ia juga mengatakan, petahana Fachrori Umar sendiri belum terlihat pergerakannya. " Belum ada pergerakan yang masif," ujarnya. 

"Yang masif itu ya ketiga kandidat itu (CE, Haris, Fasha). Ini bisa dilihat dari pergerakan tim dan media center," sebutnya. "Kalau dilihat jumlah kursi di parlemen, empat paslon. Tapi kecil kemungkinan," tandasnya.

Pengamat politik dari Unja lainnya, Dori Efendi mengatakan ada lima partai yang memiliki kursi mumpuni. Empat partai dengan 7 kursi dan satu partai dengan 9 kursi. "Jika diambil dari pendakatan ini, tentu calon-calon yang sedang berkampanye sekarang bisa dimajukan semua," jelasnya.

"Untuk calon tentu ini adalah kekuasaan partai yang menentukan. Namun dapat di analisa, kalau terjadi aksi borong partai oleh satu kandidat bisa jadi hanya dua calon yang muncul dalam kontestasi ini," katanya.

Bahkan, kata Dori, sudah ada satu calon yang bukan ketua partai menyatakan diri sudah memiliki partai dan wakil. "Ini artinya sedang terjadi ketakutan politik bahwa partai politik bisa saja tidak mengusungnya," ujarnya.

Ia menjelaskan, pastinya dalam politik setidaknya harus memenuhi dua unsur. Pertama, memiliki kekuasaan. Artinya kekuasaan tersebut dapat memudahkan kandidat untuk melakukan loby politik. Kedua, memiliki dana politik. "Ini juga untuk memudahkan agenda-agenda politik sehingga calon dapat memastikan diri untuk ikut dalam kontestasi," jelas Dori.

"Maka, salah satu calon (CE) sudah bisa diyakini maju karena beliau adalah ketua DPD aklamasi dari konstituen partai," tukasnya.

Sementara itu, sejumlah informasi yang dikumpulkan menyebutkan, pasca Musda Golkar, pergerakan partai makin mencair. Kemungkinan koalisi antara partai partai besar bisa terjadi. Diantaranya, Golkar dan PDIP. Bahkan isu yang berkembang, para petinggi kedua partai sudah intens melakukan pertemuan.

Jika ditarik sejarah ke belakang, kemungkinan bersatunya Golkar dan PDIP sangat mungkin terjadi. PDIP sebagai partai pemenang pileg dan penguasaa saat ini tentu tidak mau kursi Gubernur Jambi lepas dari tangan. Sementara, mereka tidak punya kader potensial yang bisa diandalkan sebagai cagub. Satu satunya peluang besar untuk ‘meraih kekuasaan’, ya merapat ke CE. Sebagai Ketua DPD I Golkar terpilih, CE sudah hampir dipastikan diusung partai beringin tersebut.  

‘’ Sekarang tinggal bagaimana deal deal atau komitmennya saja. PDIP tentu sudah berhitiung. Mereka tentu lebih memilih merapat ke CE yang terpilih sebagai ketua Golkar. Sebagai ketua DPD I, tentu peluang CE diusung Beringin lebih besar dibanding kader Golkar lainnya, Haris dan Fasha,’’ jelas sumber yang sudah lama berpengalaman menjadi tim sukses di Pilkada ini.

Bahkan, dia sependapat dengan prediksi  pengamat politik Dori Efendi yang mengatakan jika terjadi aksi borong partai besar kemungkinan hanya dua paslon yang maju. Kalau dilihat dari pergerakan partai, bisa bisa hanya dua pasangan yang akan bertarung. ‘’ Jika prediksi ekstrem ini yang terjadi. Maka saya meyakini akan terjadi ‘adu kambing’ antara CE versus Fasha,’’ katanya.

Selain dua pasangan, lanjut dia, nanti juga bakal terbentuk dua koalisi. Yaitu partai-partai besar dengan jagoan CE versus Fasha yang membawa gerbong partai partai menengah dan kecil. ‘’ Ini sangat mungkin terjadi. Karena saat ini CE sudah maju selangkah dari dua pesaingnya di Golkar, Haris dan Fasha. Diantara Haris dan Fasha, sepertinya Wali Kota Jambi itu lebih meyakinkan bisa merangkul partai partai gurem. Setidaknya Fasha sudah punya modal PPP. Sementara Haris  sampai saat ini baru sebatas klaim,’’ pungkasnya. (fey/kum)





BERITA BERIKUTNYA