BPS: Jambi Alami Deflasi 0,27 Persen di Februari 2025, Tarif Listrik Jadi Faktor Utama

Rabu, 05 Maret 2025 - 09:40:16 WIB - Dibaca: 1222 kali

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi (suara jogja)

JAMBIPRIMA.COM, KOTAJAMBI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat deflasi sebesar 0,27 persen (yoy) pada Februari 2025. Deflasi ini dipengaruhi oleh menurunnya harga beberapa komoditas utama, termasuk tarif listrik dan cabai merah.

Kepala BPS Provinsi Jambi, Agus Sudibyo, mengatakan bahwa penurunan tarif listrik memiliki dampak besar terhadap angka inflasi daerah.

"Tarif listrik ini merupakan administered price, atau harga yang ditentukan oleh pemerintah, sehingga Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tidak dapat berbuat banyak," ujar Agus dalam konferensi pers, Senin (3/3/2025).

Menurutnya, tarif listrik menjadi komoditas penimbang terbesar di Jambi. Kenaikan atau penurunan harga listrik akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi atau deflasi di wilayah tersebut.

Komoditas Penyumbang Deflasi di Jambi
Selain tarif listrik yang turun sebesar 1,90 persen, beberapa komoditas lain yang berkontribusi terhadap deflasi di Jambi antara lain Cabai merah turun 0,24 persen, Tomat turun 0,15 persen, Daging ayam ras turun 0,13 persen dan Beras turun 0,10 persen.

BPS juga mencatat bahwa Kota Jambi mengalami deflasi tertinggi sebesar 0,91 persen, sementara Muaro Bungo mengalami inflasi tipis sebesar 0,11 persen, dan Kerinci justru mencatat inflasi sebesar 1,73 persen.

Secara bulanan, Jambi juga mengalami deflasi sebesar 0,60 persen dibandingkan Januari 2025.

Komoditas yang paling berkontribusi dalam deflasi bulanan tersebut antara lain Tarif listrik (0,68 persen), Daging ayam ras (0,30 persen), Bawang merah (0,06 persen), Jengkol (0,05 persen), Tomat (0,02 persen).

Namun, tidak semua harga komoditas mengalami penurunan. Emas perhiasan menjadi komoditas yang menyumbang inflasi tertinggi pada Februari 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain emas, kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng, ikan nila, kopi bubuk, dan bawang merah.

"Kenaikan ini tidak sebesar penurunan tadi, sehingga secara keseluruhan kita tetap mengalami deflasi," tambah Agus.

Sementara itu, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jambi, Johansyah, mengatakan bahwa kebijakan diskon tarif listrik sangat membantu pengendalian inflasi.

"Selain pengaruh tarif listrik, lancarnya pasokan komoditas pangan di Jambi juga turut membantu. Wilayah Kerinci yang sedang panen mampu mensuplai kebutuhan pasar setempat, ditambah pasokan dari Aceh dan Medan yang juga berlimpah," ungkap Johansyah.

Namun, ia mengingatkan bahwa deflasi berturut-turut yang dialami sejak Januari 2025 harus tetap diwaspadai, terutama ketika kebijakan diskon tarif listrik berakhir.

"Pemerintah harus bersiap untuk mengantisipasi kenaikan inflasi. Saat ini, kami juga masih menimbang pengaruh kebijakan diskon tarif angkutan udara, yang diharapkan bisa memberikan dampak positif dalam pengendalian inflasi di Jambi," pungkasnya.

Dengan adanya langkah-langkah antisipasi ini, Pemerintah Provinsi Jambi berharap dapat menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. (Cr04)





BERITA BERIKUTNYA