Empat Titik Api Terpantau, 576 Ribu Liter Air Dikerahkan Padamkan Karhutla Jambi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:14:15 WIB - Dibaca: 89 kali

Polda Jambi Intensifkan Patroli Udara dan Water Bombing Tangani Karhutla. Foto: Dok. Jambiekspress
Polda Jambi Intensifkan Patroli Udara dan Water Bombing Tangani Karhutla. Foto: Dok. Jambiekspress ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi belum sepenuhnya mereda. Di tengah kondisi wilayah yang rawan terbakar, deteksi dini dari udara menjadi salah satu strategi penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Pada Jumat (28/8/2026), Polda Jambi melalui Subsatgas Udara Satgas Karhutla Provinsi Jambi kembali mengintensifkan patroli udara sekaligus operasi pemadaman melalui water bombing.

Patroli menggunakan helikopter Bell 505 PK-ELS. Dari penyisiran udara tersebut, petugas menemukan empat titik fire spot yang tersebar di sejumlah wilayah.

Dua titik berada di wilayah Sungai Gelam dan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Sementara dua titik lainnya terdeteksi di Muara Sabak Barat dan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Temuan ini menunjukkan bahwa potensi karhutla masih menjadi persoalan serius, khususnya di kawasan yang memiliki karakteristik lahan dan vegetasi yang mudah terbakar.

Deteksi dari Udara, Respons Harus Berpacu dengan Api

Dalam penanganan karhutla, waktu menjadi faktor krusial. Titik api yang terdeteksi sejak dini memberikan peluang lebih besar bagi tim gabungan untuk melakukan pemadaman sebelum api meluas.

Karena itu, hasil patroli udara tidak berhenti pada pemantauan. Setiap temuan langsung dikoordinasikan dengan tim di darat untuk menentukan langkah penanganan.

Pemadaman dari udara kemudian dilakukan menggunakan helikopter water bombing milik TNI AU dan BNPB.

Secara keseluruhan, empat helikopter dikerahkan dan telah melakukan 177 kali water bombing, dengan total air yang dijatuhkan mencapai sekitar 576.000 liter.

Besarnya volume air yang dikerahkan menggambarkan bagaimana penanganan karhutla membutuhkan mobilisasi sumber daya yang tidak sedikit. Operasi udara menjadi pelengkap penting bagi tim darat, terutama ketika lokasi kebakaran sulit dijangkau secara langsung.

Namun, water bombing bukan satu-satunya pendekatan.

Bukan Sekadar Memadamkan, tetapi Mengendalikan Risiko

Strategi penanganan karhutla di Jambi juga diarahkan pada upaya mengendalikan kondisi yang berpotensi memicu meluasnya kebakaran.

Polda Jambi turut mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat PK-ALA. Operasi tersebut dilakukan di wilayah Sarolangun dan Merangin.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Upaya modifikasi cuaca menjadi bagian dari strategi untuk membantu menciptakan kondisi yang mendukung pengendalian kebakaran.

Dengan demikian, terdapat beberapa lapis penanganan yang berjalan secara bersamaan: patroli udara untuk menemukan titik api, koordinasi dengan tim darat, water bombing untuk pemadaman, serta operasi modifikasi cuaca sebagai bagian dari mitigasi.

Kolaborasi Jadi Kunci

Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno H. Siregar melalui Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol. Erlan Munaji menegaskan bahwa penanganan karhutla dilakukan secara cepat, terpadu dan berkelanjutan.

“Polda Jambi bersama TNI, BNPB, BMKG, pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus mengoptimalkan patroli udara, deteksi dini, water bombing dan operasi modifikasi cuaca,” ujar Erlan.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa persoalan karhutla tidak dapat ditangani oleh satu institusi saja.

Kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak yang luas, mulai dari kerusakan lingkungan, gangguan aktivitas masyarakat, hingga potensi memburuknya kualitas udara.

Karena itu, koordinasi antara aparat, pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, unsur meteorologi dan masyarakat menjadi bagian penting dari sistem pencegahan.

Masyarakat Tetap Menjadi Garda Terdepan

Di balik penggunaan helikopter dan teknologi pemantauan, pencegahan di tingkat masyarakat tetap menjadi salah satu faktor penentu.

Polda Jambi mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi atau potensi terjadinya karhutla.

Sebab, teknologi hanya dapat mendeteksi dan membantu menangani api. Pencegahan dari sumbernya tetap menjadi langkah paling efektif.

Empat titik fire spot yang ditemukan dari udara pada Jumat menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla masih membutuhkan kewaspadaan tinggi.

177 kali water bombing dengan ratusan ribu liter air menunjukkan besarnya energi yang harus dikeluarkan ketika api telah muncul. Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana memastikan titik api tidak kembali muncul dan berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Di tengah ancaman karhutla yang terus berulang, keberhasilan penanganan pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga dari seberapa efektif seluruh pihak mencegah api baru muncul. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA