JAMBIPRIMA.COM, BATANGHARI - Kembali terjun kedunia politik, Ratu Munawaroh, Istri mantan Gubernur Jambi dua periode ini berkeinginan menjadikan Jambi daerah yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
" Saya ingin ikut berbuat, agar Jambi menjadi lebih baik lagi. Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur," ujarnya saat acara pengkuhan tim pemenangan CE- Ratu dikediaman H. Fahmi Oyong, Mersam, kemarin.

Lebih lanjut Ratu mengatakan, ingin menjadikan Jambi Daerah yang penduduknya subur dan makmur, namun tidak lupa untuk bersyukur. Daerah yang seimbang antara kebaikan jasmani dan rohani penduduknya. Daerah yang aman dari musuh, baik dari dalam maupun dari luar.
" Daerah yang maju, baik dalam hal ilmu agama maupun ilmu dunianya. Daerah dengan penguasa yang adil dan shalih, dan penduduk yang hormat dan patuh. Daerah yang di dalamnya terjalin hubungan yang harmonis antara pemimpin dan masyarakatnya, yaitu dengan terwujudnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran," tuturnya, seperti dikutip dari jambilink.com.

Ia juga menyampaikan terimakasih atas support dan dukungan warga Mersam. Ia mengatakan terjun ke politik bukan demi sebuah jabatan atau kehormatan atau kekayaan. Sebab, semua itu sudah pernah ia dapatkan. Sudah pernah ia rasakan. Terjun ke politik, kata Ratu, tak lain karena panggilan ibadah.
Senada, mempertegas pernyataan Ratu, Cek Endra juga megatakan telah menghibahkan jiwa raganya untuk umat. Berlaga di Pilgub, ia hendak membantu memperbaiki ekonomi umat dan memperbaiki akhlak rakyat.

" Kita tidak hanya akan membangun infrastruktur, tapi, lebih jauh dari itu, kita akan membangun sumber daya manusia. Memperbaiki akhlak anak-anak. Membangun daerah yang bernuansa religius. Supaya rahmat Allah turun ke sini. Ini janji Allah.. jika umatnya baik, taat, maka akan diturunkan keberkahan. Ini cita-cita kami. Bagaimana para pejabat nantinya harus turut meramaikan masjid. Masjid harus ramai, menjadi sentral pembangunan,” jelasnya.
Sambil bergurau, Cek Endra lantas bercerita telah menerapkan disiplin di Sarolangun. Pejabat yang ketahuan tidak sholat berjamaah di masjid langsung disangsi. Bahkan, ada beberapa kepala dinas terpaksa non job, gara-gara ketahuan tidak sholat. (*)