Produksi Karet Jambi Alami Penurunan Sejak 2020, Ini Sebabnya

Rabu, 06 November 2024 - 19:10:06 WIB - Dibaca: 3569 kali

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Produksi karet dari perkebunan rakyat di Provinsi Jambi menunjukkan tren penurunan sejak mencapai puncaknya pada tahun 2020. Berdasarkan data Jambi dalam Angka 2024, produksi karet di provinsi ini mencapai 357.486 ton pada tahun 2020, namun terus menurun hingga mencapai 326.407 ton pada tahun 2023.

Sebelumnya, produksi karet tercatat sebesar 350.045 ton di tahun 2019 dan meningkat pada tahun berikutnya. Setelah itu, terjadi penurunan bertahap: 356.796 ton pada 2021, 339.604 ton pada 2022, dan 326.407 ton pada 2023. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran, terutama karena karet menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi para petani di Jambi. Pemerintah daerah diharapkan mengambil langkah konkret untuk mengatasi penurunan ini, seperti peremajaan tanaman, peningkatan produktivitas, dan pemberian bantuan teknis kepada petani.

Direktur Operasional PT Jambi Waras, Supanto, mengungkapkan bahwa penurunan produksi karet berdampak pada operasional perusahaan yang kini hanya memproduksi sekitar 3.000 ton per bulan. “Semua produk kita ekspor, ke Eropa, Jepang, Amerika, dan negara lainnya. Tapi hanya 30% karet yang kami dapatkan dari petani lokal di Jambi,” jelas Supanto. Sisanya, sekitar 70% bahan baku, perusahaan harus mendatangkan dari luar Jambi karena beberapa perkebunan di wilayah ini melakukan alih tanam dari karet ke sawit.

Supanto mencatat bahwa ketersediaan bahan baku dari karet mengalami penurunan sekitar 30 hingga 40% dibandingkan beberapa tahun lalu. Hal ini disebabkan minat petani yang beralih ke komoditas sawit, yang dianggap lebih menjanjikan dalam hal harga pasar.

Ia juga menyarankan agar pemerintah melalui Dinas Perkebunan Provinsi Jambi lebih aktif dalam menjaga stabilitas harga karet, mengingat harga sawit yang lebih kompetitif. Meski harga karet saat ini cukup baik, tantangan dalam memenuhi permintaan dari pasar internasional juga menjadi kendala. Perang di negara-negara Timur Tengah, misalnya, menghambat ekspor karet ke Eropa karena pengiriman terganggu.

“Kondisi saat ini membuat Indonesia lebih fokus pada pasar Asia karena waktu pengiriman ke Eropa memakan waktu yang lebih lama akibat konflik,” ungkap Supanto. Pihaknya berharap adanya upaya strategis dalam pengelolaan ekspor karet agar tetap mendukung pasar luar negeri, meski tantangan global sedang dihadapi. (Cr04)





BERITA BERIKUTNYA