JAMBIPRIMA.COM, KOTAJAMBI – Kepala Stasiun BMKG Kelas 1 Sultan Thaha Jambi, Ibnu Sulistyono, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Maret hingga April 2025. Berdasarkan analisis cuaca terkini, sejumlah wilayah di Jambi diprediksi mengalami curah hujan tinggi yang berpotensi menimbulkan dampak seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Dalam keterangannya pada Rapat Penanganan Banjir di Kota Jambi, Selasa (18/3/2025), Ibnu Sulistyono menjelaskan bahwa saat ini Provinsi Jambi masih berada dalam periode musim hujan, dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi sejak Januari hingga Februari. Tren ini diprediksi terus meningkat memasuki Maret dan April sebelum menurun di bulan Mei.
"Curah hujan di Jambi pada bulan Maret-April berada dalam kategori menengah hingga tinggi, berkisar antara 150-400 mm per bulan. Beberapa wilayah seperti Bungo, Tebo, Merangin, dan Sarolangun diprediksi menerima curah hujan tertinggi, mencapai 300-400 mm per bulan," ungkap Ibnu.
Ia juga menambahkan bahwa potensi banjir kategori menengah diprediksi terjadi pada dasarian II Maret 2025 di beberapa wilayah seperti Batanghari, Muaro Jambi, Sarolangun, dan Tanjung Jabung Barat.
Lebih lanjut, BMKG Jambi mencatat bahwa fenomena La Niña lemah saat ini mulai beralih ke kondisi netral, yang berdampak pada peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jambi. Selain itu, Indeks IOD (Indian Ocean Dipole) juga berada pada kondisi netral, yang berarti tidak ada pengaruh signifikan terhadap cuaca ekstrem di wilayah ini.
"Kami juga melihat dinamika atmosfer global, termasuk aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang saat ini aktif di Samudera Hindia bagian barat. Ini akan berkontribusi pada peningkatan curah hujan di wilayah Jambi dalam beberapa pekan ke depan," jelasnya.
Meskipun hujan masih mendominasi, Ibnu menegaskan bahwa mulai Maret hingga Mei 2025, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi berada dalam kategori risiko rendah.
"Namun, masyarakat tetap harus waspada terhadap perubahan kondisi cuaca yang cepat, terutama saat memasuki musim kemarau nanti," katanya.
Sementara itu, BMKG juga mencatat adanya potensi kenaikan tinggi muka air laut di perairan timur Jambi pada Dasarian I dan III Maret 2025. Hal ini dapat mempengaruhi aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir.
Menghadapi puncak musim hujan ini, BMKG Jambi mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang.
"Kami mengingatkan masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan saat cuaca buruk, waspada terhadap pohon tumbang, induksi sambaran petir, dan genangan air yang dapat menyebabkan banjir serta tanah longsor, terutama di daerah dataran tinggi," imbaunya.
BMKG juga menyarankan agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi risiko banjir akibat drainase tersumbat dan selalu memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.
"Kami terus memantau perkembangan cuaca secara real-time dan menginformasikan kepada masyarakat. Silakan akses informasi cuaca di aplikasi BMKG, media sosial, atau melalui peringatan dini yang kami sampaikan," tutup Ibnu Sulistyono. (Cr04)
PT TPIL Tunggak Pembayaran TBS Petani Plasma Rp1,2 Miliar, Wacana Putus Kemitraan Muncul
Kemarau Panjang Bikin Sumur Warga Kering, Sekali Beli Air Harus Rogoh Rp70 Ribu
DPRD Kota Jambi Soroti Dugaan Plagiasi Naskah Akademik Ranperda hingga 60 Persen
Pembelajaran Bahasa Arab di Era Digital Tak Cukup Cuma Nahwu dan Sharaf
Sampah ke TPA Talang Gulo Masih 400 Ton per Hari, Pemilahan dari Rumah Jadi Tantangan
ISPU Jambi Tembus 389, Kabut Asap Mulai Menekan Warga yang Tetap Bekerja
DPRD Kota Jambi Minta Pemkot Awasi Perusahaan, Pastikan THR Karyawan Dibayar Penuh