MESKIPUN saat ini sudah dilakukan banyak upaya penegakan kesetaraan gender, namun nyatanya hingga saat ini diskriminasi gender masih saja eksis di kalangan masyarakat. Salah satu alasan utama dari diskrimisi ini ialah masih dielu-elukannya budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan property. Perempuan menjadi sasaran dalam ketidaksetaraan gender karena perempuan dianggap lebih lemah dan tidak memiliki kuasa dibandingkan dengan laki-laki.
Pandangan masyarakat terhadap ketidaksetaraan gender yang ternyata belum dapat dengan cepat berubah dan diubah. Masyarakat dari kalangan keluarga miskin masih menganggap bahwa perempuan tidak pantas untuk disekolahkan setinggi-tingginya dan akan lebih baik jika langsung dinikahkan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, buruh pabrik, dan pekerjaan lain yang tidak menuntut status pendidikan. Berbeda dengan laki-laki yang mendapatkan perlakuan istimewa baik dalam hal pendidikan dan realita kehidupan yang ada. Dengan alasan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, memaksa orang tua menyuruh anak perempuannya untuk bekerja membantu perekonomian keluarga, sedangkan anak laki-laki tetap melanjutkan sekolah. Laki-laki dipandang lebih penting untuk mencari ilmu, sebab kelak kaum laki-laki yang akan menafkahi keluarganya, sedangkan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Dari anggapan ini, pendidikan tinggi dirasa kurang begitu perlu dan sia-sia bagi kaum perempuan dan menimbulkan diskriminasi dalam hal memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 33,76% pemuda di Indonesia mencatatkan usia kawin pertamanya di rentang 19-21 tahun pada 2022. Kemudian, sebanyak 27,07% pemuda di dalam negeri memiliki usia menikah pertama pada 22-24 tahun. Ada juga 19,24% pemuda yang pertama kali menikah saat berusia 16-18 tahun.
Kalau dilihat berdasarkan jenis kelamin, usia menikah pertama pemuda laki-laki dan perempuan tentu aja memiliki perbedaan, dimana laki-laki cenderung memasuki usia pertamanya lebih tua dibandingkan perempuan.
Secara rinci, 35,21% pemuda laki-laki memiliki usia menikah pertama saat 22-24 tahun. Sebanyak 30,52% pemuda laki-laki mencatatkan usia menikah pertama saat berusia 25-30 tahun. Sedangkan, 37,27% pemuda perempuan memiliki usia menikah pertamanya pada 19-21 tahun. Lalu, 26,48% pemuda perempuan menikah pertama kali ketika berusia 16-18 tahun. Jika melihat dari data ini, sudah jelas mayoritas perempuan hanya melanjutkan pendidikannya hanya sebatas SMP dan SMA.
Sebenarnya pemerintah memberikan hak mendapatkan Pendidikan bagi semua kalangan tanpa memandang dari sisi distingsi walaupun belum merata. Hanya saja budaya patriarki mempengaruhi pola pikir manusia yang kemudian menimbulkan asumsi bahwa mau setinggi apapun Pendidikan seorang perempuan, tetap saja akan berakhir menjadi seorang ibu rumah tangga dalam keluarganya kelak. Namun tanpa disadari untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik saja juga membutuhkan Pendidikan yang bagus. Seperti yang ada dalam kutipan Dian Sastrowardoyo, seorang aktris dan ibu rumah tangga yang meraih gelar master di bidang Manajemen Keuangan dari salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia. “Entah akan berkarir atau berumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas”.
Untuk mendidik anak-anak di zaman sekarang tidak hanya membutuhkan seorang ibu yang bisa memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Ibu adalah sosok dimana anak pertama kali belajar dan mengenal dunia. Seorang ibu yang cerdas dan bijak akan mampu mendidik, membesarkan, dan memberikan teladan yang benar bagi anak-anaknya. Seorang ibu harus mampu menjawab setiap pertanyaan anak-anaknya dengan cerdas dan bijak. Ibu adalah sekolah pertama tempat seorang anak belajar.
Seorang wanita juga harus mampu membantu suaminya dalam sebuah kesulitan, memberikan nasehat-nasehat dan menjadi teman bertukar pikiran dengan suaminya. Jika seorang suami memiliki Pendidikan yang tinggi namun istrinya tidak berpendidikan, maka akan tidak rasional bagi suami istri dalam melakukan pertimbangan-pertimbangan dan sulit melakukan keputusan Bersama.
Banyak kaum perempuan yang berasal dari kalangan keluarga kurang mampu yang belum bisa merasakan kesetaraan dalam bidang Pendidikan. Oleh sebab itu, harapan penulis disini yaitu ada baiknya jika budaya patriarki bisa memudar dari kalangan masyarakat dan membiarkan perempuan mendapatkan Pendidikan yang tinggi ataupun setara dengan laki-laki. Karna tidak akan sia-sia bagi seorang perempuan jika ia memiliki Pendidikan yang tinggi namun pada akhirnya akan menjadi seorang ibu rumah tangga. ***