Bersama Tim Gabungan, Kapolres Muaro Jambi Tinjau Area Revitalisasi Kanal

Rabu, 24 Februari 2021 - 11:34:20 WIB - Dibaca: 1478 kali

Kapolres Muaro Jambi bersama tim gabungan saat mengarungi sungai menuju lokasi revitalisasi kanal
Kapolres Muaro Jambi bersama tim gabungan saat mengarungi sungai menuju lokasi revitalisasi kanal ()

JAMBIPRIMA.COM, TEBO - Bersama tin gabungan, Kapolres Muaro Jambi meninjau area revitalisasi kanal di lahan gambut, Selasa (23/2).

Penyekatan kanal di lahan gambut tersebut, diketahui dilakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)

" Lahan gambut bilamana terbakar akan sulit dipadamkan. Pencegahan lebih awal dengan merevitalisasi sekat kanal diharapkan akan membasahi lahan gambut dan menjaga tingginya permukaan airnya, sehingga akan selalu basah," kata kasubag Humas polres Muaro Jambi, AKP.  Amradi.

Dia menuturkan, Karhutla terjadi karena faktor kesengajaan dan kelalaian manusia. 

" Penyebab kebakaran terbesar adalah karena ulah manusia yang sengaja membakar untuk membuka lahan atau lalai karena memasak atau saat memancing, mencari madu hutan atau bahkan oleh pembalak kayu," ujar Amradi.

Untuk dirinya menghimbau agar masyarakat m jangan membakar hutan, baik disengaja maupun tidak, yang merugikan  massa depan anak cucu kita sendiri kedepannya. 

Masih adanya kegiatan penebangan hutan secara liar tersebut terbukti, ketika Kapolres Muaro Jambi AKBP Ardiyanto bersama TNI dan BPBD meninjau lokasi sekat kanal lahan gambut yang akan direvitalisasi.

" Saat Patroli ditemukan gubuk yang diduga digunakan sebagai tempat tinggak pembalak kayu, yang melarikan diri ketika melihat petugas datang dari jauh," ungkap Amradi.

Ia juga menerangkan, untuk menuju lokasi kanal lahan gambut bukanlah hal yang mudah. Tim gabungan harus melewati lahan gambut yang permukaannya labil.

" Lahan gambut cukup berat untuk dicapai, karena di kanal banyak terdapat potongan- potongan kayu, dan kaki akan terbenam bila menginjak lahan gambut. Kanal di lahan gambut menuju ke hulu memiliki elevasi tanah yang berbeda, sehingga untuk mencapai hulu, petugas mesti mengangkat kapal ke kanal yang lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya saat akan kembali ke hilir," terang Amradi. (sbh)





BERITA BERIKUTNYA