Oleh : Anggi Yaser Putra

Menanggung Rindu

Minggu, 11 April 2021 - 06:47:13 WIB - Dibaca: 629 kali

()

DUKA GERIMIS

 

Hujan pagi ini menorehkan pilu

Mengingat pesanmu sepekan lalu

Bermeter-meter jarak memandang rindu

Mencoba menjadi batas dalam dingin berpalu

 

Hujan pagi ini berkabut haru

Masih ingat sepekan itu

 

Kini pagi menjadi diri dalam duka gerimis

Masih ingat ketika wajahmu dalam tangis

Kini gerimis begitu lamanya turun

Biaskan barometer dalam diri

 

Hujan pagi ini menorehkan pilu

Wajahmu masih tampak mumbul di kelopak rindu

Biarlah pagi menjadi diri dalam duka gerimis

Januari 2021

 

 

ELEGI

 

Berganti hari dalam jendela-jendela hati

menjamah sepi. Tak lagi ada ragu menurut

menjelma diri. Kini ranumnya kuncup mengepak

diri untuk berdusta. Tak lagi bermakna adanya 

temu dalam manisnya cinta

 

dan demikian adanya dunia. Berganti hari dalam 

jendela-jendela hati menjamah sepi. Aku merasa

tersudutkan perasaan, cinta, warna, dan wangi

mengejar diri mengoyak rasa dan dusta

 

Begitulah adanya kini. Berganti hari dalam

rapuhnya kelopak binar matamu

Aku merasa tersudutkan waktu

Februari 2021

 

 

MEDIO

 

ketika kutuliskan angin kepada hari

mulai terasa renggang jemari di undak-undak waktu kita

ku ulang lagi menuai rasa dibias remang-remang kepergianmu

ku ulang lagi mengunci rapat-rapat tingkap tempat biasa kita tertegun bersama

ku ulang lagi menggores setapak yang pernah kita genggam bersama

 

ketika kutuliskan angin kepada jarak

mulai terasa renggang waktu di sela-sela jemari kita

tentang bersama aku telah titipkan pada hatimu yang mega

kini waktu mulai membelah, menggamangkan tegakku menatap di ujung buram masa nanti

sebentuk mantra di bibirmu membisik di telingaku

 

akhirnya aku mengalah dengan medio ini.

Februari 2021

 

Aku Kamu adalah Kita

 

Adalah malam ini otakku seperti serdadu yang menyodorkan sederetan selongsong rasa mendalam

Menyeret lekuk-lekuk dingin ke bibir yang mulai terpagut merayap dilidah hasrat

Adalah malam ini otakku seperti bendungan yang menampung ribuan kubik darah memusat

Menimbun waktu-waktu rindu kedalam segenggam tangan yang semakin erat

 

Dipundakku ada sebentuk beban yang tak tampak

Dilidahku ada sebentuk kata yang tak terucap

Ditanganku ada sebentuk genggaman yang tak terasa

 

Adalah malam ini seperdua  nyawa sudah kubagi untukmu

Seperduanya lagi aku simpan untuk bingkisan hidupmu nanti

Maret 2021

 

 

Menanggung Rindu

 

Ditingkap aku tertegun

Langit mendung udara basah

Sesekali angin mengejutkan waktu

 

Semenjak hari lalu rindu sudah kupintal 

Biar tak dikata kacang lupakan kulit

Tapi sederetan kisah-kisah baru hinggap tanpa permisi

Mengikat aku pada keadaan

 

Ditingkap aku tertegun

Langit mendung kini menangis

Sesekali angin datang lalu pergi

 

Aku menanggung rindu, biarlah

Rindu ini kutanggung 

April 2021

 

Profil singkat penulis:

Anggi Yaser Putra, Lahir di Payakumbuh 6 April 1988. Alumni S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Padang. Menulis ialah menjejak aksara dari berbagai pengalaman sehingga ia akan terus menulis. Saat ini ia aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 4 Tebo. Selain menulis, pria berkacamata ini juga suka dunia fotografi dan musik. 

Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media Facebook  ANGGI YASER PUTRA, Instagram @anggiyaserputra dan Channel Youtube ANGGI YASER PUTRA MUSIK

 





BERITA BERIKUTNYA