Kota Jambi Butuh Regenerasi Pembatik, Asbaja: Rata-rata Pembatik Sudah Memasuki Usia Senja

Rabu, 01 Maret 2023 - 10:31:26 WIB - Dibaca: 2437 kali

Kota Jambi butuh regenerasi pembatik.
Kota Jambi butuh regenerasi pembatik. (Foto: jambiprima.com/Ahmad )

JAMBIPRIMA.COM,JAMBI- Keberlanjutan batik di Kota Jambi terhambat isu regenerasi. Sebagian generasi muda enggan berkecimpung di industri batik karena pertimbangan ekonomi dan juga minimnya pengetahuan. 

Berdasarkan data Asosiasi Batik Kota Jambi (Asbaja), saat ini jumlah pengrajin batik yang masih aktif berjumlah kurang lebih 80 pengrajin. 

"Kalau di Kota Jambi ini, bisa dikatakan pengrajin batik itu masuk kelas ekonomi menengah atas," ujar Ketua Asbaja Kota Jambi, Raden Akhyar saat mengikuti RKP 2024-2026 di Aula Bappeda Kota Jambi, kemarin.

Kata dia, untuk menjaga keberlangsungan batik Jambi ke depan, ia berharap Pemerintah Kota Jambi bisa mengambil peran. 

"Bisa dimulai dari sekolah dasar, SMP atau SMA. Masuk pada pelajaran muatan lokal. Kita kenalkan mulai dari motif, filosofi, hingga cara membatik yang benar. Sehingga generasi muda kita mengenali batik Jambi secara utuh,".

"Saya kadang prihatin, kalau kumpul para pengrajin batik ini, usianya sudah di atas 50 tahun. Memang harus ada regenerasi," katanya.

Akhyar mengatakan, selain isu regenerasi, Asbaja juga ingin dilibatkan dalam pengembangan pariwisata di Kota Jambi.

"Ada Danau Sipin, Danau Teluk dan Kawasan Seberang. Kita minta dilibatkan dalam pengembangan pariwisata ini," katanya.

Selain itu, perlu peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan juga manajemen, agar batik Jambi ini tetap lestari. "Kita harapkan ada semacam studi banding atau pelatihan-pelatihan yang terus digelar. Dulu ada, tapi sejak pandemi itu tidak pernah lagi. Mudah-mudahan tahun 2023 ini tetap berlanjut," katanya.

Pihaknya juga meminta agar Perwal Nomor 16 Tahun 2022 tentang Pemakaian Batik Jambi asli terus digalakkan. Baik di isntansi pemerintah maupun swasta. 

"Kita sebagai pengrajin turut mengapresiasi atas lahirnya kebijakan itu. Sehingga ini menjaga iklim usaha batik di Jambi tetap kondusif dan berkelanjutan," jelasnya.

Ia juga meminta pemerintah kota Jambi untuk serius dalam menata limbah batik. "Memang sekarang kita belum merasakan dampaknya. Tapi kita harap pemerintah bisa memikirkan regulasinya," ujarnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Wali Kota Jambi, Maulana mengatakan, untuk menarik minat anak muda dalam membatik, mereka harus melihat privilate (pribadi) para pengrajin batik. "Sekarang para pengrajin ini ekonominya luar biasa. Secara ekonomi mapan," katanya.

Kata Maulana, bisnis batik Jambi ini kedepan memang memiliki prospek yang bagus. "Ini yang harus kita sosialisasikan kepada anak muda, supaya mereka termotivasi dan mau menjadi pengrajin," katanya.

Menurut dia, nantinya para anak muda juga bakal dilatih di balai latihan kerja dan pengembangan SDM secara tematik. "Programnya sudah disiapkan, dananya dibiayai pemerintah. Tinggal nanti Asbaja yang mengisi materinya. Untuk di sekolah nanti dinas pendidikan yang mengatur," jelasnya.

Maulana juga menyebut, memang Perwal Nomor 16 Tahun 2022 baru menyesar ASN saja. Tapi kedepan seluruh instansi, dihari tertentu wajib menggunakan batik Jambi. "Bagian Organisasi atau Bagian Hukum mungkin bisa menyusun regulasinya," katanya. (Ahmad)





BERITA BERIKUTNYA