SAH Minta Semua Pihak Waspadai Karhutla di Jambi Saat Musim Kemarau

Rabu, 12 Agustus 2026 - 10:42:17 WIB - Dibaca: 110 kali

Ketua DPD HKTI Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH), saat menyampaikan imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi. Foto: Rahim
Ketua DPD HKTI Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH), saat menyampaikan imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI — — Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH), mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi dan kewaspadaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Tokoh yang akrab disapa SAH itu mengatakan memasuki periode cuaca kering, ancaman karhutla harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, pencegahan tidak boleh baru dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi harus dimulai dari pemetaan wilayah rawan, pemantauan kondisi lahan hingga kesiapan menghadapi potensi titik api.

"Karhutla tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Dibutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah, TNI-Polri, BPBD, dunia usaha, petani dan masyarakat. Semua harus bergerak dalam satu sistem pencegahan dan penanganan yang terkoordinasi," ujar SAH, Rabu (12/8/2026).

SAH menegaskan sektor pertanian dan perkebunan merupakan salah satu sektor yang rentan terdampak karhutla. Kebakaran dapat merusak tanaman, mengganggu aktivitas produksi, menurunkan kualitas lingkungan, hingga berdampak terhadap pendapatan petani.

Karena itu, dia mengajak para petani meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan.

"Petani harus menjadi bagian penting dari sistem pencegahan. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kalau ada indikasi api atau asap, segera laporkan agar bisa ditangani sedini mungkin," tegasnya.

Dorong Deteksi Dini di Desa Rawan

SAH juga mendorong penguatan sistem deteksi dini di desa-desa dan kawasan pertanian yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Menurutnya, ketersediaan sumber air, peralatan pemadaman awal serta jalur komunikasi yang cepat dapat membantu memperkecil risiko kebakaran meluas.

Selain itu, dia meminta dunia usaha, khususnya perusahaan perkebunan, ikut bertanggung jawab menjaga wilayah konsesi dan lingkungan di sekitarnya.

Koordinasi antara perusahaan, pemerintah daerah dan masyarakat, kata SAH, harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya ketika kebakaran terjadi.

"Jangan menunggu api membesar. Ketika muncul tanda-tanda kebakaran, tindakan cepat harus dilakukan. Kecepatan informasi dan respons di lapangan sangat menentukan," katanya.

Karhutla Berdampak ke Banyak Sektor

SAH menilai dampak karhutla jauh lebih luas daripada sekadar kerusakan lahan. Asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi hingga kegiatan ekonomi.

Karena itu, menurut dia, pencegahan karhutla juga merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat.

Dalam konteks pertanian, SAH menekankan perlindungan lingkungan dari karhutla merupakan bagian dari menjaga ketahanan pangan. Lahan produktif harus dilindungi agar petani tetap mampu berproduksi secara berkelanjutan.

"Pertanian membutuhkan lingkungan yang aman dan sumber daya alam yang terjaga. Kalau lahan terbakar, yang dirugikan bukan hanya pemilik lahan, tetapi juga masyarakat dan perekonomian daerah," jelasnya.

SAH berharap seluruh unsur terkait membangun pola koordinasi yang cepat, terpadu dan berkelanjutan selama menghadapi musim kemarau.

"Semangatnya adalah mencegah sebelum terjadi. Dengan koordinasi yang kuat, kewaspadaan masyarakat dan kesiapan seluruh unsur, kita optimistis ancaman karhutla di Jambi dapat ditekan," pungkasnya. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA