JAMBIONE.COM, JAMBI-Pemerintah Provinsi Jambi harus menyusun skenario pemulihan ekonomi sejak dini. Hal ini penting agar dampak pelemahan ekonomi di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini tidak terlalu dalam.
Sebab memang untuk bisa mengantisipasinya perlu diperhitungkan berdasarkan skenario-skenario yang mungkin terjadi (what-if scenario). Seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi sangat ditentukan oleh bagaimana respon pemangku kepentingan terkait (pemerintah) dan seluruh lapisan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan akibat Covid-19. "Semakin cepat pemulihan aspek kesehatan terkait Covid-19 dapat dilakukan, pemulihan ekonomi juga akan lebih cepat,"kata Kepala BI Perwakilan Provinsi Jambi, Bayu Martanto kepada Jambi One.
BI sendiri terus melakukan koordinasi dan sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait dalam menempuh langkah-langkah kolektif untuk melakukan pemantauan, asesmen, dan mitigasi implikasi penyebaran Covid-19. Berbagai langkah kebijakan BI ditempuh dalam koordinasi yang sangat erat dengan pemerintah dan otoritas terkait mitigasi dampak Covid-19. Hal ini diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. "Dan tentu untuk serta menopang pertumbuhan ekonomi tetap baik dan berdaya tahan,"sambungnya.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa efek pandemi ini sangat luar biasa dirasakan perekonomian satu daerah. Termasuk di Jambi, perekonomian Jambi setidaknya akan meliputi dampak langsung dan dampak lanjutan. Dampak langsung Covid-19 adalah ke sektor yang terkait dengan pergerakan/pertemuan antar manusia, karena adanya penerapan social/psychal distancing, work from home dan peliburan sekolah oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit.
Dengan kondisi ini, sektor usaha yang paling terkena dampak adalah sektor usaha seperti penyediaan akomodasi, makan minum, perdagangan dan transportasi. Memang sektor-sektor usaha tersebut bukan merupakan sektor paling utama di Jambi, maka dampak terhadap perekonomian daerah secara keseluruhan belum signifikan.
"Namun demikian, kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya pengurangan tenaga kerja, baik yang bersifat permanen (PHK), maupun temporer (dirumahkan sesuai kebijakan perusahaan/tempat kerja) pada sektor-sektor usaha tersebut,"ulasnya. Dan secara mikro dampak langsung Covid-19 juga akan dirasakan para pekerja yang bekerja pada sektor informal.
Selain dampak langsung, dampak lanjutan pandemi Covid-19 akan dialami oleh sektor utama daerah yaitu pertanian dan pertambangan. Pertumbuhan ekonomi utama dunia seperti Tiongkok diperkirakan akan melemah cukup signifikan akibat Covid-19.
Pelemahan ekonomi Tiongkok dan dunia secara umum akan berdampak pada berkurangnya permintaan terhadap komoditas energi dan raw material. Akibatnya, harga komoditas seperti CPO, batu bara, karet, dan migas yang merupakan komoditas utama Provinsi Jambi akan menurun. Ini menyusul kondisi oversupply dan tingginya persediaan global. Turunnya permintaan dan harga komoditas global akan berdampak negatif terhadap kinerja sektor utama daerah.
Sementara dari sisi permintaan, lemahnya kinerja sektor utama daerah akan mendorongnya lemahnya tingkat konsumsi masyarakat,. "Dan yang pada gilirannya akan diikuti dengan melemahnya sisi suplai dari sektor-sektor penunjang. Kondisi tersebut berikutnya akan berlanjut pada melemahnya perekonomian daerah secara keseluruhan,"ungkapnya.
Dampak Covid-19 terhadap perekonomian tersebut menjadi masalah yang dialami oleh negara di seluruh dunia, apalagi setiap negara mengutamakan kesehatan masyarakat dalam penanganannya. Upaya yang perlu dilakukan adalah meminimalisir dampak Covid-19.
Minimaliasi dampak yaitu secara mikro dan makro. Secara makro dilakukan terhadap pelaku UMKM, sektor informal dan para pegawai yang mengalami PHK atau dirumahkan.
Adapun secara makro, pemerintah dan otoritas terkait melakukan kebijakan stimulus dan stabilisasi yang tepat dan cepat agar perekonomian tidak terdampak lebih dalam.
Pria asal Solo ini berikutnya mengimbau agar seluruh lapisan masyarakat perlu bersama-sama membantu mencegah penyebaran Covid-19. Ini penting agar dampaknya terhadap kesehatan, ekonomi dan sektor keuangan dapat lebih dibatasi.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti anjuran pemerintah untuk menjaga kebersihan, tetap berada di rumah, lakukan social/pyschal distancing, dan gunakan masker bila mesti berada di luar rumah. Diharapkan dengan upaya yang dilakukan seluruh pihak penyebaran Covid-19 dapat dibatasi dan dihentikan lebih cepat sehingga selanjutnya perekonomian dapat segera bangkit kembali.
BI bersama pemerintah dan otoritas terkait terus melakukan koordinasi. Koordinas dilakukan untuk menjaga inflasi di tingkat daerah tetap rendah dan terkendali. Terutama dalam menjaga ketersediaan pasokan bahan pangan di tengah wabah Covid-19 di Jambi.
Dirinya juga berharap masyarakat tetap tenang dan tetap melakukan pembelian komoditas pangan secara wajar dan tidak berlebihan. Sebab ini juga sebagai langkah konkret untuk menjaga stabilitas perekonomian daerah.
Sejalan dengan pemerintah pusat, Pemerintah Daerah di Jambi juga berupaya melakukan upaya-upaya pencegahan terkait penanggulangan dampak terhadap perekonomian serta upaya realokasi anggaran. Pemerintah Provinsi Jambi sudah melakukan realokasi anggaran yang akan digunakan untuk membantu masyarakat terdampak (secara ekonomi) dan belum tercakup dalam program pemerintah pusat.
Selain itu, BI terus bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam rangka memitigasi dampak Covid-19 terhadap stabilitas inflasi Provinsi Jambi. Melalui berbagai forum koordinasi seperti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan Provinsi Jambi.
"Kami terus berkoordinasi dalam rangka mengantisipasi gejolak harga berbagai komoditas bahan pangan, terutama dengan memastikan ketersediaan pasokan pangan di tengah pandemi corona di Jambi,"jelasnya.
BI, lanjutnya, bersama otoritas terkait terus berkomitmen menjaga kelancaran layanan sistem pembayaran dan transaksi keuangan untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi. Dari sisi tunai, BI memastikan bahwa uang Rupiah yang didistribusikan kepada masyarakat adalah uang Rupiah yang telah melalui proses pengolahan khusus guna meminimalisir penyebaran Covid-19.
Oleh karena itu, BI mengajak dan mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir dalam menggunakan uang sebagai alat transaksi pembayaran tunai. Namun masyarakat diimbau untuk senantiasa menjaga kebersihan, dan setelah memegang uang agar segera membersihkan tangan dengan mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer. "Kami juga mendorong masyarakat dapat meningkatkan penggunaan non tunai untuk melakukan transaksi pembayaran,"tambahnya.(tya)