JAMBIPRIMA.COM, JAMBI- Keluarga pasien korban kejahatan yang dibawa ke RSI Arafah Kota Jambi, dan viral dijagat maya pada Sabtu 21/1) lalu, akhirnya angkat bicara. Pihak keluarga menceritakan kronologis mulai dari pasien dibawa ke rumah sakit hingga terjadinya aksi spontan.
Yani, Tante korban menjelaskan kronologis kejadian kepada Jambi One, Selasa (24/1).
Yani mengatakan, saat pertama kali masuk ke rumah sakit, pihaknya mendapatkan keponakannya itu terlantar dan terbaring. Lalu pasien mengerang kesakitan.
"Posisi darah di telinga, kaki, ada semua, celana berlumur darah. Saya bilang bersihkan dulu darah-darah itu," kata Yani.
Ditambahkannya, keponakannya pada saat itu menyebut sesak nafas dan haus.
"Dia bilang (pasien) jangan tinggalin abang, dada abang sesak, dan haus. Perawat bilang jangan dipegang bu, itu luka tusuk semua. Lalu saya sebut, saya mau ambil minum. Perawat bilang jangan dikasih minum bu, dia mau operasi. Eh saya orang tuanya, anak saya mau minum, masak nggak boleh. Lalu perawat bilang boleh, tapi sedikit saja karena mau operasi. Posisi darah masih netes terus," katanya.
Yani juga menanyakan tindakan rumah sakit. Ia juga menanyakan alat rontgen dan keberadaan dokter saat itu.
"Mereka bilang dokter sudah ada dan lagi di jalan. Cuma alat rontgen itu tidak stanby. Pada saat itu, keponakan saya ini masih dalam keadaan sadar. Masih sehat dan masih bisa berbicara, masih dalam keadaan normal. Walaupun darahnya itu masih menetes dan diperban semua," jelasnya.
Setelah menunggu beberapa jam, pihaknya kembali menanyakan keberadaan dokter dan alat rontgen.
"Sudah berapa jam nunggu rontgen dan nunggu dokter itu aja. Diatas itu cuma ada dua, tidak tahu itu infuse apa yang diteteskan disitu. Yang jelas keponakan saya itu tidak dipakaikan oksigen begitu saya masuk. Padahal dia mengerang sesak nafas. Harusnya rumah sakit pakaikan oksigennya dulu," katanya.
Setelah menunggu beberapa jam dan tidak ada tindakan, pihak keluarga meminta untukmemindahkan pasien ke rumah sakit lain.
"Saya heran kenapa nggak dikembalikan ke keluarga korban, seharusnya mereka bilang peralatan kami kurang cukup, kita pindahkan apa gimana. Saya mau pindahkan aja, tapi pihak rumah sakit menahan. Katanya ini semua sudah dalam penanganan dan semua sedang dalam perjalanan," katanya.
Lalu, pukul 02.00 WIB sudah mau di rontgen, kondisi keponakannya sudah semakin lemah.
"Dokter jaga datang duluan, inisiatif langsung mau dibawa ke atas untuk rontgen. Keadaan sudah lemah tapi masih bagus dibawa ke atas, turun ke bawah sudah drop langsung kritis langsung tegang," katanya.
Setelah kritis, petugas memberi tindakan dengan memompa dada dengan kondisi luka yang tidak dijahit.
"Dipompanya bagian dada keponakan anak saya ini, itu baru alat-alat semuanya datang, tapi itu keponakan saya sudah tidak ada lagi (meninggal). Bahkan dadanya ditekan dan dipompa itu saya bilang dan saya tepis, jangan ditekan disitu dok, itukan lobang lukanya. Terus mereka bilang nggak bisa bu, inikan bagian jantungnya. Ditekan 3 sampai 4 orang. Itu darah keluar dari lubang luka itu, apakah tidak ada tindakan lain selain menekan itu, kan ada yang setrum listrik itu kenapa tidak pakai alat itu," katanya.
Istri Korban, Ramadiana mengatakan, jelang 1 jam saat pasien dibawa ke rumah sakit dan belum mendapatkan tindakan, pihak keluarga sudah meminta untuk memindahkan ke rumah sakit lain. Namun pihak rumah sakit menahannya.
"Saya bilang dokter sudah dimana, perawat bilang lagi di TAC, sampai jam setengah dua itu masih di TAC, tante sudah suruh mindahin," katanya.
Kata dia, tepat setelah 3 jam meunggu, baru dokter bedah datang.
"Dari jam setengah 1 saya datang kesana perawat bilang lagi di TAC, sampai jam 3 posisi sudah kritis dan tidak bernyawa lagi baru dokternya datang," katanya.
"Saya tidak senangnya, petugas bilang ke saya, apakah saya bergaji disini, perkataan itu diulang-ulang. Kalau memang tidak bergaji apagunanya didirikan RSI Arafah ini. Itu saya tidak senang omongan mereka," katanya.
Saat ditanya apakah menggunakan BPJS Kesehatan, dia mengatakan menggunakan biaya umum.
"Hari itu juga saya bersedia membayar biaya perawatan, tapi oleh petugas diminta jam 7 dan jam 8 pagi, diminta untuk membayar separo dan tidak harus membayar lunas. Kalau seandainya mereka ngomong berapapun biayanya pasti langsung kami serahkan biayanya dengan pihak rumah sakit," katanya.
Sumiati, Bibi Korban mengatakan pihak keluarga kecewa akibat lambannya penanganan rumah sakit.
"Dokter datang pada saat pasien sudah meninggal, jadi kami kecewa dengan pihak RSI Arafah, kami minta tolong pemerintah menutup RSI Arafah. Kami tidak terima. Kami tetap berjuang karena ini manusia bukan binatang, kami sangat kecewa. Setiap kami tanya mereka bilang dokter dijalan, dokter di jalan. Pelayanan tidak ada hati nurani, kalau soal biaya kami tidak perhitungan, malam itu kami bisa bayarkan. Tapi anak kami selama 3 jam ditelantarkan. Mohon anggota dewan, walikota, gubernur, tolong dengar suara kami. Kami tidak mau ada korban – korban lain. Tolong ini menyangkut nyawa manusia," tambahnya.
Terkait dengan insiden pengrusakan pintu IGD rumah sakit, Yanti mengatakan hal itu dipicu dari pernyataan dokter bedah saat ditanya keluarga korban.
"Kami tanya sama dokter, ini bisa dijahit nggak sebenarnya. Lalu dijawab oleh dokter itu, bisa. Tapi posisi sudah meninggal, apa lagi yang mau dijahit. Wajar aja, semua keluarga diluar itu spontan dan emosi. Sementara kami sudah menunggu 3 jam, emosi spontan itu wajar," katanya.
Katanya, jika ada penanganan yang maksimal oleh pihak rumah sakit, kalaupun nyawa tidak tertolong, pihak keluarga ikhlas.
"Tapi ini karena ada persoalan seperti itu, kalau cepat ditolong, anak ini mudah-mudahan masih selamat. Kalau mati diruang operasi kami puas, ikhlas. Tapi ini 3 jam, menunggu rontgen dan dokter itu, kalau memang nggak cukup alat, seharusnya dirujuk ke tempat lain," pungkasnya.
Terpisah, dr Dian Fitri R, Direktur RS Islam Arafah Kota Jambi saat diminta tanggapan terkait insiden itu Rabu (25/1), ia hanya menjawab singkat melalui pesan Whattsapp.
"Nanti saya infokan kapan bisa saya berikan tanggapan," katanya.