JAMBIPRIMA.COM, BUNGO – Ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga bagaimana lahan pertanian tetap produktif dan petani mampu mengelolanya secara berkelanjutan. Di Desa Muara Buat, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui pendampingan langsung kepada kelompok tani.
Babinsa Koramil 416-01/Rantau Pandan, Serda Nafolion, melakukan peninjauan lahan sawah milik kelompok tani di desa tersebut, Minggu (23/8/2026).
Dari hasil data di lapangan, peninjauan ini tidak sekadar melihat kondisi lahan. Babinsa juga berkomunikasi langsung dengan petani untuk mengetahui perkembangan tanaman, aktivitas pengelolaan sawah, hingga kendala yang berpotensi memengaruhi hasil produksi.
Kehadiran Babinsa di tengah lahan pertanian menjadi bagian dari pendampingan terhadap masyarakat di wilayah binaan. Serda Nafolion melihat kondisi sawah dan aktivitas kelompok tani sebagai gambaran langsung mengenai perkembangan sektor pertanian di Desa Muara Buat.
Interaksi dengan petani juga menjadi ruang untuk menyerap informasi dari lapangan. Persoalan yang dihadapi petani dapat diketahui melalui komunikasi langsung, sehingga pendampingan tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi menyentuh kondisi nyata yang dialami masyarakat.
Bagi petani, kondisi lahan dan perkembangan tanaman menjadi faktor penting dalam menentukan hasil panen. Karena itu, pemanfaatan lahan secara optimal dan pengelolaan yang baik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan produktivitas.
Serda Nafolion mendorong para petani agar tetap bersemangat mengelola lahan sawah. Menurutnya, pertanian memiliki posisi penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat.
Ketahanan pangan di tingkat wilayah sangat bergantung pada kemampuan masyarakat mempertahankan produksi pertanian. Lahan yang tersedia perlu dikelola secara optimal agar tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
“Kami akan terus mendukung dan mendampingi para petani di wilayah binaan. Dengan kerja sama dan semangat yang kuat, diharapkan hasil pertanian dapat terus meningkat sehingga ketahanan pangan di wilayah dapat terwujud,” ujar Serda Nafolion.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendampingan Babinsa diarahkan untuk memperkuat hubungan antara aparat kewilayahan dan masyarakat petani. Komunikasi yang terbangun di lapangan menjadi penting untuk mengetahui kebutuhan petani sekaligus mendorong mereka tetap produktif.
Peninjauan sawah juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan.
Kehadiran Babinsa di tengah kelompok tani memperlihatkan bahwa sektor pertanian membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Petani menjadi aktor utama dalam produksi pangan, sementara pendampingan dan koordinasi dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan pertanian.
Di sisi lain, peningkatan produktivitas pertanian juga berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Semakin optimal lahan dikelola dan semakin baik hasil yang diperoleh, semakin besar pula peluang sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap ekonomi keluarga petani.
Karena itu, pendampingan seperti yang dilakukan di Desa Muara Buat memiliki makna lebih luas. Bukan hanya memastikan aktivitas pertanian berjalan, tetapi juga membangun komunikasi agar berbagai persoalan di lapangan dapat diketahui dan dicarikan solusi secara bersama.
Pertanian pada akhirnya menjadi salah satu fondasi ketahanan pangan di tingkat masyarakat. Upaya mempertahankan produktivitas lahan membutuhkan konsistensi, mulai dari pengelolaan sawah hingga pendampingan kepada petani.
Peninjauan yang dilakukan Serda Nafolion menjadi salah satu bentuk kehadiran aparat kewilayahan dalam mendukung proses tersebut.
Dengan komunikasi dan kerja sama yang terus diperkuat, kelompok tani diharapkan mampu mengoptimalkan lahan yang dimiliki. Dari lahan sawah di desa, upaya menjaga ketersediaan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus dibangun secara bertahap.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya program di tingkat kebijakan, tetapi juga pekerjaan nyata yang dimulai dari lahan pertanian dan para petani yang mengelolanya setiap hari. (Sab)
Pemkab Bungo Sampaikan KUA-PPAS APBD 2027, Tekanan Fiskal Capai Rp280 Miliar
Danrem 042/Gapu Pantau Karhutla di Tahura Batanghari, Petugas Dapat Dukungan Vitamin
2 Buaya Tersangkut Saat Warga Bungo Buka Lubuk Larangan, Keduanya Dilepas
Peduli Warga, Babinsa Dampingi Penyaluran BLT DD Triwulan III di Bungo
Polisi Tangkap Pemuda 21 Tahun di Bungo, 3,22 Gram Sabu Disita
Khalis Mustiko Buka Muscam VI, Hananto Kembali Nahkodai Golkar Rimbo Ilir