Dari Pesantren ke Dusun: Wabup Merangin Minta Santri Jadi Benteng Moral Generasi Digital

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:54:57 WIB - Dibaca: 62 kali

Wakil Bupati Merangin A. Khafidh menghadiri wisuda santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Wal Hadits Al-Munawwaroh angkatan ke-20 di Bangko
Wakil Bupati Merangin A. Khafidh menghadiri wisuda santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Wal Hadits Al-Munawwaroh angkatan ke-20 di Bangko (Indra)

JAMBIPRIMA.COM, MERANGIN — Di tengah kekhawatiran meningkatnya pengaruh negatif teknologi digital terhadap anak-anak, Pemerintah Kabupaten Merangin menaruh harapan besar kepada para lulusan pesantren untuk menjadi penjaga moral masyarakat di tingkat desa.

Pesan itu disampaikan Wakil Bupati Merangin, A. Khafidh saat menghadiri acara perpisahan dan wisuda angkatan ke-20 santri dan santriwati Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Wal Hadits Al-Munawwaroh di Kelurahan Dusun Bangko, Kecamatan Bangko, Selasa (19/05).

Sebanyak 32 santri resmi diwisuda dalam kegiatan tersebut, terdiri dari delapan santri putra dan 24 santri putri. Namun bagi pemerintah daerah, wisuda bukanlah garis akhir pendidikan para santri, melainkan awal pengabdian di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Wabup menekankan pentingnya para lulusan pesantren kembali ke dusun masing-masing untuk mengambil peran sosial dan keagamaan, terutama membina anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama yang tidak mengenyam pendidikan pesantren.“Untuk santri dan santriwati yang balik ke dusun, tolong diajak anak-anak yang masih sekolah di SD atau SMP yang tidak masuk pesantren. Kita ingin para santri berkolaborasi, mengajar ngaji. Minimal memanfaatkan waktu yang singkat antara Maghrib sampai Isya,” ujar A. Khafidh.

Santri di Tengah Ancaman Era Gadget

Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan pemerintah daerah terhadap perubahan pola kehidupan anak-anak di era digital. Penggunaan gawai dan perangkat Android yang semakin masif dinilai telah menggeser budaya belajar agama dan interaksi sosial di lingkungan keluarga.

Menurut Wabup, waktu antara Maghrib hingga Isya yang dahulu identik dengan tradisi mengaji kini mulai terkikis oleh aktivitas bermain gim, media sosial, dan konsumsi konten digital tanpa pengawasan.

Karena itu, keberadaan para santri di tengah masyarakat dianggap strategis sebagai “benteng moral” yang mampu menghidupkan kembali tradisi keagamaan di tingkat kampung.

Pendekatan yang diharapkan bukan sekadar ceramah formal, melainkan keterlibatan langsung bersama masyarakat. Para alumni pesantren diminta aktif membangun komunikasi dengan tokoh desa, orang tua, hingga anak-anak untuk menciptakan lingkungan sosial yang religius dan produktif.

“Pengawasan lingkungan terdekat sangat penting agar perkembangan teknologi memberi dampak positif, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Pesantren Diminta Perkuat Pengawasan

Di sisi lain, Wabup juga menyinggung pentingnya pengawasan internal di lingkungan pesantren. Pemerintah daerah, kata dia, ingin seluruh lembaga pendidikan keagamaan memperkuat sistem perlindungan santri dengan melibatkan aparat hukum dan dinas terkait.

Pernyataan itu disampaikan menyusul meningkatnya perhatian publik terhadap sejumlah kasus kekerasan dan pelecehan di lingkungan pendidikan yang belakangan menjadi sorotan di berbagai daerah.

Menurutnya, pesantren harus tetap menjadi ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan dipercaya masyarakat.

“Kita tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena itu pengawasan harus diperkuat bersama,” katanya.

Hafiz Al-Qur’an Punya Peluang Besar ke Perguruan Tinggi

 

Selain mengajak para santri kembali mengabdi di kampung halaman, A. Khafidh juga mendorong lulusan pesantren untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia menyebut saat ini banyak perguruan tinggi negeri membuka jalur khusus bagi hafiz dan hafizah Al-Qur’an, terutama mereka yang hafal 30 juz.

“Kesempatan sekarang ini banyak universitas yang menerima hafiz dan hafizah Al-Qur'an. Terutama yang hafal 30 juz, itu bisa masuk tanpa melalui tes,” jelasnya.

Berdasarkan pengalamannya saat bertugas di tingkat provinsi bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merangin, Misrinaldi, terdapat sejumlah perguruan tinggi ternama yang menyediakan jalur afirmasi bagi penghafal Al-Qur’an.

Beberapa kampus yang disebut di antaranya Universitas Riau serta sejumlah universitas negeri di Medan dan berbagai daerah lain di Indonesia.

Menurut Wabup, kemampuan menghafal Al-Qur’an menunjukkan kapasitas intelektual dan kedisiplinan tinggi yang menjadi nilai tambah di dunia pendidikan tinggi.

“Para hafiz dan hafizah dipandang sebagai orang-orang yang cerdik dan pandai, karena menghafal Al-Qur'an itu tingkat kesulitannya tinggi. Maka dari itu, manfaatkan kesempatan emas ini,” pungkasnya. (Sab))





BERITA BERIKUTNYA