JAMBIPRIMA.COM, TEBO – Persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Tebo. Keterbatasan armada pengangkut, minimnya peralatan pendukung, serta kurangnya jumlah petugas kebersihan menjadi kendala utama dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di kawasan perkotaan dan pusat aktivitas masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLH-Hub) Kabupaten Tebo, Eryanto, mengakui bahwa persoalan tersebut telah menjadi perhatian pihaknya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi keterbatasan yang ada, termasuk mengajukan penambahan armada pengangkut sampah kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Menurut Eryanto, usulan penambahan armada dan sarana pendukung kebersihan telah disampaikan melalui mekanisme yang berlaku. Pengajuan tersebut diteruskan kepada Bupati Tebo dan dibahas bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), serta ditembuskan kepada DPRD Kabupaten Tebo agar mendapatkan dukungan dalam proses penganggaran.
"Pengajuan penambahan armada sudah kita lakukan. Mekanismenya melalui Bupati, kemudian dibahas bersama TAPD dan juga ditembuskan ke DPRD. Dukungan semua pihak sangat diperlukan karena persoalan sampah merupakan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat," ujar Eryanto saat ditemui di kantornya, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, saat ini kendala terbesar yang dihadapi DLH-Hub bukan hanya keterbatasan armada, tetapi juga minimnya jumlah personel lapangan yang bertugas mengangkut sampah setiap hari. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi pihaknya untuk mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
"Kendala kita saat ini memang pada keterbatasan personel dan peralatan. Namun itu tidak menghalangi kami untuk tetap bekerja maksimal menjalankan tugas kebersihan lingkungan di Kabupaten Tebo," tegasnya.
Untuk mengatasi keterbatasan armada, petugas di lapangan terpaksa meningkatkan frekuensi pengangkutan sampah. Jika biasanya satu kendaraan hanya melakukan satu kali perjalanan, kini harus melakukan dua hingga tiga kali perjalanan dalam sehari agar volume sampah yang terus meningkat tetap dapat terangkut.
Namun kondisi tersebut juga berdampak pada beban kerja petugas. Menurut Eryanto, tenaga angkut sampah di beberapa wilayah, khususnya Kecamatan Rimbo Bujang, kerap mengeluhkan tingginya intensitas pekerjaan akibat banyaknya trip yang harus dilakukan setiap hari.
"Kalau sopir mungkin masih bisa menyesuaikan, tetapi tenaga angkut sering mengeluh karena beban kerjanya semakin berat ketika harus melakukan beberapa kali perjalanan dalam sehari," katanya.
Selain mengajukan penambahan armada melalui pemerintah daerah, Pemkab Tebo juga terus berupaya mencari dukungan dari pemerintah pusat. Bahkan Bupati Tebo disebut telah melakukan audiensi ke sejumlah kementerian guna meminta bantuan kendaraan operasional pengangkut sampah.
"Pengalaman sebelumnya, kementerian yang sering membantu pengadaan armada biasanya dari sektor pekerjaan umum. Kita berharap ada bantuan tambahan untuk mendukung pelayanan kebersihan di daerah," ujarnya.
Saat ini DLH-Hub Tebo hanya memiliki empat unit mobil operasional. Satu unit difokuskan untuk wilayah Sungai Bengkal dan Sungai Keruh, sementara tiga unit lainnya melayani kawasan Tebo Tengah yang memiliki volume sampah cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat petugas sering kewalahan dalam memenuhi kebutuhan pengangkutan sampah setiap harinya.
Selain mobil pengangkut, DLH-Hub juga mengoperasikan sejumlah becak motor (bentor). Namun armada tersebut juga belum mampu mengimbangi peningkatan volume sampah yang terus bertambah.
"Bentor yang selesai bertugas di wilayah perumahan sering kita tarik untuk membantu pengangkutan di jalan lintas karena kebutuhan pelayanan cukup tinggi," jelas Eryanto.
Di sisi lain, Eryanto juga meminta partisipasi masyarakat dalam membantu menciptakan lingkungan yang bersih. Salah satu caranya adalah dengan membuang sampah sesuai jadwal yang telah ditentukan petugas kebersihan.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah Tebo Tengah dan Rimbo Bujang, agar membuang sampah pada malam hari sehingga memudahkan proses pengangkutan pada pagi harinya.
"Kami berharap masyarakat membuang sampah pada malam hari. Petugas biasanya mulai mengangkut sampah sekitar pukul 08.00 WIB. Kalau siang hari masyarakat kembali membuang sampah di lokasi yang sudah dibersihkan, tentu sampah akan menumpuk lagi," keluhnya.
Menurutnya, imbauan tersebut juga telah disampaikan melalui camat dan ketua RT agar diteruskan kepada masyarakat. Dengan disiplin membuang sampah pada waktu yang tepat, lingkungan dapat tetap bersih hingga sore hari.
Eryanto juga menyoroti masih adanya titik-titik pembuangan sampah liar, salah satunya di kawasan Pengkolan Mataram Sakti KM 7. Padahal lokasi tersebut tidak memiliki permukiman penduduk, namun kerap dipenuhi tumpukan sampah yang dibuang oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Meski demikian, DLH-Hub tetap berupaya membersihkan seluruh titik penumpukan sampah karena hal itu merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.
"Bagaimanapun itu tetap tugas kami. Sampah yang menumpuk harus tetap diangkut dan dibersihkan demi menjaga kebersihan lingkungan Kabupaten Tebo," pungkasnya. (DVD)
Operasi Patuh Siginjai 2026 Dimulai, Polres Tebo Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas
DLH Tebo Kekurangan Armada dan Petugas, Persoalan Sampah Kian Menantang
Sekda Dr. Sindi Hadiri Pengajian Akbar Akhirussanah Al-Inayah di Rimbo Bujang
Bupati Tebo Hadiri Pengajian Akbar Akhirussanah ke-37 Ponpes Darul Hikam
Usai Dilantik, Sejumlah Kepsek di Merangin Dikabarkan Ajukan Mundur karena Penempatan Jauh
Malam Hiburan Rakyat Jadi Puncak HUT Kota Jambi, Kemeriahan yang Menggerakkan Ekonomi Warga